Tokoh

Sadhu Sundar Singh

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:35 | Dilihat : 2727

“Rasul dengan Kaki Berdarah”

Ekspresi orang dalam mencintai Tuhan sangat beragam. Ada ekspresi yang dimulai secara verbal, divisualisasi dalam karya seni dengan sentuhan estetika tinggi atau coba diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, hadir di tengah-tengah orang atau komunitas tertentu. Ada juga yang mengekspresikannya dengan cara yang terkesan ekstrem, misalnya hidup askese, menjauh diri dari nafsu keduniawian dan mencoba meneladani kehidupan petualangan Tuhan Yesus, lalu mewartakan kasih dan berita indah dari Tuhan kepada khalayak yang ditemuinya.

Meski tak banyak, namun ada saja orang yang memilih jalan mengekspresikan dan mengaktualisasi dirinya dengan cara seperti ini. Sebut saja Sundar Singh, pria kelahiran Patalia, India Utara, 119 tahun lalu memilih jalan hidupnya menjadi seorang pengembara dengan misi tunggal: memberitakan berita pembebasan dari Kristus ke setiap orang yang ditemuinya.

Jalan hidup yang dipilih Sundar Singh ini berawal dari transformasi spiritual yang dialaminya tepat pada saat ia secara tak sengaja melihat Yesus Kristus dalam suatu visi dan mendengar suara-Nya. Sejak saat itu Singh yang kala itu masih muda (14), menyatakan akan mengikut Kristus ke mana pun juga. Padahal sebelumnya Singh adalah seorang yang sangat benci terhadap para pengikut Kristus, meskipun dia juga pernah mengenyam pendidikan di sekolah misi Kristen. Pria yang berasal dari keluarga penganut Sikh, yang menolak ajaran agama Hindu dan Islam, sering menyerang para utusan Injil, di daerahnya; menganiaya para petobat baru, dan mengejek iman mereka. Lebih mengerikan lagi, sebagai wujud perlawanan kepada orang Kristen, Singh membakar Alkitab di depan kawan-kawannya. Semuanya berakhir setelah pertemuannya secara pribadi dengan Kristus.

Perubahan itu membawa dampak yang luar biasa dalam kehidupan Singh. Setelah dibaptis, tepat di ulang tahunnya yang ke-16, Singh mengambil keputusan untuk mengabdikan diri sepenuhnya untuk Kristus dan pelayanan sosial. Pelayanan itu sekaligus sebagai media penginjilan model presensi agar orang mengenal Kristus dalam kehadirannya di tengah-tengah lingkungan sosialnya seperti pelayanannya di rumah perawatan penderita kusta di Sabathu, tak jauh dari Simla, sambil melayani pasien penyakit kusta.

Tepat pada bulan Oktober 1906, Singh mulai mengadakan perjalanan misinya. Ia berjalan dengan mengenakan jubah berwarna kuning dan surban. Mirip seperti seorang sadhu Hindu, pertapa yang mengabdikan hidupnya kepada para dewa, yang berjalan sambil meminta sedekah di jalan atau duduk, tak bersuara, menjauh dan sering berpakaian kotor, sambil bermeditasi di hutan atau tempat terpencil. Namun demikian Sundar Singh adalah seorang sadhu yang berbeda dengan sadhu Hindu pada umumnya. Ini dilakukannya karena terinspirasi teladan dan cara Yesus melakukan pelayanan-Nya. "Saya tidak layak mengikuti langkah Tuhan saya," katanya, "tetapi, seperti Dia, saya tidak menginginkan rumah, harta. Seperti Dia, saya akan hidup di jalanan, sambil berbagi kehidupan dengan rakyat saya, makan dengan mereka yang memberi tumpangan, dan menceritakan kepada setiap orang tentang kasih Allah."

Jauhnya tempat-tempat yang dikunjunginya tak mengubah niatnya untuk meneruskan perjalanan. Beratnya medan yang dilalui, cuaca yang tak menentu dan makan tak teratur membuatnya menjadi semakin kurus dan terlihat tua meski umurnya masih jauh dari perawakannya. Seringkali kakinya terantuk batu hingga luka. Karena itulah sebagian orang Kristen yang pernah ditemuinya menyebut Singh sebagai "Rasul dengan Kaki Berdarah".

Pada tahun 1909 Singh pernah mengenyam pendidikan teologi di Sekolah Tinggi Anglikan di Lahore. Namun demikian, perlakuan teman-temannya, juga pendidikan dan budaya ala Barat yang ditemuinya di sekolah tersebut membuatnya merasa tak betah. Akhirnya Sing mengundurkan diri dan memilih melanjutkan model pelayanan yang telah dilakoni selama ini. Karena kegigihan dan kesabarannya melakukan perjalanan misinya, banyak kota di India Selatan, Ceylon, serta negara Tibet, Myanmar, Malaysia, Cina dan Jepang disinggahi. Bahkan Inggris, Amerika Serikat, dan Australia pun pernah dijangkaunya tahun 1920.

? Slamet Wiyono/dbs

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top