Tokoh

Gabriel Biel

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:36 | Dilihat : 3197

Mengejar Keselamatan Bersama Tuhan

Diskursus dalam teologi kata orang ibarat sebuah pendulum yang bergerak dari sisi yang satu ke sisi yang lain, terus bergerak dan akan kembali pada tempat semula, lalu berayun lagi. Karena itu jangan kaget kalau di era yang kata orang sudah modern ini, isu teologi lama tetap saja berkembang dan terus dipertanyakan dari generasi yang satu ke generasi yang lain. Salah satunya adalah tentang perdebatan soal keselamatan. Apakah keselamatan itu anugerah atau di dalamnya juga terkandung satu penghargaan Allah terhadap kehendak bebas manusia dan kesediaan secara serius untuk mengejar keselamatan (teologi amal).

Ajaran seperti ini sebenarnya telah berkembang cukup lama. Gabriel Biel adalah salah seorang teolog yang turut mengembangkan dan merumuskan teori keselamatan seperti ini. Pria kelahiran Speier (Jerman) pada pertengahan abad 15 ini memaparkan suatu “urutan penyelamatan” bagi orang berdosa, entah ia orang kafir yang belum dibaptis atau orang Kristen yang telah dibaptis tetapi hidup di luar kasih karunia Allah, karena dosa yang besar – dosa yang membawa maut. Menurut teolog yang pernah belajar di Universitas Heidelberg, Erfurt dan Koln (Jerman) ini, langkah pertama untuk mencapai keselamatan adalah dengan berhenti melakukan dosa dan berbalik pada Allah. Selanjutnya orang yang mengejar keselamatan tadi harus mengasihi Allah sepenuhnya di atas segala sesuatu.

Menurut Gabriel, kesemuanya itu harus dicapai tanpa bantuan, dan harus dengan kehendak bebasnya, tanpa anugerah Roh Kudus. Guru besar di Tubingen, Jerman selatan, yang sekaligus juga rektor tahun 1489 di universitas yang sama; memberi tekanan tentang hal ini dengan mengetengahkan teori bahwa inisiatif manusia ini akan membuatnya layak mendapat anugerah Allah – bukan sebagai upah, melainkan karena kemurahan hati-Nya yang telah menetapkan bahwa Ia akan mengaruniakan mereka yang berusaha sebaik-baiknya.

Gabriel melanjutkan pandangannya tadi dengan uraian bahwa; karena telah menerima anugerah Allah, maka sekarang orang berdosa dalam “keadaan murni” sehingga ia dapat beranjak pada perbuatan-perbuatan baik. Perbuatan ini layak untuk diterima oleh Allah, sebagai pelunasan hutang manusia. Gabriel melihat ada dua “perjanjian” penting dari pihak Allah. Yakni, “perjanjian kemurahan hati” yang di dalamnya Allah menjanjikan untuk memberikan anugerah-Nya kepada mereka yang berusaha sebaik-baiknya; dan perjanjian selanjutnya adalah “perjanjian keadilan”. Melalui perjanjian ini ia menetapkan bahwa mereka yang melakukan pekerjaan baik di bawah kasih karunia patut diterima oleh Dia sebagai orang yang berkebajikan.

Banyak orang menentang pengajaran Gabriel yang memadukan antara kasih karunia Allah dan usaha manusia dalam meraih keselamatannya; yakni memadukan antara doktrin penyelamatan melalui amal dan doktrin penyelamatan berdasarkan anugerah. Orang boleh saja menentang teori Gabriel dengan mengkomparasikan dengan teori baru, namun ada satu hal yang penting untuk ditilik terlebih dahulu. Dengan adanya teologi Gabriel, banyak orang “dipaksa” untuk menyanggah, mengkritisi dan bahkan memberi inspirasi teolog lain untuk menghasilkan karya penting untuk men-cover teologi Gabriel ini. Siapa sangka di antara banyaknya nama-nama ada satu nama yang penting sebagai tonggak reformasi, yakni Martin Luther, sang reformator itu. ? SLAW

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top