Tokoh

Jon Sobrino Sj

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:37 | Dilihat : 2316

Dituduh Mereduksi Ke-Allah-an Yesus

Sejak dulu hingga kini banyak orang selalu mempertanyakan kembali tentang apa dan mengapa teologi Kristen. Tak heran tentunya karena tidak sedikit orang yang kebingungan dengan apa yang dinamakan teologi. Belum lagi tuntutan jaman yang mengharuskan teologi juga dinamis, tidak statis, apa lagi sekadar membawa kristalisasi ajaran lama yang lebih condong ke “barat” di mana teologi hidup dan berkembang dalam konteks Eropa.

Banyak orang menyalahkan mereka yang umumnya kritis dan mempertanyakan kembali soal pengajaran teologi yang kebarat-baratan itu. Tak jarang mereka yang kritis tadi dipandang sebagai sesat atau pembelot – padahal belum tentu demikian.

Jon Sobrino SJ, adalahg seorang teolog pembebasan yang pernah berurusan dengan otoritas gereja karena teologi atau pengajarannya. Jon Sobrino lahir di Bilbao, Baskeland (Spanyol), 27 Desember 1938. Sebelum masuk dalam karya nyata mengekspresikan kasih Tuhan bagi umat, pelayan Tuhan yang peduli dengan wong cilik ini sebelumnya mempersiapkan dirinya terlebih dahulu dengan belajar teologi dan filsafat di St. Louis (USA) dan di Frankfurt, (Jerman).

Setelah gelar doctor berhasil diraihnya, Sobrino mengajar di Universitas José Simeón Cañas di El Salvador. Namun demikian, duduk di depan mahasiswa menelorkan segala ide yang ada di benaknya bukanlah tujuan dan panggilan imannya. Selanjutnya Sobrino ternyata lebih memilih melayani umat secara nyata – khususnya mereka yang tertindas dan terpinggirkan. Hal ini dibuktikannya dengan bergabung sebagai imam Jesuit, dan sejak 1957 Sobrino membuktikannya dengan berkarya di El Salvador.

Kata orang, Jon Sobrino adalah simbol semangat dekonstruksi agama, khususnya semangatnya mengoreksi ajaran. Padahal tidak sepenuhnya benar. Seluruh ide-ide Sobrino lahir karena ekspresi imannya melihat konteks sosial – dan tidak sedikit pun ada angan-angan untuk mengkritisi otoritas gereja apalagi hendak menggugurkan doktrin puncak yang telah ditetapkan. Sebagai seorang teolog pembebasan, Sobrino mengartikan semangat pembebasan secara baru. Semangat pembebasan perlu didasarkan pada gagasan termahsyurnya bahwa percaya pada Allah berarti bersolidaritas dengan kaum tertindas.

Sebagai seorang teolog dengan ide-ide brilian dalam balutan iman ekspresif, Sobrino juga menulis banyak buku menarik, khususnya yang bertemakan tentang ekspresi iman dalam tataran sosial, yang banyak beredar di seminari-seminari dan pusat-pusat pendidikan di Amerika Latin. Dua di antaranya adalah: Jesucristo Liberador, Lectura Historico-Teológica de Jesús de Nazaret – Yesus Kristus Sang Pembebas, Kuliah Historis Teologis Yesus dari Nazaret (Madrid, 1991) dan La fe en Jesucristo. Ensayo desde las víctimas – Percaya akan Yesus Kristus: Tinjauan dari Pihak Korban (San Salvador, 1999).

Buku yang pertama tersebut ditulis dalam bahasa Spanyol dan selanjutnya diterjemahkan ke bahasa Portugis, Inggris, Jerman dan Italia. Sedangkan buku keduanya ditulis dalam bahasa Portugis dan telah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan Italia. Meski sudah banyak beredar dan banyak orang menyukai pemikirannya – kedua buku tersebut dinilai tidak selaras dengan ajaran iman gereja. Ajaran kritis dari Sobrino dianggap menyesatkan dan mengancam integritas iman gereja Katolik Roma. Kongregasi Ajaran Iman Gereja yang dikepalai oleh Kardinal William Levada menemukan bahwa ada beberapa pemikiran kristologis yang tidak sejalan dengan ajaran resmi gereja Katolik. Pemikiran-pemikiran tersebut menyangkut keallahan Yesus, inkarnasi Putra Allah, hubungan antara Yesus Kristus dan Kerajaan Allah dan Yesus Kristus: Arti Penebusan Kematian-Nya.

Otoritas gereja menilai bahwa Sobrino terlalu condong menekankan aspek solidaritas kepada kaum miskin dan tertindas, tetapi kurang memberi tekanan pada aspek iman dan penebusan dari Yesus Kristus. Sobrino juga dituduh mengembangkan pemikiran yang lebih berat pada kemanusiaan Yesus. Dengan notificatio tersebut Vatikan juga mau menegaskan kembali tempat kristologi bukanlah gereja kaum miskin seperti alur pemikiran Sobrino, tetapi iman apostolis yang diwariskan gereja dari generasi ke generasi. Selain itu, Sobrino dituduh mereduksi ke-Allah-an Yesus. ? Slawi/dbs

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top