Tokoh

Ernst Troeltsch, Tokoh Pluralisme

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:37 | Dilihat : 1294

Menghargai The Others, Bentuk Ekspresi Iman

Teologi Protestan merupakan teologi yang menarik. Teologi Protestan bukanlah teologi yang statis, tapi dinamis, bergerak seiring bergulirnya waktu dan jaman (konteks). Teologi selalu mencoba mengerti kebutuhan jamannya dalam kaca mata firman Allah. Termasuk soal seperti apa kita (orang Kristen) harus berelasi dengan sesama, maupun kawulo liyan (the others). Karena itulah, siapa pun yang hendak bergelut dalam persoalan teologi, sudah sepantasnyalah memahami hal ini. Setidaknya itulah yang disampaikan banyak teolog. Seolah mengamini, Ernst Troelstch, seorang teolog Protestan asal Jerman (1865-1923), secara tersirat pun mengatakan hal senada, khususnya menyangkut soal relasi intra maupun antar pemeluk agama dalam konteks plural seperti sekarang ini.

Banyak orang mengenal Ernst Troeltsch sebagai teolog peletak dasar pluralisme – bukan kesan positif yang muncul dari kata tersebut, tapi justru kebalikannya. Tak heran, dengan pandangannya yang kelewat kritis tentang isu pluralisme yang termanifestasi dalam ajaran relativisme, membuat tak sedikit orang di jamannya, bahkan hingga sekarang, gerah dan cenderung mencoba melawan.

Hal ini banyak disebabkan oleh pandangannya yang dinilai kelewat batas. Bagaimana tidak, secara tersirat Ernst Troeltsch seolah mengarahkan agar orang tidak mengabsolutkan suatu ajaran tertentu secara absolut, diikuti dengan “pengakuan” keberadaan the others, baik ajaran maupun iman. Menurutnya, Allah menyatakan

diri-Nya dalam sejarah, dengan memberikan tawaran tentang suatu bentuk tradisi yang sangat imanen (dekat, membumi). Agama merupakan salah satu sarana bagi manusia untuk mengalami kehadiran Allah secara imanen. Dalam hal ini setiap agama memiliki karakter yang sama dalam pengalamannya merasai cinta Allah yang transeden dalam pernyataannya yang imanen.

Ernst Troelstch, dalam salah satu karyanya tentang poisisi Kristen di antara agama-agama dunia menyatakan bahwa semua agama, termasuk Kristen sendiri memiliki elemen kebenaran, namun demikian, bukanlah satu hal yang bijak untuk dimutlakkan. Sebab bagi profesor teologi sistematik di Heidelberg, Berlin ini, konsep ketuhanan di muka bumi ini beragam dan tidak tunggal. Karena itu dengan tidak memutlakkan diri sistem keagamaan tertentu, maka dengan sendirinya sedang menghargai keberadaan ajaran lain yang juga memiliki potensi untuk klaim yang sama.

Pandangan Ernst lain yang tak kalah kontroversialnya adalah soal perbandingan terbalik antara gereja dan sekte. Menurutnya, gereja cenderung menerima ketertiban sosial dan berorientasi pada kuantitas (massa), sedangkan sekte cenderung menekankan sikap individualistik terhadap keselamatan dan persekutuan. Sekte umumnya berasal dari kelas sosial bawah dan cenderung melawan atau acuh terhadap mainstream, masyarakat juga negara. Gereja sendiri merupakan kumpulan orang kelas atas yang ketat menekankan moralitas hubungan baik dengan dunia. Dalam hal ini sekte merujuk pada khotbah Tuhan Yesus di Bukit dan menekankan wahyu tentang penentangan Kerajaan Allah terhadap minat sekuler.

Siapa pun Ernst dan seperti apa teologi dan pengajarannya, tak dapat dipungkiri bahwa ia merupakan teolog Kristen yang pemikirannya kental mewarnai dinamika kekristenan. Penekanannya pada konteks majemuk merupakan satu hal yang menarik, di balik pergumulannya mewujudkan toleransi dalam relasi sosial terhadap the others sebagai bentuk ekspresi keberimanannya. Sebab sebuah relasi yang baik dapat terwujud jika di dalamnya tidak terkandung satu pemutlakan tertentu yang berimbas pada penomorduaan yang lain. ? Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top