Tokoh

Santo Petrus Kanisius, Pujangga Gereja

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:37 | Dilihat : 1030

Perjuangkan Iman, Tidak Harus dengan Kekerasan

“Cara terbaik memperjuangkan iman bukan dengan kekerasan, tetapi dengan berdoa dan bekerja keras”

BUKAN hal asing lagi bila sekelompok orang kerap melakukan tindakan jahat dengan semena-mena mengatasnamakan agama. Dengan mengatasnamakan agama, seolah dia sedang memperjuangkan iman dan keyakinan, yang anehnya lagi, hal itu pun menjadi satu kebanggaan baginya. Pelaku katanya tidak hanya bahagia di dunia, tapi juga suatu keniscayaan bahagia nanti di sorga. Padahal atas nama apa pun, kekerasan sudah seharusnya tidak boleh terjadi.

Adalah Santo Petrus Kanisius, seorang kudus Jesuit (rohaniwan Katolik Roma dari Ordo Serikat Jesus) yang juga dikenal sebagai pujangga gereja di masanya ini membuktikan bahwa memperjuangkan iman itu tidak harus dengan kekerasan. Baginya, kekerasan tiada arti sama sekali bagi progres iman. Memperjuangkan iman seharusnya bukan dengan kekerasan, tetapi dengan berdoa dan bekerja keras.

Kanisius adalah seorang yang cinta damai, mengasihi orang, lagi setia pada gereja. Pria kelahiran 8 Mei 1521 di Nijmegen, Belanda ini adalah seorang yang berwibawa. Tak hanya karena memang dia dilahirkan dari keluarga terpandang, lagi kaya - ayahnya walikota yang cukup berpengaruh di Nijmegen, tapi juga ia seorang yang religius, ditambah sikap bijaknya dalam meresponi segala sesuatu.

Seperti umumnya anak keluarga terpandang yang sangat peduli dengan pendidikan, ayah Kanisius pun bersikap sama, pendidikan bagi anaknya adalah satu hal yang penting. Tak heran jika Kanisius dapat melanjutkan pendidikan tingginya di Köln, Jerman, mengambil ilmu hukum sebagai konsentrasinya. Namun, di tengah jalan, pimpinan Tuhan justru membawanya ke jurusan lain. Jurusan yang membawanya pada karya Tuhan yang agung. Jalan untuk mempersiapkan dirinya dalam melayani Dia di kemudian hari, yakni pendidikan teologi.

Kanisius adalah pemuda yang sangat cerdas. Hal ini terbukti dengan gelar master yang di sandangnya sewaktu masih berumur 19 tahun. Sungguh satu prestasi yang patut diacungi jempol.

Saat-saat studi teologi adalah masa yang sangat penting bagi Kanisius. Di sinilah awal dari terbentuknya suatu pandangan hidup dan pemikiran yang baru. Pandangan hidup baru yang diawali dengan pertemuannya dengan Petrus Faber yang menjadi pembimbing rohani, sekaligus sosok yang membawanya pada pilihan untuk bergabung dalam Serikat Jesus (SJ) pada umur 22 tahun.

Inilah awal penemuan tujuan hidup dari seorang Kanisisus. Semenjak bergabung dengan Serikat Jesuit, Kanisius kemudian mendirikan rumah Ordo SJ untuk pertama kalinya di Jerman. Kesetiannya, juga pengabdiannya yang tulus membuat Kanisius mengalami kemajuan yang cukup pesat. Di kemudian hari bahkan ia dikenal sebagai seorang pengkhotbah yang terkenal. Di samping aktivitas mengajar di Kolese Jesuit pertama di Messina, dia juga merintis pembaharuan universitas di Ingolstadt, Bavaria, yang cukup menyita banyak waktunya.

Justru karena kemajuannya itulah lantas banyak orang pun mulai iri, banyak orang juga lantas tidak menyukainya. Mirip seperti Paulus dalam menanggapi berbagai isu miring atas dirinya, Kanisius pun menanggapinya dengan bijak sembari terus menunjukkan bahwa cara terbaik memperjuangkan iman ialah bukan dengan kekerasan, tetapi dengan berdoa dan bekerja keras.

Kanisius dikenal sebagai seorang pelayan Tuhan yang cukup militan. Karya-karya, peninggalan berupa ladang gembalaan dan pendidikan bagi orang untuk digarap dan di rawat merupakan bukti nyata ketulusan dan kegigihan “sang pujangga gereja” yang juga dikenal dengan julukan “rasul kedua dari Jerman” ini.

Karya tulis bermutu seperti buku Katekhismus menjadi peninggalan Kanisius yang amat berharga bagi umat, sampai sekarang ini. Tak heran jika kemudian Katekhismus yang sampai 200 edisi itu pun kemudian diterjemahkan ke dalam 12 bahasa. Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top