Tokoh

Santa Angela Merici

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:38 | Dilihat : 1820

Anak Yatim Pendiri Ordo Ursulin

MEMBAKTIKAN diri bagi kemanusiaan, khususnya di lingkungan sekitar adalah satu tindakan yang amat terpuji. Tak kalah pentingnya dengan tugas seorang pemimpin atau pejabat yang duduk di kursi pemerintahan. Berawal dari kegelisahan mendalam melihat berbagai hal yang memprihatinkan di sekitar, lalu mencuat dan terekspresi dalam tindakan konkrit dan langsung dialami oleh sekitar.

Itulah bentuk aktualisasi diri yang terekspresi dari jiwa-jiwa yang tidak sekadar mementingkan diri. Nyatanya tak semua orang mampu melakoni, apalagi secara berkelanjutan.

Santa Angela Merici, adalah salah satu teladan, orang yang tidak mementingkan pribadinya semata. Wanita kelahiran 21 Maret 1474 di Desenzano del Garda, Lombardia, Italia Utara adalah sosok "Srikandi" iman yang patut dijadikan teladan. Bagaimana tidak, wanita yang sejak 10 tahun sudah menjadi yatim ini begitu gigih memperjuangkan kaum miskin, melayani, mengasihi, dan mendidik mereka dalam cinta.

Meski sejak kecil Angela sudah ditinggalkan oleh orang tuanya, namun itu tak membuat Angela dan saudaranya telantar. Sungguh beruntung ia mempunyai paman yang baik, yang mau mengasuh dan mendidik mereka dalam lingkungan keluarga yang beriman kepada Tuhan. Hal ini berpengaruh begitu besar dalam seluruh aspek kehidupan dan pelayanannya.

Angela hidup pada masa Renaissance dan Reformasi, suatu masa yang ditandai dengan perbedaan-perbedaan yang sangat mencolok, baik dalam teologi, filsafat maupun budaya. Satu sisi kehidupan masyarakat dan gereja diwarnai dengan euforia kekayaan dan harta, nilai seni yang tinggi, perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat, ditambah bumbu-bumbu situasi peperangan antar-bangsawan atau kerajaan. Di sisi lain masyarakat hidup dalam gelimang kemiskinan secara materi maupun rohani. Rakyat mulai lupa, bahkan cenderung meninggalkan beragam tradisi baik, juga pendidikan moral yang diajarkan gereja.

Dihadapkan pada situasi yang memperihatinkan di mana iman terus-menerus terdegradasi seperti ini, nurani Angela mulai tersentuh. Kerinduannya sejak kecil ingin melayani Tuhan pun seolah telah mendapat jawaban. Sejak saat itu, yang sekaligus memang sejalan dengan visi yang tertanam di hatinya sejak puluhan tahun lamanya, pada 25 November 1535 di kota Brescia, bersama teman-temannya Angela mendirikan semacam paguyuban yang disebutnya sebagai Kompani Santa Ursula: suatu bentuk komunitas baru untuk masa itu.

Komunitas yang beranggotakan wanita-wanita yang diperbolehkan tetap tinggal dengan keluarga, agar mereka tetap berhubungan dengan dunia luar. Hal yang dituntut dari anggota perkumpulan bentukan Angela ini adalah kesediaan mereka melaksanakan tugas-tugas dengan penuh semangat. Paguyuban baru ini merupakan suatu "serikat" religius yang anggota-anggotanya concern pada penghayatan akan kehidupan dan pelayan sosial, dengan cara mempersaksikan cinta kasih Tuhan dan menolong sesama dalam semangat Injil, berita bahagia yang menyelamatkan itu.

Kegigihannya dalam melayani Tuhan bersama-sama dengan sahabat-sahabatnya tidaklah sia-sia. Benih yang mereka tanamkan sekian tahun lamanya, perlahan berevolusi menjadi pohon besar dengan cabang-cabangnya yang kian merayap merambah ke seluruh dunia, melayani umat penuh cinta kasih dengan kehangatan kasih Injil.

Tak dinyana, berawal dari pergumulan seorang wanita yatim lahir sebuah ordo, yakni Ordo Ursulin. Sebuah ordo baru yang disahkan oleh Sri Paus Paulus III (1534 - 1549) pada 25 November 1535. Angela sendiri kemudian diangkat menjadi pimpinan ordo hingga hari kematiannya pada 27 Januari 1540 di Brescia, dekat Desenzano.

Penghargaan lain yang tak kalah mengesankan yang diterima Angela adalah gelar “Beata” oleh Sri Paus Klemens XIII (1758 - 1769) pada 30 April 1768, kemudian ia juga digelari “Santa” pada 31 Mei 1807 oleh Sri Paus Pius VII (1800 - 1823). ? Slamet

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top