Tokoh

Richard Hooker (1554-1600)

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:38 | Dilihat : 2497

Membela Tradisi Lama

PERUBAHAN, termasuk perubahan dari kondisi buruk ke kondisi yang lebih baik, ada kalanya selalu diikuti dengan ketidaknyamanan. Hidup di masa transisi tentu bukan satu hal yang mudah dilakoni. Bagaimana tidak, orang dengan segala hal yang mengkristal sejak lama, termasuk tradisi dan budaya, lantas serta merta akan diganti dengan seseuatu yang baru, mungkinkah dapat secara instan berubah, atau setidaknya menyetujui perubahan tersebut? Tidak hanya “zona nyaman” diri yang bakal digeser, tapi juga struktur berfikir, skema konseptual tentang ide-ie, keyakinan dan bahkan iman yang mungkin akan diganti sama sekali.

Adalah Richard Hooker, seorang teolog Kristen yang berjuang keras melewati masa-masa transisi berat dalam hidupnya. Masa di mana ia harus membela keyakinannya, meskipun itu dianggap orang sebagai pelawan keyakinan kolektif. Reformasi gereja yang terjadi di masanya menuntut perubahan secara radikal dan menyeluruh. Tidak hanya perubahan dari doktrin dan pengajaran Katolik, tapi juga termasuk menyingkirkan tradisi-tradisi gereja yang agung dan dihidupi sejak lama sebagai sesuatu yang baik. Kelompok yang paling gencar memperjuangkan hal ini adalah kumpulan cendekiawan yang pernah mengenyam pendidikan di Jenewa, yang kemudian terkenal dengan sebutan kelompok puritan.

Sebagai seorang yang menghargai budaya dan tradisi serta pengajaran yang baik, meskipun itu bagian dari kristalisasi tradisi lama, Richard menolak perubahan radikal dengan melenyapkan seluruh tradisi tadi. Pria kelahiran Exeter tahun 1553 ini menganggap segala tradisi lama, meskipun itu berasal dari gereja purba sekalipun, tidak boleh dianggap remeh. Menurutnya, sesuatu yang baru kalau tidak menunjukkan banyak harapan, kemungkinan akan ditolak sebelum dicoba dan sampai ada percobaan tidak ada yang akan menerima atau memercayainya, apapun yang dikemukakan atau dijnjikannya. Jadi dalam hal-hl seperti ini sedikit sekali yang diketahui adalah baik, sampai menjadi praktek-praktek lama (Organisasi Gereja 57: 71,3)

Bagi Richard yang pada saat itu menjabat sebagai dosen di Corpus Christi College, yang juga tempat di mana ia pernah belajar, membela keyakinannya tersebut bukanlah semata karena keegoisan pribadinya, tapi juga menghargai sekaligus mendukung kebijakan Ratu Elizabeth I dalam menyelesaikan konflik antara gereja Katolik dan tuntutan reformasi Protestan. Elizabeth menghendaki perubahan yang lebih bersifat konservatif, yakni dengan mempertahankan sejumlah unsur Katolik.

Perlawanan kaum puritan dalam membela kepentingan dan tuntutan reformasinya tidak hanya dalam tataran teori, tapi juga menyentuh aspek praksis, sehingga terjadi dualisme pengajaran dalam gereja. Di mana Walter Travers, seorang puritan berkhotbah menurut pengajaran Jenewa, dan di pagi harinya Richard berkhotbah selaras dengan pengajaran Canterbury.

Pada umumnya kaum puritan menentang banyak tradisi Katolik yang dipertahankan oleh gereja Inggris seperti misalnya penggunaan cincin kawin dan jubah oleh kaum rohaniawan. Mereka berpendapat bahwa Alkitab merupakan petunjuk yang sempurna bagi kehidupan gereja dan tidak boleh ditambahkan upacara-upacara yang tidak terdapat dalam Alkitab. Berbeda dengan kaum puritan, Richard lebih cenderung pada pandangan Luther yang berkeyakinan bahwa upacara-upacara yang bertentangan dengan Alkitab-lah yang tidak diperbolehkan. Ia juga menolak bahwa Alkitab memberi kita semacam rancangan sempurna untuk kehidupan gereja. Menurutnya hal-hal yang berkaitan dengan hukum-hukum gereja dapat dibela atas dasar-dasar lain dari Alkitab, misalnya dengan memberikan peran tersebut kepada karunia ilahi berupa akal maupun tradisi.

Penolakan atas pandangan kaum puritan tersebut, selanjutnya Richard sistematisasikan sedemikian rupa hingga kemudian menghasilkan satu tulisan yang dikenal sebagai karya besar Richard tentang “Hukum-hukum Gereja” meliputi delapan jilid, tetapi hanya lima yang diterbitkan semasa hidupnya, sedangkan bukunya secara lengkap diterbitkan pada 1661, namun banyak orang menganggap karya tersebut telah banyak diubah. ? Slawi/dbs

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top