Tokoh

Rosa Parks, Pejuang Ham

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:39 | Dilihat : 852

Memperjuangkan Persamaan Hak Warga

SETIAP orang yang lahir ke dunia, pastilah dibekali dengan suatu anugerah yang hakiki dari Sang Pencipta. Ya, anugerah yang begitu asasi untuk mendapat perlakuan sama dari orang dan lingkungannya. Tapi bagaimana jika anugerah tersebut ternyata dipinggirkan begitu saja oleh masyarakat sekitar yang menganggap berbeda dengannya? Tentu orang tersebut tidak tinggal diam. Sebab jika hal tersebut didiamkan, pastilah perlakuan yang tak layak diikuti tersebut akan terus berlanjut, bahkan tidak menutup kemungkinan mengkristal sampai ke anak cucu.

Kondisi tidak nyaman seperti inilah yang oleh Martin Luther King Jr. dan Rosa Parks hendak direformasi dan perjuangkan. Mungkin tak banyak orang yang mengenal siapa Rosa Parks, perempuan penjahit asal Montgomery, Alabama ini. Namun demikian, karyanya bagi kemanusiaan yang diwujudkan dalam perjuangan untuk persamaan hak antara kulit hitam dan putih, tentu tak dapat dinafikan begitu saja.

Rosa Parks, yang juga dijuluki sebagai "Ibu Gerakan Hak Sipil Modern" di Amerika ini adalah seorang perempuan yang berasal dari rakyat biasa, dan jemaat gereja yang taat beribadah. Perjuangan yang dilakukannya pun dimulai dari hal-hal praktis yang bersinggungan langsung dengan keseharian orang waktu itu.

Kisahnya, pada 1 Desember 1955, ketika Rosa yang saat itu berusia 42 tahun menaiki sebuah bis dan duduk di bangku khusus orang kulit putih, menjadi penanda awal perjuangan Rosa dalam menuntut haknya. Meskipun Rosa tahu benar bahwa peraturan kota di mana ia tinggal tidak membolehkan orang kulit hitam duduk di kursi baris depan dalam bus, juga mengharuskan mereka memberikan kursinya kepada orang kulit putih yang berdiri di dekatnya – Rosa bergeming saat sopir bus yang berkulit putih memaksa Rosa memberikan kursinya kepada seorang kulit putih. Akibatnya, sopir bus kemudian memanggil polisi, dan wanita yang lahir pada tanggal 4 Februari 1913 ini pun ditahan saat itu juga. Tindakan beraninya itu kemudian menjadi awal dari rangkaian peristiwa yang selamanya mengubah susunan relasi ras di Amerika.

Dalam bukunya, "Quite Strength", Rosa menuliskan rangkaian penolakannya tersebut bukan semata soal kursi dan nyaman diri, "Setelah bertahun-tahun berada di bawah tekanan dan menjadi korban dari perlakuan yang tidak adil terhadap kaumku, tidak memberikan kursiku – dan apa pun yang harus saya hadapi setelah tidak mau memberikan kursi -- bukanlah hal yang penting. Saya tidak takut duduk di kursi yang saya duduki. Yang saya rasakan hanyalah lelah. Lelah ditindas. Lelah melihat perlakuan buruk dan tidak hormat kepada anak-anak, wanita, dan pria hanya karena warna kulit mereka .... Saya benar-benar lelah."

Penahan Rosa pun menuai simpati dari sekumpulan pemimpin orang Afrika-Amerika. Rosa seolah menjadi semacam spirit bagi kaumnya untuk memperjuangkan hak mereka. Penahanan Rosa juga memicu salah satu unjuk rasa paling dramatis tanpa kekerasan dalam sejarah relasi antarras di Amerika ditandai dengan memboikot bus pada 5 Desember 1955, tepat di hari persidangannya.

Seorang pendeta berusia 27 tahun, Martin Luther King Jr., menjadi juru bicara pada acara boikot tersebut. Pidato King Jr. pun segera menarik perhatian banyak media. Lewat aksi yang dikenal dengan "Kekristenan dalam Tindakan" (Christianity in Action) King Jr pun mendapat simpati banyak orang, termasuk dari warga kulit putih.

Perjuangan Rosa, King Jr dan warga Afrika-Amerika pun tak sia-sia, Setahun kemudian, Mahkamah Agung memutuskan bahwa undang-undang pemisahan tempat duduk dalam bis itu melanggar konstitusi. Untuk pertamakalinya pula dalam sejarah Amerika, warga kulit hitam boleh duduk di mana pun mereka mau dalam bus umum. Sepuluh tahun kemudian, tindakan Rosa Parks kemudian membuahkan pembauran di restoran-restoran dan fasilitas-fasilitas publik lainnya. ? Slamet

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top