Tokoh

Phillip Melancthon

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:39 | Dilihat : 1390

Menggali Harta Karun dari Literatur Kuno

TAK banyak orang yang suka bergelut dengan persoalan bahasa – apalagi menyangkut bahasa “kuno” yang tingkat kesulitan mempelajarinya cukup tinggi. Tapi siapa pun yang gemar bergelut dengan literatur dan bahasa kuno pastilah akan mendapatkan pengetahuan lebih – terutama wawasan tentang beragam pengalaman, kisah, juga literatur-literatur atau teori-teori penting yang berkembang di masanya dan berpengaruh besar di kemudian hari.

Phillip Melancthon, pria kelahiran Bretten, Jerman 1508 ini adalah satu dari sekian banyak orang yang gemar meneliti dan mempelajari literatur dan bahasa kuno.

Kegemaran itu pula yang mengantarkan Melancthon kelak menjadi seorang pengajar literatur kuno yang sekaligus menerjemahkan banyak literatur filsafat klasik berbahasa Yunani. Kekuatan Melancthon dalam bidang bahasa ini tak terlepas dari jasa kakeknya yang sadar bakat cucunya dalam hal bahasa. Kakeknya pula yang mengantarkan Melancthon pada seorang guru bahasa yang terkenal di masanya, Johannes Unger.

Di bawah asuhan Unger, Melancthon berkembang menjadi seorang murid yang cerdas. Ia belajar bahasa Yunani dengan Hiltebrant dengan sangat baik. Anak pertama dari lima bersaudara ini kemudian melanjutkan pendidikan ke Universitas Heidelberg. Dia mengambil kuliah-kuliah klasik, termasuk filasafat Yunani kuno, dan dia berhasil meraih gelar BA. Dia tidak berhenti sampai di jenjang itu. Melanctho kemudian melanjutkan kuliahnya di Turbingen, pada 1514, hingga meraih gelar M.A. Menariknya, Melanctho juga tercatat sebagai seorang sarjana termuda dalam bidang sejarah untuk bahasa kuno.

Karya besar

Guna memajukan kariernya, sekaligus keseriusannya dalam bidang bahasa kuno, Melancthon hijrah ke Wittenburg. Di samping mengajar, di Wittenburg Melancthon juga menghasilkan banyak karya, beberapa di antaranya adalah "Loci Communes Rerum Theologicarum" tentang ringkasan pengajaran teologi penting yang bersumber dari kitab Roma, berisikan tentang doktrin anugerah, iman, dosa asal, dan pertobatan tersusun secara sederhana. Buku tersebut kelak juga direkomendasikan Luther menjadi buku pegangan mahasiswa teologia di Wittenberg. Selama di Wittenburgh, Melancthon juga belajar teologi di bawah arahan Luther, dan sebaliknya, Melanchthon mengajarkan bahasa Yunani kepada Luther.

Saat berusia 21, Melancthon juga pernah menerbitkan buku teks “Tata Bahasa Yunani”. Buku ini adalah satu di antara sedikit buku yang populer selama beberapa abad. Putra pertama Georg Schwarzerdt, seorang penyalur tenaga tentara yang cakap di kota Bretten, Jerman selatan ini juga pernah menerbitkan buku bertema etika yang terambil dari bahan-bahan pengajaran juga tulisan-tulisan Aristoteles dan Cicero. Tak hanya itu, Melanchthon juga menulis tiga konfesi besar, yakni "Konfesi Augsburg", "Apologia Konfesi Augsburg", dan "Risalah tentang Kekuasaan dan Keutamaan Paus".

Dengan beragam karya yang dihasilkannya, tak sekadar menunjukkan Melancthon adalah seorang yang pandai di bidangnya – tapi juga layak menyandang gelar pembaharu, yang sekaligus juga sebagai pengajar yang memiliki kemampuan komunikasi melalui tulisan-tulisan dengan sangat baik. Melancthon juga dianggap sebagai seorang pemimpin sekuler dan spiritual sejajar dengan Erasmus dari Rotterdam, Raja Henry VIII, dan John Calvin. Melanchthon juga dikenal sebagai seorang yang baik hati, bermoral tinggi, perhatian, ramah. Dia adalah seorang manusia ideal yang seluruh kehidupannya menekankan pentingnya keahlian, pendidikan, dan kesalehan hidup kristiani. Sebuah perpaduan menarik yang jarang dimiliki orang di masa kini. ? Slawi/dbs

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top