Tokoh

Peter Cartwright, Pengkhotbah

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:39 | Dilihat : 484

Tak Takut Menegur Presiden

"Para pengkhotbah keliling yang pertama kali ada merupakan orang-orang yang lebih hebat dari siapa pun, mampu melayani di tengah kekacauan. Tidak ada seseorang yang benar-benar gagah, berani di mana pun." (Edward Eggleston)

DEWASA ini tak sedikit orang mulai “meragukan” militansi pemberita Injil masa kini – setidaknya jauh berbeda sama sekali dengan semangat dan militansi para penginjil dahulu. Karena itulah, tidak ada salahnya jika kita membuka ulang berkas lama, menilik, mencari dan menjelajah kembali jejak para penginjil terdahulu yang penuh semangat mewartakan berita bahagia.

Bagaimana dengan Peter Cartwright? Ya, Peter Cartwright adalah satu dari sekian banyak penginjil pendahulu yang memiliki semangat yang patut diteladani. Masa muda pria kelahiran Virginia 1 September 1785, dari Keluarga Cartwright terkenal dengan laku yang sama sekali tak terpuji. Bagaimana tidak, hidup Peter setiap harinya diwarnai dengan aktivitas berjudi, berkelahi, dan getol betul ikut judi balap kuda. Itulah masa lalunya. Peter meninggal pada 1872.

Namun setelah mengalami pertobatan, sikap Peter berubah sama sekali. Kerinduanya untuk menceritakan, mempersaksikan hidupnya sebelum dan setelah menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamatnya untuk memberkati banyak orang.

Gayung bersambut, kerinduan yang begitu besar untuk melayani Tuhan seolah mendapat jalan di awal kepindahan keluarganya. Gereja tempat keluarga Peter berjemaat, Gereja Methodis Episkopal, memberikannya ijin untuk membentuk suatu kelompok jemaat baru di daerah di mana ia tinggal nantinya. Pendelegasian tersebut betul-betul diresponi Peter dengan sangat baik. Dengan menunggang kuda ia pun berkhotbah keliling meninggalkan keluarganya untuk menyebarkan Injil ke pedalaman Kentucky, Tennessee, Indiana, Ohio, dan Illinois.

Peter juga secara rutin mengadakan pertemuan kemah dengan umat gembalaannya, sehingga orang-orang dari berbagai daerah dapat berkumpul selama beberapa lama untuk mendengarkan khotbah, pengajaran, dan pemahaman Alkitab darinya. Peter secara akademis memang tidak berpendidikan tinggi layaknya para penginjil lainnya, namun hal ini bukan tidak penting. Menurutnya yang perlu dimiliki seorang penginjil adalah seseorang yang dapat mendaki tunggul pohon, batang, atau dahan tua, atau berdiri di alas tidur di atas kereta, dan dapat memberi pengajaran Alkitab secara sederhana dan gamblang, hinga dapat dimengerti umatnya dengan baik.

Tak heran dengan kesetiaan dan kegigihannya, Peter begitu dikagumi banyak orang, tak sekadar karyanya dalam mengabarkan Injil, tapi juga kegigihannya dalam berjuang melawan perbudakan, perjudian, serta minuman keras, yang mewarnai hidup orang masa itu. Tak hanya itu, Peter juga terkenal sebagai orang yang blak-blakkan dan tak kenal kompromi.

Konon, di suatu hari Minggu saat Peter hendak berkhotbah, ia diberitahu bahwa Presiden Andrew Jackson ada di kongregasi itu. Peter juga diperingatkan untuk tidak mengatakan apa pun yang menyinggung sang Presiden. Alih-alih mengiyakan peringatan itu, Peter justru berdiri untuk berkhotbah dan berkata: "Saya mengerti bahwa Andrew Jackson ada di sini. Saya sudah diminta untuk menjaga ucapan-ucapan saya. Andrew Jackson akan pergi ke neraka bila ia tidak bertobat." Banyak orang duduk terpaku dalam kesenyapan, sembari bertanya-tanya dalam benak mereka bagaimana sang Presiden akan merespons.

Di luar dugaan, seusai kebaktian, Presiden Jackson mencari Peter untuk berjabat tangan sembari berkata, "Pak, kalau saya memiliki resimen yang terdiri dari orang-orang seperti Anda, saya dapat mengalahkan dunia”. ? Slawi/dbs

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top