Tokoh

St. Yohanes Krisostomus

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:40 | Dilihat : 905

Pembaharu Tak Pandang Bulu

DEWASA ini banyak orang yang pandai bicara dan fasih lidah dengan mudahnya menjadi hamba Tuhan. Tak heran jika bobot yang diwartakan pun kurang memuaskan. Hal ini tentu sama sekali berbeda dengan Yohanes Krisostomus, seorang uskup dan pujangga yang hebat di masanya. Pria yang dijuluki si Mulut Emas ini tidak sekadar pandai bicara, tapi memiliki nilai materi khotbah yang tidak dapat disangsikan. Tak heran, Yohanes belajar pidato di bawah asuhan Libanius, seorang kafir yang terpelajar, orator paling terkenal pada jamannya. Yohanes dibentuk menjadi seorang yang militan dan cerdas dalam mewartakan berita bahagia dari Tuhan. Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan begitu saja dari peran didikan dan disiplin orang tuanya yang kebetulan bangsawan.

Yohanes Krisostomus lahir di dunia dalam suasana yang menyedihkan di Antiokia, Syria antara tahun 344 dan 354. Ayahnya meninggal ketika ia masih bayi. Beruntung Yohanes memiliki ibu yang sangat mencintai Tuhan – memilih untuk tidak menikah lagi, dan mencurahkan seluruh perhatiannya untuk membesarkan anak-anaknya menjadi pribadi tangguh dan berilmu tinggi. Harapan ibunda menjadi kenyataan setelah Yohanes menyerahkan dirinya untuk dibaptis pada umur 20 tahun.

Keputusannya inilah yang menjadi titik awal Yohanes untuk mengembangkan sayap-sayap militansinya dalam mewartakan Injil. Segera gaya hidup monastik, (menjauhkan diri dari persoalan duniawi / sekuler dan hidup semata-mata bagi karya rohani) mewarnai hari-harinya. Dengan tekadnya yang bulat untuk mendalami persoalan rohani, Yohanes dengan ikhlas menjalani hidup monastik, mulai di rumahnya dan berlanjut terus hingga dia bergabung dengan sebuah biara di Silpos. Di sinilah Yohanes secara serius mendalami cara hidup membiara dan belajar teologi di bawah bimbingan Diodorus dari Tarsus, pemimpin Sekolah Teologi Antiokia.

Ketekunannya belajar dan menjaga spiritualitas dengan baik pun membuahkan hasil. Seperti kerinduannya, Yohanes kembali ke kota, di mana ia pernah melayani. Di sini dia ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Flavian I dari Antiokia. Di sini Yohanes betul-betul mencurahkan seluruh potensi dan ilmunya dalam pelayanan. Yohanes pun dikenal banyak orang sebagai pengkhotbah ulung, si mulut emas, yang kerap berkhotbah secara spontan tanpa teks. Tiap Yohanes berpidato, orang akan mengangguk-angguk menikmati kepandaiannya dalam berbahasa, kejelasan suara, keindahan gaya bicara, dan tak lupa kedalaman pembahasan Alkitabnya.

Selain pandai bicara Yohanes juga dikenal sebagai orang yang produktif. Ia banyak menulis beragam esai-esai yang menarik. Salah satu karyanya yang terkenal berjudul "Keimaman" (390). Melihat kegigihan dan keseriusannya dalam melayani gereja pun segera memberinya gelar kehormatan sebagai doctor ecclesiae (pujangga gereja), terutama karena ratusan homili-homilinya (khotbah), yang umumnya merupakan komentar-komentar Kitab-kitab utama dalam Perjanjian Lama dan Baru.

Pada 398 Yohanes dipromosikan sebagai uskup ke-12 sekaligus menjadi salah satu panutan gereja. Namun situasi sosial saat itu tidak mendukung. Moralitas penduduk kota sangat merosot. Ini menstimulusnya untuk segera membuat gerakan pembaharuan hidup moral di seluruh kota, termasuk kalangan rohaniwan. Kepiawaiannya berpidato dimanfaatkan betul untuk menyukseskan gerakan itu. Khotbah-khotbah yang disampaikannya mengena, tegas dan blak-blakan. Karena itulah Yohanes dibenci oleh pembesar-pembesar kota, bahkan rohaniawan lainnya. Yohanes pun sempat dikucilkan karena programnnya itu, bahkan sempat diasingkan karena kritikannya yang pedas terhadap Kaisar (wanita) Eudogia dan pembantu-pembantunya – hingga akhir hayatnya. ? Slamet

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top