Tokoh

Gerrit Berkouwer, Teolog

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:40 | Dilihat : 721

Bahasa Alkitab, Kaya Unsur Seni dan Sastra

ALKITAB merupakan kumpulan tulisan yang diilhamkan Allah untuk memberikan petunjuk-petunjuk praktis yang berkuasa untuk mendidik, mengajar, menegur, bahkan mengubah seseorang. Alkitab dalam bahasa aslinya pun memiliki unsur seni dan sastra yang kaya. Tak heran, banyak orang khususnya yang serius mempelajarinya, tercengang dibuatnya. Namun sangat disayangkan jumlahnya tak banyak. Ironisnya dewasa ini orang justru lebih senang membaca buku tentang Alkitab daripada Alkitab itu sendiri. Alhasil kekayaan makna yang didapat tak lebih dari tafsiran yang disampaikan. Bahkan tak sedikit di antara mereka hanya sekadar pandai beretorika tanpa bisa mendaratkan ke kebutuhan nyata, dalam arti menyampaikan ke jemaat.

“Teologi itu bukan sistem yang rumit, yang diciptakan para pakar sebagai hiburan mereka sendiri di kesenyapan menara gadingnya. Teologi itu harus mempunyai arti juga bagi masa-masa yang tidak tenang. Namun relevansinya hanya dapat tercapai melalui perhatian sepenuhnya dalam ketaatan, perhatian bukan pertama-tama pada zaman, tetapi pada firman (Iman dan Pembenaran, Bab I).”

Untaian kalimat di atas merupakan penekanan dari Gerrit Cornelius Berkouwer, seorang teolog yang konsern dengan soal-soal dogmatika dan pengajaran. Bagi Berkouwer, tujuan utama para teolog bukan untuk menghasilkan suatu sistem yang logis dan koheren semata. Yang terpenting dari hal itu adalah teologi harus berhubungan dengan Alkitab dan kebutuhan mimbar.

Pria kelahiran Belanda pada 1903 ini, selain dikenal sebagai profesor dogmatika di Vrije Universiteit Belanda, dia juga dikenal sebagai seseorang yang sangat produktif, dengan beragam karya yang telah diterbitkannya. Beberapa karyanya, adalah seri empatbelas penyelidikan dogmatikanya yang terkenal itu.

Tak seperti teolog pada umumnya yang mengulas dengan runut, bersama sistematika yang jelas tentang pengajaran penting kristiani, Berkouwer lebih senang mengeksplorasi teologi Kristen secara tematik seperti, iman dan pembenaran atau dosa, lalu dibahasnya dengan menarik - diselingi dengan perdebatan menarik.

Salah satu karya Berkouwer yang paling banyak diminati, mungkin karena kontroversilnya adalah “Kitab Suci”. Dalam buku ini Berkouwer banyak mengulas, bahkan cenderung mengkritisi mereka yang kerap hanya mengagungkan unsur ilahi dalam Alkitab, tanpa sedikit pun mau tahu dengan unsur manusiawinya. Dengan begitu orang mengira telah memuliakan firman Allah, tetapi karena abai terhadap unsur manusiawi dalam Alkitab banyak orang justru salah tafsir terhadap Alkitab, dan sebenarnya telah menyalahgunakan firman Allah. Bukankah Alkitab pun memiliki konteks sejarah yang jelas?

Meskipun Berkouwer menekankan kemanusiaan Alkitab, namun ia tak sekalipun hendak membedakan “jati diri” Alkitab, apakah itu kata-kata manusia atau sabda Allah. Sebab Berkouwer percaya, meskipun Alkitab merupakan kumpulan tulisan dari banyak orang, akan tetapi, inspirasi “ilham” untuk menulisnya berasal dari Allah. Mereka menulis pada jaman-jaman tertentu dan berbicara menurut cara-cara jaman itu.

Menurut Berkouwer, tidak ada pesan yang tidak dipengaruhi oleh keadaan sejaman, termasuk Alkitab sekalipun. Meski demikian, Berkouwer kerap mengarahkan orang pada kehandalan Alkitab, seperti yang yang terdapat dalam II Timotius 3: 16-17; “Bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. ?Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top