Tokoh

Walter Rauschenbusch, Teolog

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:40 | Dilihat : 772

Injil Sosial, Jawaban Kebutuhan Umat

BAGI sebagian umat, teologi bagai momok yang menakutkan, bahkan cenderung dijauhi. Pasalnya, dalam teologi terkandung unsur-unsur yang tak sedikit orang memandang telah terpengaruh dengan logika filsafat yang kerap membingungkan. Tak heran jika kajian tentang Allah beserta karyanya di seluruh jagad ini menjadi statis, stagnan - sebagai bagian dari kristalisasi pemikiran lampau, yang cenderung kurang selaras dengan konteks kekinian. Alhasil, gereja pun kerap kurang memiliki sensitivitas lebih dalam melihat dan menjawab jaman, sebut saja satu di antaranya tentang eksploitasi tenaga kerja dan semacamnya.

Ketidakpuasan terhadap sikap gereja seperti inilah yang banyak diekspresikan oleh beberapa orang teolog untuk mengkreasikan sebuah teologi baru yang sesuai dengan konteks kekinian, meski tetap menyelaraskannya dengan kristalisasi dogma lampau. Satu di antaranya adalah Walter Rauschenbusch, seorang teolog yang konsern dengan persoalan sosial dan kaum marginal.

Bagi Walter apa yang dinamakan teologi itu haruslah kontekstual, jika tidak, maka tak layak disebut teologi. Keyakinannya ini timbul lantaran kekecewaannya terhadap gereja yang bergeming melihat penindasan yang terjadi masa itu. Eksploitasi tenaga kerja oleh industri-industri raksasa terjadi di mana-mana, penindasan terhadap kaum miskin dan lemah, perlakuan diskriminatif dari pihak penguasa kepada orang-orang yang lemah terjadi setiap hari, namun gereja hanya sibuk dengan persoalan spiritual. Sikap pasif dari gereja inilah yang dimengerti Walter sebagai tanda dari kegagalan teologi di dalam menjawab tantangan zaman.

Dengan segala bekal ilmu yang digalinya semasa studi di Rochester Theological Seminary, Walter memutar otak sembari mengharap hikmat Tuhan agar memberikan pencerahan terhadapnya untuk dapat menjawab tantangan jaman ini. Tak sia-sia, segala pergumulannya dengan persoalan kekinian melahirkan sebuah teologi baru yang berkembang saat itu, bahkan tetap dipelajari hingga saat ini sebagai “Injil Sosial”.

Melalui Injil Sosial ini, Walter ingin kembali menempatkan doktrin penting tentang Kerajaan Allah, sebagai pusat dari teologinya. Dalam Injil Sosial, doktrin Kerajaan Allah menjadi pusat, bahkan "This doctrine (the Kingdom of God) is itself social gospel." Menurut Walter, seluruh pengajaran kristiani haruslah dirancang-bangun ulang, diselaraskan di bawah terang doktrin ini.

Seluruh teori dan konsep pemikirannya ini banyak ditularkannya kepada orang ketika Walter kembali ke almamaternya, Baptist Theological Seminary, di Rochester, New York, untuk mengajar. Ia mengajar dan menulis cukup panjang lebar berkaitan dengan kepercayaannya tentang teologi keprihatinan sosial ini. Bahkan tak segan-segan Walter pun mengkritik sistem kapitalistik yang telah dimotivasi oleh keserakahan dan penganutan dari kepemilikan properti secara kolektif itu. Meskipun begitu bukan berarti Walter toleran dengan sistem Marxisme.

Bagi Walter, Injil bukanlah berita “egois” tentang keselamatan pribadi semata, melainkan etika kasih Yesus yang akan mentransformasi masyarakat melalui penyelesaian masalah kejahatan sosial.Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top