Tokoh

Ignatius Dari Antiokhia

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:41 | Dilihat : 929

Mati Syahid, Kebajikan bagi Kristen

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1: 21)”

AYAT di atas merupakan kutipan dari salah satu surat Paulus kepada jemaat Filipi yang mengandung prinsip hidup dan mati secara Kristen yang patut dipegang teguh oleh umat Kristen. Bagi Paulus, hidup tak ada lain kecuali membaktikan diri bagi Kristus, dan sekiranya mati pun itu tak lebih dari sekadar proses menuju Kristus yang tentu patut disyukuri. Mati bukanlah momok yang perlu ditakuti. Mati adalah anugerah, dan tentu lebih berarti lagi jika kematian kita yang sejatinya adalah bagian proses tersebut dianugerahi Allah makna lebih bagi sesama dan Kristus sendiri. Mati yang dimaksud adalah syahid, sebuah proses kematian namun dianugerahi arti lebih oleh Tuhan dengan diperkenankan untuk turut merasakan penderitaan kristus.

Ignatius dari Antiokhia adalah salah satu bapa gereja yang memandang mati syahid sebagai satu hal yang mulia. Ignatius dari Antiokhia, atau yang lebih dikenal sebagai Teoforus, bahkan dalam surat-suratnya kerap menyinggung mati sebagai syahid adalah kebajikan Kristen yang tertinggi. Demikian pula kehidupan selibat. Ia menyebut orang yang selibat sebagai mempelai dan permata Kristus. Dalam suratnya kepada Polikarpus ia mengatakan bahwa jikalau seseorang dapat tetap tinggal dalam kemurniaan daging untuk kemuliaan tubuh Kristus, biarlah ia tinggal demikian dan tanpa kesombongan.

Ignatius dari Antiokhia, yang lahir sekitar tahun 35 Masehi ini adalah salah seorang bapa apostolik, yang pernah menjabat uskup dan Patriark Antiokhia ke-3 yang sangat ketat pengajarannya, dan sangat mungkin merupakan salah satu murid dari Yohanes. Mirip dengan kisah hidup Rasul Paulus, sebelum menjadi Kristen Ignatius dikenal sebagai seorang kafir bengis yang diduga turut menganiaya orang Kristen pada masanya. Namun ia berubah 180 derajat setelah Ignatius (Teoforus) menjadi Kristen, sesuai dengan arti nama yang disandangnya, Teoforus yang artinya "Pemanggul Tuhan"), Ignatius membaktikan hidupnya bagi Tuhan,memanggul tinggi ketentuan Tuhan meski kematian menjadi konsekuensi atas pilihannya.

Sebelum kematian menjemputnya, Ignatius menulis banyak karya teologis awal yang patut diperhitungkan. Ia menulis serangkaian surat yang dengan topik-topik penting yang diuraikan seperti topik eklesiologi, sakramen-sakramen, dan peranan para uskup. Surat-surat tersebut di antaranya adalah surat kepada jemaat di Efesus, surat kepada Jemaat di Tralles,Roma, Philadelphia, Smirna, dan surat khusus kepada Uskup Polykarpus di Smirna.

Berdasarkan penuturan tradisi, Ignatius hidup di masa pemerintahan Kaisar Trajanus yang sangat kejam – kerap mengancam, mengintimidasi orang-orang Antiokhia yang tidak mau mempersembahkan kurban kepada dewa-dewa dengan hukuman mati. Meski tak sedikit orang yang mematuhi perintah Trajanus, namun Ignatius tetap mengajak umat agar mempertahankan imannya dan menolak untuk mempersembahkan kurban kepada dewa-dewa.

Ignatius sendiri menolak untuk menyangkal Kristus. Karena itulah, dia kemudian dijatuhi hukuman mati dengan dibuang ke dalam Koloseum Roma. Meski harus menghadapi maut, namun tak sedikit pun tercatat Ignatius gentar menghadapinya. Bahkan dalam perjalanannya dari Antiokhia menuju Roma, Ignatius kerap disambut dengan penuh hormat dan dukungan moral oleh umat Kristen, salah satu di antaranya adalah Uskup Polykarpus. Menariknya, dalam perjalanan menuju maut Ignatius justru membuahkan karya klasik yang fenomenal yang tertuang tujuh suratnya yang terkenal itu.

? Slawi/dbs

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top