Tokoh

Betty Greene, Mantan Pilot Pd Ii

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:41 | Dilihat : 779

Misi Penerbangan Jangkau Jiwa di Daerah Terpencil

DI Indonesia masih banyak daerah yang sangat sulit dijangkau. Tidak saja karena tidak ada akses jalan darat menuju kesana, tapi juga lantaran daerahnya berupa pegunungan tinggi. Hal inilah yang kerap menyulitkan para misisonaris dalam menjangkau daerah-daerah terpencil, terutama Papua.

Kendati demikian, Tuhan, lewat karunia berupa natur penciptaan yang terekspresi dalam apa yang dinamakan teknologi telah memberi jalan untuk kesulitan ini. Karena itulah penginjilan misi penerbangan hendaknya tidak dianggap remeh. Sebab jiwa-jiwa, baik di kota maupun di daerah terpencil yang sulit dijangkau, sama berharga di mata Tuhan. Betty Greene bersama Mission Aviation Fellowship (MAF), setidaknya telah membuktikan hal ini.

Meskipun Betty Greene sendiri enggan disebut sebagai pendiri Mission Aviation Fellowship (MAF), namun pada kenyataannya dialah orang pertama yang bekerja paling banyak di tahun-tahun pertama pengajuan konsep organisasi misi penerbangan (mission aviation) sebagai sebuah pelayanan misi khusus. Termasuk bekerja sebagai staff fulltime pertama sekaligus pilot pertama yang terbang pada saat organisasi itu baru terbentuk.

Meski Betty Greene seorang perempuan namun pengalaman dan keahlian wanita kelahiran Kent pada September 1742 ini tidak perlu diragukan lagi. Sebelum masuk ke dunia misi penerbangan, Betty telah lama bekerja di Air Force pada Perang Dunia II, khususnya untuk menerbangkan misi-misi radar, termasuk menerbangkan pesawat-pesawat pengebom B-17. Namun demikian, nurani Betty berkata lain – dunia militer bukanlah pilihan karier yang memberikan sejahtera dirinya. Nuraninya pula yang mengantarnya meninggalkan dunia militer dan masuk dalam dunia pelayanan seumur hidupnya, sebagai seorang pilot misionaris.

Mungkin Betty sejak kecil telah tertarik pada dunia penerbangan, karena itu sejak usianya yang 16 ia mengikuti pelajaran penerbangan di Universitas Washington, yang kemudian mengantarnya untuk bergabung dalam Women's Air Force Service Pilots (WASP). Namun demikian dunia penerbangan baginya tidak lebih dari sekadar alat yang dianugerahkan Tuhan untuk menjangkau jiwa-jiwa di tempat sulit.

Tak hanya berperan sebagai pilot yang hanya mengantarkan para misionaris ke daerah-daerah terasing saja, di waktu luangnya, Betty juga kerap menyempatkan diri menulis artikel—yang satu di antaranya adalah tentang pentingnya misi penerbangan, sekaligus rencana-rencananya untuk mewujudkan impiannya. Salah satu tulisannya juga pernah diterbitkan oleh InterVarsity HIS Magazine, sehingga banyak orang dapat mengerti bagaimana pentingnya menjangkau jiwa-jiwa di tempat sulit bersama misi penerbangan. Salah satu orang yang tertarik dengan tulisannya itu adalah Jim Truxton, seorang pilot angkatan laut yang tertarik dengan misi penerbangan yang kemudian menghubungi Betty dan memintanya untuk bergabung dengan mendirikan organisasi misi penerbangan.

Betty bersama dengan MAF telah membantu banyak orang Kristen, termasuk mendistribusikan Alkitab di daerah-daerah tersebut. Tahun 1945 misalnya Betty diminta Wycliffe Bible Translators (WBT) untuk menolong pelayanan penerjemahan mereka di Mexico. Termasuk penerbangan Betty ke Irian Jaya pada 1960 – yang tentunya adalah tugas yang tidak hanya berbahaya, tetapi juga sulit karena hutannya yang berliku-liku dan mengerikan. Apalagi landasan-landasan bagi pendaratan pesawat MAF hanya seadanya. Namun segala risiko bahaya yang dilalui seolah semua sirna setelah mereka melihat sendiri bagaimana jiwa-jiwa yang berharga itu menyambut mereka dengan ramah.

Slawi/dbs

Lihat juga

Komentar


Group

Top