Tokoh

Nicolaus Cusanus, Filsuf

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:41 | Dilihat : 1826

Mengenal Tuhan dengan Pikiran “Manusia Ilahi”

HIDUP di masa perubahan dengan tuntutan perubahan yang bersifat mendasar, termasuk pola pikir dan paradigma tentu bukan soal mudah. Apalagi orang-orang sedang menyoroti doktrin tradisional, dan paradigma lama yang dikatakan sudah menjadi fosil dan perlu diperbaharui. Dengan tetap memegang ajaran tradisional, berarti sedang melawan arus besar yang siap menelan siapa pun yang berseberangan. Hal inilah yang dialami oleh Nicolaus Cusanus, seorang filsuf dari Jerman, yang juga seorang imam di gereja.

Orang-orang di sekitar Nicolaus berpendapat bahwa agama seharusnya rasional, dan Tuhan pun dapat dipahami secara rasional. Tapi pria kelahiran Kues, kota kecil di tepi Sungai Mosel tahun 1401, (masa Renaissance) ini menolak pandangan tersebut. Baginya mengenal Allah tidaklah semudah itu, mengenal Allah perlu menggunakan pikiran “manusia ilahi”, bukan menggunakan cara-cara manusia biasa melalui “kebodohan belajar”.

Nicholas dari Kues yang juga disebut sebagai Nicolaus Cusanus dan Nicholas dari Cusa yang hidup antara 1401 - 11 Agustus 1464, ini juga membedakan pengetahuan menjadi dua bagian yang berlainan. Pertama adalah kemampuan akal yang merupakan kemampuan diskursif manusia, yakni kemampuan berpikir logis, membuat pemisahan-pemisahan, dan menyimpulkan. Kemampuan ini berlaku di dunia indrawi.

Dan kemampuan kedua menurut Cusanus, yang pernah kuliah di Universitas Heidelberg (1416) ini adalah budi (intellectus), yang merupakan kemampuan untuk menentukan orientasi bagi manusia. Hal ini dapat dibandingkan dengan kemampuan manusia menentukan arah timur, padahal "timur" itu tidak ada dan tak dapat diamati. Aktivitas budi bukanlah hal-hal yang empiris, melainkan melampauinya. Dengan kemampuan budi inilah manusia dapat memahami “sedikit” sifat Allah. Kemampuan inilah yang disebut Cusanus sebagai pikiran “manusia ilahi”.

Selain itu, pemikirannya yang dikenal sangat kontroversial adalah pendapatnya tentang Tuhan dalam karyanya yang tidak terlepas dari entitas alam semesta. Pikiran ini dikenal dengan "panentheisme” menyerupai pantheisme, dan keduanya kadang-kadang rancu dan membingungkan untuk dibedakan. Panentheisme menyiratkan bahwa Tuhan tidak "di luar sana," sebuah entitas yang terpisah dari alam semesta. Dalam bahasa Yunani, "pan" berarti "semuanya"; "in" berarti "dalam"; "theo" berarti "Allah." Berarti, panentheisme bahwa Allah adalah di sini, "mengidentifikasi kosmos,". Panentheisme menegaskan tidak saja transendensi tetapi juga imanensi Allah melampaui segala sesuatu dan hadir di mana-mana. Panentheisme adalah mungkin asing bagi Kristen ortodoks, tetapi berakar dalam tradisi Kristen. Alkitab menggambarkan "panentheistic" Tuhan dalam Keluaran, Mazmur, Injil Yohanes, dan Surat Paulus.

Tuhan dalam segala hal sebagai pusat mereka, dan pada saat yang sama Tuhan melampaui segala sesuatu. Martin Luther kemudian menggunakan kata-kata yang sama ketika ia berkata bahwa Allah lebih dekat kepada segala sesuatu dari apa pun adalah untuk diri-Nya sendiri. Pandangan Allah dan dunia, diuraikan oleh Nicholas dari Cusa dan Martin Luther, adalah pemikiran modern dari Renaissance, menggantikan konsep abad pertengahan umum bahwa Allah ada di sorga. Ini adalah ide-ide radikal untuk Gereja Katolik Roma.

Tak hanya dalam teologi, pemikiran Nicholas juga berdampak dalam bidang lain seperti, filsafat, sains dan politik. Tak heran jika secara luas ia dianggap sebagai salah satu orang jenius terbesar dari abad ke-15. Nicholas juga diakui sebagai rohaniwan yang berkontribusi besar dalam pemikiran ilmiah dan politik dalam sejarah Eropa. Contoh yang jelas terletak pada tulisannya yang bersifat mistis dan bermakna spiritual pada ''learned ignorance', termasuk ide-ide matematika yang disajikan dalam esai-esai terkait, serta partisipasi dalam perebutan kekuasaan antara Roma dan negara-negara Jerman dari Kekaisaran Romawi Suci. Slawi

Lihat juga

Komentar


Group

Top