Tokoh

Nicholas Sinterklas

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:41 | Dilihat : 469

Jual Harta untuk Orang Bantu Miskin

ORANG Kristen tentu familiar dengan pria tua bertubuh besar berambut pirang, dengan jenggot putih panjang yang muncul di setiap Natal membagi-bagikan hadiah. Ya,.. dialah Santa Claus atau Sinterklas, sosok dermawan yang disukai anak-anak. Sinterklas tak hanya karakter lelaki tua berjenggot yang baik hati. Di beberapa tempat, seperti Belanda misalnya, Sinterklaas sudah menjadi salah satu lambang tradisi masyarakat yang wajib dirayakan setiap tanggal 5 Desember, yang memberi warna tersendiri dalam merayakan Natal.

Bagi beberapa, orang Sinterklas tak lebih dari sebuah karakter orang tua yang murah hati. Tapi sebagian besar percaya bahwa tokoh Sinterklas ini nyata, yang kerap dikaitkan dengan sosok Santo Nicolaus, setidaknya hal ini telah dibuktikan dalam sebuah survei yang dirilis My Merry Christmas.com.

Santo Nicholas

Santa Claus adalah sebutan yang ditujukan kepada Nicholas, seorang rohaniawan yang kelak menjadi uskup dan dikenal sangat dermawan. Tapi siapa sangka jika masa remaja orang yang suka memberi ini kerap diwarnai banyak hal-hal buruk, salah satunya adalah hidup sendiri ditinggal oleh kedua orang tuanya yang justru meninggal saat Nicholas sedang beranjak dewasa.

Kendati perasaan sedih dan sepi kerap datang, namun pria kelahiran Patara, Provinsi Lycia, sekitar tahun 270 ini tidak terlena dalam kesedihan. Kesedihan dan kesendiriannya justru menjadi cemeti bagi Nicholas untuk mencari jati diri. Dan justru dalam kesendiriannya, di bawah asuhan pamannyalah Nicholas dapat mengenal kekristenan.

Prinsip-prinsip kekristenan yang tertanam sejak kecil yang telah mengkristal, dihidupinya sungguh-sungguh. Tak hanya itu, Nicholas yang terlahir dari keluarga yang kaya dan diwarisi banyak harta oleh orang tuanya ini betul-betul mempraktekkan perkataan Yesus untuk "menjual seluruh milikmu dan memberikan uang kepada yang miskin". Harta warisan pemberian orang tuanya seluruhnya dijual dan dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.

Sekantung uang

Bahkan dalam salah satu kisah kedermawanan Nicholas disebutkan membantu orang dengan cara yang unik. Dalam cerita tersebut disebutkan seorang penduduk Patara yang kehilangan seluruh hartanya tidak bisa lagi menopang hidupnya dengan ketiga anak perempuannya. Karena kemiskinan yang menjeratnya, penduduk Patara malang tersebut pun berniat menjual ketiga putrinya itu. Tak berselang lama berita ini sampai ke telinga Nicholas yang berniat menolongnya. Dan caranya terbilang sangat unik, yakni secara diam-diam melemparkan sekantung uang ke rumah orang yang malang tadi. Menariknya, hal ini dilakukannya hingga seluruh putri penduduk Patara tadi menikah.

Cerita sedih rupanya tidak berhenti pada saat ia remaja. Kali ini tidak hanya sedih tapi juga menyakitkan. Bagaimana tidak, di masa pelayanannya Nicholas justru dihadapkan pada cobaan yang teramat hebat dengan menyaksikan orang Kristen yang disiksa secara kejam lantaran tidak mengikuti perintah untuk menyembah Kaisar, pada masa pemerintahan Diocletian (berkuasa 284 -- 305) dan Kaisar Maximian (berkuasa 286 – 306).

Nicholas mengalami hal yang sama, disiksa dan dipenjara namun ia tetap teguh dalam imannya dan menolak menyembah Kisar. Setelah Constantine menggantikan Diocletian, Nicholas dibebaskan dari penjara dan dapat melayani kembali.

Sepeninggal uskup di Myra, Nicholas menggantikan tugas sebagai uskup. Tentu saja ini bukan tugas yang ringan, pasalnya Nicholas adalah orang awam yang sangat sedikit mengenyam ilmu filsafat dan teologi. Namun demikian selama pelayanan Nicholas sebagai uskup, ia kerap dianggap sebagai penentang segala bentuk kekafiran. Dalam kepemimpinannya tak sedikit kuil-kuil penyembah berhala yang dihancurkan. Tak hanya itu, ia juga kerap pasang dada melawan teologi dan ajaran yang bertentangan dengan iman Kristen seperti ajaran Arius.. Slawi

Lihat juga

Komentar


Group

Top