Tokoh

Joachim Dari Fiore, Teolog

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:42 | Dilihat : 672

Memetakan Sejarah Tiga Jaman

ORANG bilang masa sekarang adalah “Jaman Roh Kudus”. Kemudian masa Perjanjian Baru (PB) kerap disebut sebagai “Jaman Anak” dan masa Perjanjian Lama (PL) adalah jaman Allah Bapa.

Setelah dibagi sedemikian rupa kemudian orang menafsirkan seperti apa yang mereka inginkan.

Kendati tidak sepenuhnya tepat, namun pandangan seperti ini sering digunakan – bukan lagi konsumsi mahasiswa teologi, tapi sudah masuk ke gereja dan menjadi konsumsi umat. Siapa sebenarnya pencetus pertama pembagian seperti ini?

Joachim dari Fiore, teolog pendiri ordo monastik ini disebut-sebut sebagai pencetus pertama apa yang dikenal “sejarah trinitarian”. Menurut teolog kelahiran 30 Maret 1202 yang juga dikenal dengan nama Joachim Flora ini, “Jaman Allah Bapa” adalah jaman orang-orang yang menikah yang hidup menurut hukum Taurat. Kemudian “Jaman Anak” adalah jaman rohaniawan dan jaman berdasarkan anugerah. Menurut Joachim masa ini berlangsung 42 generasi yang setiap generasinya selama 30 tahun.

Selanjutnya “jaman Roh Kudus” adalah jaman baru, jaman biarawan bermenung dan hidup dalam kebebasan pengertian rohani. Jaman ini menurut Joachim akan ditandai dengan pergantian pemimpin gereja-gereja yang korup dengan pemimpin baru dengan kerohanian yang mantap.

Joachim dari Fiore adalah pemikir apokaliptik yang sangat penting dari keseluruhan periode abad pertengahan, dan mungkin setelah Yohanes, pemikir apokaliptik yang paling penting di sepanjang sejarah kekristenan.

Setelah pertobatannya Joachim berkomitmen untuk hidup membiara selama bertahun-tahun di Cistercian Biara Sambucina dekat Luzzi, Calabria dan menjadi kepala biara di Corazzo pada 1177. Dalam periode ini aktivitas Joachim tak jauh berbeda dari para biarawan lain yakni bergumul dengan kitab suci. Namun demikian, teolog yang lahir di Calabria, Itali ini mengalami kesulitan menafsirkan kitab Wahyu. Keterbatasannya terhadap pengertian simbol membuatnya tidak berani menafsirkan kitab tersebut. Selama berbulan-bulan Joachim tetap menggumulkan kitab ini hingga tiba pada kesimpulan menyerah, tidak mungkin menafsirkan kitab ini.

Kendati demikian ada sesuatu yang berbeda dirasakan Joachim saat ia bangun di suatu pagi saat Paskah. Tradisi mengatakan ia terbangun sebagai orang baru, yang diberi pengertian rohani atau dalam bahasa Latin dikenal dengan "spiritualis intelligentia", pemahaman spiritual tentang makna Kitab Wahyu.

Hikmat dari Allah itulah yang kemudian membuka wawasan Joachim, memampukannya menulis tafsiran dari kitab Wahyu, salah satu buku tafsir yang paling penting yang pernah ditulis.

Teori tiga jaman atau “sejarah trinitarian” di atas adalah bagian besar explorasi tafsirnya dari kitab Wahyu.

“Sejarah trinitarian”, kemudian diurai Joachim secara mantap dalam tiga buku besarnya yakni Concordia Novi et Veteris Testamenti (keselarasan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru); Expositio in Apocalypsim (eksposisi kitab wahyu); dan Psalterium Decem Chordarum (kecapi Sepuluh Dawai). Ketiga karya besarnya ini umumnya diterima oleh pemimpin gereja dan didukung berturut-turt oleh tiga paus. Uniknya buah pikir akibat "spiritualis intelligentia" yang diterima Joachim ini justru menginspirasi beberapa gerakan-gerakan sempalan mainstream untuk mereformasi gereja dan menjadikan teori Joachim sebagai pembenaran atas apa yang dilakukan. Slawi

Lihat juga

Komentar


Group

Top