Tokoh

Emanuel Swedenborg, Rohaniwan Dan Mistikus

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:42 | Dilihat : 880

Mengaku Telah Naik-Turun Surga dan Neraka

ORANG bisa naik-turun ke surga, itu cerita lama. Di tahun 1700-an, Emanuel Swedenborg, rohaniawan, dan mistikus Kristen mengklaim nahwa dia tidak hanya bisa naik ke surga, tapi juga ke neraka, bahkan bisa ngobrol dengan berbagai makhluk lain seperti malaikat atau setan dan makhluk roh dari planet lain.

Emanuel Swedenborg, pria kelahiran 8 Februari 1688 di Stockholm, Swedia, sejak muda telah tertarik pada persoalan teologis dan filsafat. Karena itu Swedenborg menekuni dunia ide dengan belajar diri di universitas di Uppsala yang diselesaikannya pada 1709. Satu tahun kemudian dia menimba ilmu ke beberapa negara seperti Belanda, Perancis, dan Jerman, dan terakhir London. Pada 1715 putra Jesper Swedberg (1653-1735) ini, kembali ke Swedia, tempat ia mengabdikan diri bagi ilmu alam dan proyek rekayasa selama dua dekade berikutnya.

Dunia ilmiah dengan seluruh pendekatan rasional yang digelutinya sekian lama mulai bergeser, beralih ke pendekatan pengalaman mistis subyektif. Transisi ini bermula dari mimpi-mimpi aneh Swedenborg di tahun 1743. Ia mengalami mimpi yang berbeda dengan penglihatan, beberapa menyenangkan, tapi yang lain sangat mengganggu. Dalam buku hariannya Swedenborg mencatat, pada pagi hari di bulan Oktober 1743, saat berada Amsterdam ia merasa pusing dan pingsan hingga merasa sangat dekat dengan kematian. Dalam mimpinya ada angin besar menderu mengangkatnya, kemudian dia melihat ada sebuah tangan mencengkeram dan menggenggam tangannya menghantarkan pada Kristus. Dalam mimpinya itu, Swedenborg juga bertemu dengan ayahnya yang telah meninggal, menampakkan diri dan memuji karya teologis anaknya.

Di tahun 1974 Swedenborg mengundurkan diri jabatannya sebagai penilai dari dewan tambang, lalu mengambil studi lagi tentang Ibrani. Sejak saat itu Swedenborg mengisi hari-harinya dengan menafsirkan Alkitab – mencari tahu makna spiritual setiap ayat.

Pada usia lima puluh enam tahun, Swedenborg memasuki fase spiritual dalam hidupnya, dan ia lebih sering mengalami "mimpi dan penglihatan". Swedenborg mengklaim bahwa Tuhan telah membukakan matanya, sehingga sejak saat itu ia bisa bebas mengunjungi surga dan neraka, dan berbicara dengan para malaikat, setan, dan roh-roh lainnya, termasuk roh-roh dari planet lain.

Tentang kehidupan di planet lain, Swedenborg menyatakan bahwa ia kerap berbicara dengan roh-roh dari Jupiter, Mars, Merkurius, Saturnus, Venus, dan roh-roh lain di bulan. Kendati demikian dia tidak menyinggung pernah bercakap-cakap dengan roh dari Uranus dan Neptunus. Tentu saja pengakuannya ini diragukan oleh banyak orang yang kemudian meragukan kredibilitasnya. Tak hanya itu saja, pada puncak kebangkitan spiritualnya, Swedenborg bahkan mengklaim telah ditunjuk oleh Tuhan agar menulis doktrin surgawi untuk mereformasi agama Kristen.

Selama 28 tahun sisa hidupnya, Swedenborg menulis dan menerbitkan 18 karya-karya teologis dan beberapa karya lain yang tidak diterbitkan. Dan yang paling terkenal diantaranya adalah Surga dan Neraka (1758). Dalam salah satu karyanya yang kurang dikenal dia menyuguhkan klaim mengejutkan, tentang Pengadilan Terakhir telah dimulai pada tahun 1757 dan berakhir pada akhir tahun. Menurut Swedenborg, Penghakiman Terakhir terjadi, bukan di dunia fisik, tetapi dalam Dunia Roh, yang berada di tengah-tengah antara surga dan neraka, jalan yang akan dilewati semua orang menuju ke surga atau neraka. Penghakiman terjadi karena gereja Kristen telah kehilangan amal dan iman, mengakibatkan hilangnya kehendak bebas rohani yang mengancam keseimbangan antara surga dan neraka dalam kehidupan setiap orang.

Sementara, berdasarkan analisis modern, pengalaman-pengalaman ganjil yang dialami Swedenborg merupakan gejala penyakit jiwa. Dr Wilson Van Dusenk, seorang profesor bidang psikologi di Universitas Mendocino State Hospital di California bahkan pernah mengklaim bahwa deskripsi Swedenborg tentang roh, malaikat dan neraka sesuai dengan pengalaman halusinasi penderita skizofrenia.

Hal ini didasarkan pada pengalamannya selama enam belas tahun merawat pasien skizofrenia yang memandang halusinasi sebagai realitas, dan temuannya tersebut diterbitkan dalam sebuah buku berjudul “The Presence of Other Worlds” (1974)

Lihat juga

Komentar


Group

Top