Tokoh

Yohanes Flavel, Teolog

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:42 | Dilihat : 486

Tembok Gereja Bukan Pembatas dalam Melayani

BERKARYA dan melayani Tuhan tak terbatas hanya di dalam gereja. Gereja, lembaga dengan gedungnya yang megah acapkali justru menolak orang atau hamba Tuhan yang sungguh-sungguh memiliki hati melayani. Namun berada di luar tembok gereja bukan berarti berhenti melayani.

Yohanes Flavel, teolog puritan ini pernah mengalami hal sama, ditolak oleh gereja. Namun penolakan tersebut tak menghentikan niat dan semangatnya untuk melayani. Yohanes Flavel (atau Flavell) teolog yang lahir di Bromsgrove, Worcestershire pada 1628 ini ditolak gereja pada 1662 hanya karena alasan adanya ketidakcocokan. Tetapi dengan setia dia tetap melayani umat gembalaannya. Secara diam-diam anak dari Richard Flavel, yang juga seorang pendeta itu tetap menjalin hubungan dengan umatnya. Tak jarang karena itu Yohanes harus berkhotbah, membawakan firman di hutan. Bahkan untuk tujuan yang mulia itu tak segan-segan Yohanes berpura-pura menyamar sebagai wanita, naik kuda untuk mencapai tempat pertemuan rahasia di mana Yohanes dapat berkhotbah dan melakukan sakramen baptisan.

Pada waktu lain, ketika dikejar oleh pihak berwenang, Yohanes pernah terjun dari kudanya ke laut, berenang melalui daerah berbatu menuju Sands Slapton untuk menghindari penangkapan. Pada 1665, ketika Undang-undang the Five Mile Act mulai berlaku, Flavel pindah ke Slapton, yang berada di luar batas lima kilometer dari jangkauan hukum. Di sana pria jebolan University College, Oxford justru melayani banyak orang dalam sebuah jemaat. Namun tak sekali pun ia meninggalkan jemaatnya yang lama. Dengan sembunyi-sembunyi Yohanes tetap berkhotbah di hadapan sejumlah besar orang yang datang ke hutan, kadang-kadang hingga lewat tengah malam. Namun tidak selamanya pertemuan tersebut berlangsung mulus. Beberapa kali “persekutuan hutan” itu harus dibubarkan dan jemaatnya bahkan beberapa ada yang ditangkap dan dikenai denda.

Kesabaran, kekuatan dan ketabahan Yohanes tak terlepas dari panggilannya yang kuat untuk menjadi hamba Tuhan pada 1656. Suami dari Joan Randall ini kemudian ditahbiskan gereja di Salisbury dan menetap di jemaat Diptford, tempat di mana Yohanes mengasah seluruh anugerah yang Tuhan berikan kepadanya.

Menjadi hamba Tuhan tak selamanya akan bahagia, hidup serba enak dan bebas dari petaka. Hal buruk yang menimpa di kehidupan Yohanes justru terjadi setelah ia menjadi Hamba Tuhan. Setelah menikah dengan Joan Randall, wanita saleh ini harus dijemput Tuhan saat melahirkan anak pertamanya. Tak hanya Randall, bayi yang mereka idam-idamkan juga turut meninggal.

Yohanes Flavel dikenal sebagai hamba Tuhan yang sangat sederhana, baik dikesehariannya maupun pilihan kalimat-kalimat saat mewartakan Firman Tuhan. Bahkan seperti yang ditulis dalam “Erasmus Middleton” oleh salah satu jemaatnya: "... materinya, cocok dengan kebutuhan spiritual; berasal dari eksposisi polos tentang Kitab Suci, metode nya berbicara, kutipannya asli dan alami , argumennya meyakinkan, demonstrasi jelas dan kuat, hati-nya mencari aplikasi, dan mendukung mereka yang hati nuraninya menderita...”.

Yohanes adalah orang yang produktif. Ia juga menghasilkan banyak karya tulis yang tetap dicetak hingga kini. Beberapa judul di antaranya seperti: “Metode Anugerah”. Dalam lima bagian buku ini Yohanes menggambarkan karya Roh dalam penebusan Kristus bagi orang berdosa. Buku ini memperlihatkan gambaran orang percaya yang lemah dan berada dalam bahaya kenyamanan palsu. Judul lain adalah “Menjaga Hati”. Dalam karya yang awalnya berjudul “A Saint” ini Yohanes meneliti bagaimana cara menjaga hati dan mengapa ini menjadi panggilan bagi setiap orang percaya. Slawi

Lihat juga

Komentar


Group

Top