Tokoh

James H Cone, Teolog

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:43 | Dilihat : 1967

Memerdekakan Bangsa “Hitam”

YESUS Kristus tidak hanya datang untuk menebus dosa-dosa umat-Nya. Dia datang ke dunia bukan melulu terkait soal keselamatan, dan pengorbanan, tapi juga memberi pembebasan. Pembebasan dari ekonomi, politik, atau sosial yang tidak adil. Peran inilah yang digumuli oleh para teolog pembebasan. Tidak itu saja, para Teolog pembebasan juga berjuang untuk menafsirkan ulang kabar Injil gereja mula-mula, di mana kekristenan secara politis dan budaya terdesentralisasi. Salah satu di antara sederet nama para teolog pembebasan adalah James Hal Cone.

James H Cone dikenal banyak orang sebagai teolog “hitam” terkemuka di Amerika Serikat. Dalam kesaksiannya, Dia dipanggil untuk melayani Tuhan di usia yang relatif muda, 16 tahun, dan menjadi seorang pendeta pada tahun berikutnya, 1954, ketika dia sedang studi di perguruan tinggi. Perjuangan Cone membela kaumnya tidak hanya ketika dia menjadi seorang teolog, sebelumnya Cone juga berjuang melalui tulisan-tulisannya dengan menjadi seorang jurnalis untuk sekolah. Dia juga terlibat aktif dalam serangkaian demo, termasuk boikot bus di Montgomery yang diselenggarakan oleh Martin Luther King, Jr. Meskipun ia merasa tidak siap untuk mengorganisir umat layaknya dilakukan King namun dia sangat terinspirasi oleh karya King bagi kaumnya.

Dengan mengusung “Teologi Pembebasan Hitam”, Cone berjuang keras bagi kemerdekaan rakyat “hitam” Afrika secara sosial, ras, filosofis dan teologis, seperti yang dilakukan King. Kendati dengan cara berbeda, teolog yang memperoleh gelar Ph.D dari Northwestern University ini ternyata mampu menghimpun kembali spirit "black power" untuk melawan ketidakadilan dan diskriminasi. Untuk tujuan kemerdekaan kaumnya, Cone kemudian menggali ulang berita Injil, berusaha mencari kebenaran Alkitab terkait karya Allah bagi orang miskin dan tertindas.

Mengawali teologinya, Cone mencari akar permasalahan dengan mempertanyakan kembali pengalaman-pengalaman Afrika-Amerika yang dialami, ditinjau dari segi teologis. Pertanyaan-pertanyan yang sama juga menghantarkan dia pada titik terang dalam kitab suci tentang unsur-unsur liberatif dalam kitab Keluaran, tradisi Israel dan teladan kehidupan Yesus. Namun, Alkitab bukan satu-satunya sumber yang membentuk teologi Cone. Menanggapi kritik dari para teolog kulit hitam lainnya Cone mulai memanfaatkan sumber-sumber literatur lain tentang komunitas Kristen Afrika Amerika untuk karya teologisnya.

Bagi Cone teologi tidaklah universal, namun terikat dengan konteks sejarah tertentu. Pemikiran inilah yang juga melatarbelakangi kritikannya terhadap teologi barat yang dianggap sangat abstrak. Cone sendiri merumuskan teologi pembebasan dengan beranjak pada konteks pengalaman hitam, dan penindasan. Dalam teologinya, teolog kelahiran 5 Agustus 1938 di Fordyce, Arkansas ini menggambarkan Yesus sebagai sosok suci yang dekat dengan orang miskin, tertindas, dan kebangkitan sebagai tindakan utama pembebasan. Pandangan pandangan seperti itulah yang kemudian membentuk “Lensa hermeneutik” (sudut pandang penafsiran) terhadap Injil.

Pengaruh teologi Cone terus meluas setelah penerbitan buku sebagai karya perdananya (1969). Ia dipandang sebagai teolog yang berperan sangat besar dalam munculnya teologi pembebasan di seluruh Dunia Ketiga dan membangun kepedulian orang untuk membebaskan kaum tertindas dari penderitaan politik, sosial, dan ekonomi. Tahun 1977 dalam bukunya Cone mengajak agar orang Kristen memiliki visi yang lebih jauh lagi. Cone melihat teologi Kristen harus terus mengembangkan visinya untuk merangkul dunia lebih luas lagi melampaui keprihatinan kaum Hitam Amerika dan kekhasan iman Kristen.

"Saya berpikir bahwa waktunya telah datang untuk teolog hitam dan orang gereja bergerak melampaui reaksi hanya untuk rasisme kulit putih di Amerika dan mulai untuk memperluas visi kita tentang kemanusiaan konstruksi sosial baru di seluruh dunia yang dihuni ... Demi kemanusiaan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan menjadi kelompok-kelompok rasial dan nasional. " seperti ditulis dalam bukunya “Cross Currents”.

Sebagai hamba Tuhan dan Teolog James H Cone sangat produktif. Ada begitu banyak karya fenomenal yang dihasilkan dari buah pikirnya. Beberapa diantaranya adalah “Teologi Hitam & Black Power (1969)”; Teologi Pembebasan Hitam(1970), Kaum Tertindas (1975), dan Martin & Malcolm & Amerika: Mimpi atau Mimpi Buruk (1991). Hampir keseluruhan karya Cone bernuansa teologi pembebasan. Semua karyanya yang telah dibukukan juga telah diterjemahkan ke dalam sembilan bahasa. Slawi

Lihat juga

Komentar


Group

Top