Tokoh

William Perkins (1558 - 1602)

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:43 | Dilihat : 2953

Pengkhotbah Sederhana Pengaruhi Banyak Teolog

Berkhotbah untuk kali pertama tentu dirasa paling berat dan paling banyak tantangannya. Perasaan cemas, takut dan bayangan-bayangan kesalahan yang mungkin saja bisa dibuat dalam berkhotbah terus melintasi. Karena itu khotbah perdana menjadi khotbah yang paling berkesan, apalagi jika Tuhan berkenan memakai kita dalam berkhotbah, lalu memberkati satu atau lebih banyak orang.

Perasaan sukacita dan kesan yang sama juga dialami William Perkins, seorang teolog puritan, dalam khotbah pertamanya kepada para tahanan di penjara Cambridge. Pada kesempatan itu Perkins dipimpin Tuhan untuk bertemu seorang pria muda yang dalam waktu dekat akan dieksekusi. Tentu saja perasaan takut menggelayut dibenak pria itu, sebab menurut dia, kejahatan yang dilakukan akan segera membawanya ke neraka. Perkins kemudian meyakinkan tahanan yang dekat dengan kematiannya itu bahwa, Allah melalui Tuhan Yesus Kristus dapat mengampuni dosa-dosa manusia. Pria muda yang sebelumnya takut dan cemas menerima kenyataan hidupnya yang singkat, menjadi lebih siap menerima eksekusi dalam ketenangan.

William Perkins adalah seorang pendeta dan teolog Cambridge. Sebagai "Puritan moderat", Perkins sangat tegas menentang sikap orang yang menolak untuk menyesuaikan diri dengan Gereja Inggris. Namun di sisi lain, ia juga menentang program rezim Elizabeth yang memaksakan keseragaman atas gereja.

Pengkhotbah Sederhana

Putra dari Thomas dan Anna Perkins yang lahir di Marston Jabbett di paroki Bulkington , Warwickshire , Inggris pada tahun 1558, dikenal sebagai pengkhotbah yang sederhana namun berdampak luar biasa. Salah satu ciri khotbahnya yang tidak muluk-muluk, tidak menggunakan bahasa teologi yang tinggi menjadi daya tarik tersendiri jemaat umum mendengar khotbahnya. Namun bukan berarti dia tidak pandai dan paham teologi. Perkins juga dikenal sebagai pengkhotbah yang memiliki banyak warna dan dapat menjangkau orang dari banyak kalangan dan kelas, dengan sistematika yang jelas, ilmiah, padat namun tetap sederhana.

Kepiawaiannya berkhotbah tak terlepas dari tokoh yang pernah dikaguminya Harvey. Dalam satu kesempatan Harvey pernah mempresentasikan The Art of Prophesying, tentang risalah dan tatacara berkhotbah dengan metode yang benar dan sakral. Sejak itu alumni Christ's College, Cambridge ini berlatih secara serius tata cara berkhotbah yang baik. Orientasi khotbahnya lebih kepada kesederhanaan khotbah, ditambah aplikasi yang praktis, daripada teori yang spekulatif. Metode itu yang kemudian membawa Perkins menjadi seorang pengkhotbah dan teolog populer.

Predestinasi ganda

Perkins adalah pendukung utama ajaran "predestinasi ganda ". Dia juga tokoh utama yang memperkenalkan pemikiran Theodore Beza ke Inggris. Ada banyak publikasi tentang predestinasi ganda Beza, dalam bahasa Inggris yang diterbitkan oleh Perkins. Sebagai penganut ajaran predestinasi ganda yang kuat, Perkins percaya bahwa kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia berjalan harmonis. Dia melihat keduanya bukanlah musuh dalam teologi, tapi "teman" yang karib.

Meskipun Perkins getol memperkenalkan pemikiran teologi tentang predestinasi ganda ke banyak kalangan, namun bagi perkins itu bukanlah hal utama. Hidup dimasa amoralitas yang merajalela justru membawanya pada keprihatinan sosial dan pastoral pada umatnya. Seperti Chaderton, mentornya, Perkins terus bekerja untuk memurnikan gereja yang mapan dari dalam, dan bukan menganjurkan orang untuk memisahkan diri dan bergabung ke kelompok Puritan. Keprihatianannya justru membawa Perkins menjauh dari pemerintahan gereja, dan fokus pada kurangnya pelayanan pastoral, rohani, dan bertelut menangisi jiwa-jiwa yang hancur dalam kebodohan.

Di tahun 1602 Perkins meninggal akibat komplikasi batu ginjal, tepat sebelum akhir pemerintahan Ratu Elizabeth. Meskipun jasad Perkins sudah dimakamkan di Churchyard of Great St. Andrews, namun pola hidup dan pemikirannya terus mengelana dan mempengaruhi banyak orang.

Sedikitnya sebelas edisi tulisan Perkins yang berisi hampir lima puluh risalah, dicetak setelah kematiannya. Didalamnya termasuk karya besarnya tentang eksposisi Galatia 1-5, Matius 5-7, Ibrani 11, Yudas, dan Wahyu 1-3, serta risalah tentang predestinasi, ordo keselamatan, jaminan iman, Pengakuan Iman Rasuli, Doa Bapa Kami dan masih banyak lagi.

Tidak mengherankan jika kemudian ajaran Perkins mempengaruhi banyak teolog besar seperti Pengaruh William Ames (1576-1633), Richard Sibbes (1577-1635), John Cotton (1585-1652), dan John Preston (1587-1628). Slawi/dbs

Lihat juga

Komentar


Group

Top