Tokoh

Lucianus Dari Antiokhia (240 312)

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:43 | Dilihat : 1099

Membedakan Sifat Allah dengan Yesus

Sembilan tahun dipenjara, selama itu pula mengalami siksaan; dua kali dibawa untuk pemeriksa, dan dua kali juga membela diri dengan segala kemampuan, menolak meninggalkan apa yang dipercayainya. Kendati “sengsara” karena ajaran yang dipegang, namun menikmati penderitaan itu jauh lebih berharga daripada menghianati olah pikirnya. Itulah yang dilakukan Lucian atau Lucianus dari Antiokhia, seorang hamba Tuhan yang karena ajarannya harus rela didisiplin.

Menurut Suidas, sebuah ensiklopedi leksikon berbahasa Yunani, Lucian disebutkan lahir di Samosata , Kommagene, Suriah, sekitar tahun 240 M. Tidak banyak literatur yang menceritakan tentang Lucian. Namun beberapa diantaranya menyebutkan bahwa dia pernah ditahbiskan sebagai presbiter di Antiokhia. Eusebius dari Kaisarea, dalam catatan teologinya menuliskan bahwa Lucian pernah mendirikan sebuah Didaskaleion, atau sekolah. Adolf von Harnack melihat dia sebagai kepala pertama dari Sekolah Antiokhia yang kemudian dikuti oleh Diodorus dari Tarsus dan Theodore dari Mopsuestia. Namun, pasca pergantian posisi uskup Antiokhia ia dituduh sebagai bidat yang karena itu membuat dia menjadi dikucilkan. Menurut Alexander dari Alexandria, permusuhan dengan elit gereja itu dialami Lucian selama tiga dekade uskup, Domnus, Timaeus dan Cyril.

Permusuhan itu disinyalir karena pandangannya teologisnya tentang sifat Yesus yang terpengaruh oleh bentuk monarkisme dinamis ala Paulus dari Samosta, Uskup yang didisposisi oleh gereja yang juga berdampak kepada Lucian. Pandangan adopsionis yang dipegangnya membawa dia pada pengucilan karena dianggap bidat. Ajaran ini, seperti ditulis dalam buku Abrahamic Faiths Oleh Dr. Jerald F. Dirks, mirip dengan pandangan teologi Islam yang menyebut bahwa Tuhan itu unik, maha ada, tidak berubah-ubah, tidak terbatas, dan harus dipahami dalam aspek keesaan yang mutlak. Melihat Tuhan dari segi Transendenitasnya. Akan tetapi, ajaran ini, seperti ditulis Dirks, mengomparasi sifat Allah dengan Yesus itu berbeda. Yesus dilihat hanya dari satu sisi saja, segi kemanusiaan-Nya, yang mengasumsikan Yesus sebagai manusia yang tidak hadir dengan sendirinya, berubah-ubah seturut masa pertumbuhannya, mulai dari kelahiran, masa kanak-kanak, remaja hingga dewasa. Simpulan dari ajaran adopsionis, Yesus adalah ciptaan yang diutus untuk hadir dari ketiadaan yang tidak memiliki keunikad absolut (sama dengan Tuhan), seperti diurai dalam buku Abrahamic Faiths Oleh Dr. Jerald F. Dirks, halaman 138.

Pandangan Adopsionis ini mencapai kejayaannya dibawah ajaran-ajaran Arius yang kemudian pengikutnya menyebut sebagai Arianisme. Penomorduaan Yesus dengan Allah, menganggap Yesus tak lebih dari manusia saja, hingga sampai pada kesimpulan Yesus bukan Tuhan inilah yang disinyalir menjadi alasan gereja mendisiplin Lucian.

Meskipun selama masa penganiayaan oleh Maximinus Daia, Kaisar Romawi 308-313, Lucian ditangkap di Antiokhia dan dikirim ke Nikomedia, tempat di mana ia mengalami banyak penyiksaan selama sembilan tahun penjara, namun kiprah Lucian dalam dunia teologi tidak dilupakan begitu saja. Setidaknya Lucian menjadi bagian dari dinamika diskursus teologi yang terus berproses dan progress. Tak heran jika kemudian Gereja menganugerahi Lucian gelar Santo.

Lucian juga dikenal dengan revisi kritisnya terhadap teks Septuaginta berbahasa Yunani. Jerome, seorang Imam Romawi Kristen, menyebutkan bahwa salinan kritisnya dikenal pada zamannya sebagai "exemplaria Lucianea.” Ia memberikan sumbangan besar terhadap resensi Perjanjian Baru Syria yang digunakan oleh Chrysostom dan bapa Yunani kemudian.

Sementara itu terkait dengan kematiannya ada banyak versi yang berkembang. Ada yang mengatakan bahwa dia mati kelaparan. Sementara yang lain menyebut Lucian ia dipenggal. Namun dari tanggal kematiannya 7 januari 312, tradisi menyebutkan itu berasal dari tangga eksekusi Lucian di Nikomedia . Lucianus dimakamkan di Drepanum, di Teluk Nikomedia, yang kemudian berganti nama Helenopolis untuk menghormati Helena, ibu dari Konstantinus Agung.

Lihat juga

Komentar


Group

Top