Tokoh

Stanley Hauerwas

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:44 | Dilihat : 1336

Narasi Kristus Sebagai Karakteristik Kristen

Gereja harus melek politik dan terlibat langsung dalam berpolitik. Setidaknya itulah pemikiran Reinhold Niebuhr yang menganjurkan gereja untuk terjun ke dunia politik. Berbeda dengan itu, seorang teolog lain asal Dallas, Texas, Amerika Serikat, Stanley Hauerwas justru mengetengahkan agar gereja lebih menunjukkan karakteristiknya. Gereja harus menjadi dirinya sendiri dengan menunjukkan karakter dan soliditas kebenaran Kristen yang dapat membuat perbedaan dalam dunia. Itulah alasannya mengapa dia tidak setuju dengan Niebuhr. Stanley menegaskan agar Gereja yang tidak perlu tercampur dengan dunia dan kekuasaannya. Karena itu, Teolog Metodis kelahiran 24 Juli 1940 di Dallas, Texas, Amerika Serikat yang lebih menggunakan pendekatan pasca-liberal dalam setiap pemikiran-pemikirannya itu mengatakan, kekristenan perlu menguatkan atau semakin memadatkan karakternya sebagai gereja atau kekristenan di tengah dunia.

Menurut Stanley, tugas sosial gereja adalah menjadi gereja yang memiliki karakter kuat dan padat agar dapat konsisten dan bertahan. Lebih lanjut, Profesor Etika dan Teologi di Duke Divinity School ini mengatakan, bahwa yang dapat menguatkan karakter kekristenan adalah narasi, yakni narasi yang membentuk komunitas sehinga memiliki karakter yang kuat. Karakter kuat yang dimaksud oleh Stanley adalah karakter gereja mula-mula, tidak terjun, berbaur dan bercampur dengan dunia, melainkan mejadi dirinya sendiri sehingga dapat menjadi terang bagi sekelilingnya. Idealisme ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sebab, setiap orang, komunitas atau lembaga memiliki narasinya sendiri yang dapat menunjukkan karakteristik. Anak seorang tukang batu yang dibesarkan di Pleasant Grove, Texas, dalam sebuah keluarga kelas pekerja ini menyebut narasi dalam tiap komunitas yang dia maksud ini dengan "x". Setiap komunitas pasti memiliki "x" yang dapat membangun karakter komunitasnya. Misalnya, dalam komunitas Lutheran, "x" itu adalah Injil, sementara dalam Katolik, "x" tersebut adalah rahmat atau anugerah.

Stanley lebih tertarik menggunakan istilah narasi sebagai penunjuk "x" ini. Narasi yang membangun karakter komunitas Kristen yang dikemukakannya di sini lebih merujuk pada narasi Kristus. Sepanjang kehidupan kekristenan, narasi-narasi terus diceritakan secara turun-temurun di dalam gereja, yang menjadi tempat untuk menempa jiwa-jiwa manusia sesuai dengan narasi-narasi yang membentuk karakter komunitas itu menjadi kuat dan padat di tengah dunia. Oleh karena itu, gereja tidak perlu mengurusi urusan dunia dan politik serta berbicara soal moral sosial. Biarlah gereja menjadi dirinya sendiri dan menguatkan karakternya sehingga menjadi terang bagi dunia. Melalui gereja, Allah mentransformasi kehidupan pribadi manusia, bukan sistem politik atau sosial. Di sini terlihat bahwa Stanley mengusung komunitarianisme dan menganjurkan gereja untuk menjadi komunitas karakter yang menjadi teladan bagi dunia.

Berbagai pandangan dan pemikiran Stanley kerap dipengaruhi oleh Pengalaman yang membentuk kehidupannya, ia bahkan sering membandingkan antara keahlian dan kerja keras yang dibutuhkan dalam pemasangan batu bata dengan pendekatan pada karya teologisnya dan tantangan untuk hidup sebagai orang Kristen secara penuh. Pemikiran teologi Hauerwas juga dipengaruhi oleh pemikir-pemikir besar seperti Thomas Aquinas, Søren Kierkegaard, Karl Barth, Ludwig Wittgenstein, John Howard Yoder, dan Alasdair MacIntyre.

Lihat juga

Komentar


Group

Top