Tokoh

John Duns Scotus (12661308)

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:44 | Dilihat : 2718

Cinta Sumber kebahagiaan abadi

Kegiatan utama dari kehendak ialah cinta. Cinta sendiri merupakan aktifitas Allah yang paling luhur. Oleh dan di dalam cinta, Allah dengan tindakan kehendakNya yang bebas menciptakan dan memelihara semua ciptaanNya, teristimewa manusia.

Itu adalah simpulan dari pernyataan seorang teolog besar, Duns Scotus, salah satu teolog Fransiskan terpenting. Pandangannya tentang cinta yang begitu luhur didasarkan pada pandangan Rasul Yohanes tentang Allah, bahwa 'Allah itu Kasih'. Pandangan yang sama juga turut memberi kontribusi penting pendiri Scotisme, sebuah bentuk khusus Skolastisisme ini terhadap tema teologinya. Bagi Scotus, teologi itu tidak semata soal teoritis, skema konsep dan diskursus ide atau ilmu. Lebih dari itu, teologi juga memiliki unsur praksis. Karena itu penilaian itu maka ia mengajarkan pendekatan teologis yang berbeda. Pendekatan teologi yang menuntut manusia harus menjawab sekaligus menghayati cinta Allah yang dilimpahkan kepadanya.

Dalam rangka itu, pria kelahiran Maxton, Skotlandia pada tahun 1266 ini memandang Wahyu Allah sebagai norma bagi tindakan manusia. Apabila manusia menuruti perintah dan ajaran dalam norma itu, Scotus percaya, bukan sebuah keniscayaan manusia akan mencapai kebahagiaan abadi. Kebahagiaan abadi itu bukan soal bagaimana manusia tahu tentang Allah, tapi bagaimana manusia menikmati cinta illahi dan memandang Allah karena cintanya akan Allah.

Menurut Scotus, penyataan cinta Allah yang paling mulia terhadap semua makhluk ciptaan terutama manusia ialah "peristiwa inkarnasi, penjelmaan Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus." Yesus Kristus adalah pusat dan tujuan penciptaan, pusat sejarah manusia, dan alam semesta. Di sinilah terletak titik sentral teologi Scotus.

Pandangan penting yang dilahirkan dari olah pikir Scotus bukan hanya soal cinta, tapi juga ajaran tentang Maria 'yang dikandung tanpa noda dosa' (Maria Immaculata). Bagi Scotus yang juga dijuluki sebagai dijuluki 'Doctor Marianus', Maria disebut Bunda Allah karena ia mengandung dan melahirkan. Dengan demikian, menurut Scotus, bunda Maria turut serta secara aktif dalam karya penebusan umat manusia oleh Pribadi Kedua dari Trinitas, yaitu Yesus Kristus, Tuhan kita. Karena itu sudah seharusnya Maria dilahirkan tanpa noda dosa, baik dosa asal, maupun dosa-dosa pribadi. "Bunda Maria yang terberkati", kata Scotus, "dibebaskan dari dosa asal dalam kaitan erat dengan pandangan kita tentang kemuliaan Puteranya". Dengan begitu Scotus menegaskan, bahwa Allah mempunyai kuasa untuk melakukan perkandungan tanpa noda dosa itu atas Maria yang dianggapNya layak mengandung dan melahirkan PuteraNya yang tunggal.

Ide-ide teologis dan pemikiran brilian Scotus dipengaruhi oleh banyak teolog, baik ketika dia belajar dan mengajar di Paris pada medio 1293-1297, ketika di Oxford, atau Cambridge, maupun ketika dia belajar secara mandiri – berdialog dengan “orang mati”. Beberapa nama tokoh-tokoh besar yang mempengaruhi Scotus seperti Aristoteles (384-322 Seb. M), St. Agustinus (354-430), Avicenna (980-1037), dan Bonaventura (1221-1274).

Sebagai seorang akademisi Scotus dikenal sebagai seorang ‘doktor yang tajam dan halus’ dalam pemikiran dan dalam gaya bahasa Latin yang digunakannya. Selain itu Duns Scotus juga dikenal sebagai "Doctor Subtilis" karena caranya yang tajam dalam menggabungkan pandangan-pandangan yang berbeda. Namun para filsuf di kemudian hari tidak begitu menghargai karyanya. Terlihat dari penyematan kata "dunce" (=orang bodoh) kepada para para pengikutnya, perkembangan dari nama "Dunse" pada tahun 1500-an. Slawi/dbs

Lihat juga

Komentar


Group

Top