Tokoh

Paulus Dari Samosata (200-275 Ad)

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 31 October 2017 - 16:44 | Dilihat : 2153

Yesus, Manusia Yang Menjadi Allah

Ada beragam pandangan yang bermunculan dan berkembang terkait substansi Tuhan Yesus. Sebagian orang melihat Yesus tidak lebih dari manusia biasa. Sebagian lagi menyebut Dia adalah 50% manusia dan 50% Allah. Lalu teolog lain mengatakan, jika Yesus 50% manusia dan 50% Allah, maka Yesus bukanlah manusia sejati, dan bukan pula Allah yang sejati (manusia jadi-jadian/manusia super). Tidak itu saja, ada pula pandangan yang lebih fanatik kepada satu pribadi saja, hanya melihat kepada keesaan Allah Bapa. Muaranya pada konsep pembedaan substansi antara Yesus dan Allah Bapa.

Ajaran seperti itulah yang dipegang oleh Paulus dari Samosata. Teolog dan ahli filsafat yang hidup antara tahun 200-275 AD itu mengajarkan, bahwa Yesus terlahir sebagai seorang manusia biasa, tapi, ketika Dia dibabtis, maka di saat yang sama Logos atau firman Allah itu meresap masuk dalam diriNya. Oleh karena itu, Yesus dipandang bukan sebagai Allah yang menjadi manusia, tapi sebagai manusia yang menjadi-Allah. Dalam sebuah tulisan untuk Sabinus untuk melawan ajaran dari Anastasius, Paulus menulis:

"Setelah diurapi oleh Roh Kudus dia menerima gelar yang diurapi, yaitu Christos, menderita sesuai dengan fitrahnya, bekerja secara ajaiban sesuai dengan kasih karunia."

Menurut Paulus, Tuhan Allah hanya dapat dipandang sebagai satu pribadi saja. Tetapi di dalam diri Allah dapat dibedakan antara Logos (Firman) dan Hikmat. Logos dapat disebut Anak, sedang Hikmat dapat disebut Roh. Namuan demikian Paulus menegaskan, bahwa Logos itu bukanlah suatu pribadi, tapi semacam kekuatan tersendiri yang tidak berpribadi. Logos yang sama (kekuatan), kata uskup Antiokhia pada tahun 260 ini telah bekerja pada diri Musa dan para nabi di dalam Perjanjian Lama. Selanjutnya, Roh yang sama di sebut Paulus Samosta juga bekerja di dalam diri Yesus, anak Maria.

Yesus Kristus adalah Juruselamat manusia, yang datang dari bawah, namun Allah memberikan Logos atau Firman, yang datangnya dari atas. Logos atau Firman yang berdiam dalam diri Yesus Kristus adalah logos yang sama, seperti Hikmat atau Roh di dalam diri para nabi di Perjanjian Lama. Perbedaannya ada fungsionalitas Hikmat atau Roh yang mempunyai sifat yang khas.

Ajaran Paulus Samosta yang memandang Yesus Kristus tidak lebih dari sebuah wadah yang didiami oleh Roh Allah atau Hikmat Allah yang sempurna itu terang dipandang sebagai ajaran sesat. Menjadi representasi kuat ajaran Monarkiasme dinamis atau adopsionis yang diikuti paulus Samosta. Ajaran ini berusaha membuat Yesus lebih rendah dari pada Allah Bapa. Ajaran dari Theodotus dari Byzantium, seorang diekskomunikasi oleh Gereja pada tahun 190 ini menyatakan bahwa Kristus hanyalah manusia semata-mata, yang di dalamnya Allah hadir secara istimewa. Yesus adalah Anak yang diangkat (diadopsi) dan mengenakan keilahian yang dinamis.

Tidak saja berbeda dengan Dogma gereja, tapi jelas bertentang dengan apa yang Alkitab tuliskan tentang siapa Yesus. “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” (Yohanes 1:1). Kemudian, Firman yang adalah Allah itu sendiri Yohanes terangkan telah menjadi Manusia, mengacu kepada Yesus sendiri. “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. (Yohanes 1:14). Slawi/ dbs

Lihat juga

Komentar


Group

Top