Kemurnian Iman

Penulis : Pdt Julius Mokolomban | Wed, 1 November 2017 - 11:41 | Dilihat : 76

Kejatuhan manusia ­dalam dosa, membuat seluruh kehidupannya kehilangan kemurnian. Usaha dan kerja keras manusia tak mampu mengembalikan kehidupan yang sesunguhnya. Manusia yang tercemar, selalu membuahkan ketidakmurnian dalam kehidupannya. Tidak dapat disangkali, gerejapun terjerumus disana, mungkinkah kemurnian iman masih ditemukan?

Dalam surat pertamanya Rasul Petrus mengatakan “Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu-yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api-sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya” (1 Pet.1:7). Memelihara kemurnian hidup bukan hal sederhana, sekalipun kita menjaganya dengan segenap kekuatan. Proses untuk menghasilkan produk yang baik, dibutuhkan waktu, tenaga ekstra, yang tidak boleh berhenti sedikitpun. Demikian juga seharusnya kehidupan orang percaya masa kini.

Gereja percaya hidup karena iman, gereja percaya hidup karena anugrah, gereja percaya Yesus Kristus adalah Juruslamat. Namun terkadang gereja hanya berhenti pada apa yang ia percayai, dan cenderung menolak proses yang Tuhan ijinkan terjadi baginya. 40 tahun orang Israel percaya akan tanda dan keajaiban pertolongan Tuhan bagi mereka di padang gurun, tetapi tidak membuat mereka beriman sungguh kepadaNya. Tiga setengah tahun murid-murid Kristus hidup bersamaNya, melihat perbuatanNya yang luar biasa, namun mereka tetap meninggalkanNya. Beriman bukan sekedar kata, tetapi tindakan nyata dalam ketertudukan.

Rasul Petrus sangat menyadari akan jaminan keselamatan yang diberikan Allah. Namun tunduk kepada pemurnian iman tidak bisa diabaikan. Gereja dipanggil bukan hanya untuk percaya, tetapi juga menderita baginya. Hal inilah yang kadang membuat gereja menjadi lemah. Cenderung menghindar dari sebuah proses kehidupan, apalagi penderitaan. Kesulitan dianggap sebagai musuh tanpa melihat tujuan yang sesungguhnya. Ujian kemurnian iman bukanlah hal yang mudah, tetapi kita dituntut untuk tetap kuat memelihara dan hidup dalam kebenaran.

Gereja dipanggil untuk memiliki kemurnian iman, sekalipun harus dibayar dengan sebuah penderitaan. Gereja dipanggil untuk mampu berdiri teguh, sekalipun badai hidup terus menggoncangkannya. Gereja dipanggil untuk menjadi seperti yang Tuhan inginkan, tidak peduli, sekalipun nyawa menjadi taruhannya. Seperti kata Sadrakh, Mesakh dan Abednego: “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu" (Daniel 3:17-18).

Dengan demikian, penderitaan sesaat bertujuan untuk pembuktian kemurnian iman. Orang yang dipelihara oleh kekuatan Allah karena imannya, akan sesalu siap menghadapi kehidupannya. Keyakinan-nya akan kepastian keselamatan membuat kita bersukacita, sekalipun kita menderita. Tuhan Memberkati!

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top