Pdt. Stephen Tong: Sang Peniru, Kini Menjadi Sang Penginjil Dan Pengkhotbah

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Wed, 8 November 2017 - 09:18 | Dilihat : 85
gambar-tokoh-18.jpg

Stephen Tong adalah seorang anak dari pasangan Tong Pai Hu dan Tan Tjien Nio (Dorcas Tanjowati), lahir  pada tanggal 2 September 1940 di Xiamen, provinsi Fujian, Republik Rakyat Tiongkok. Ayahnya berkebangsaan Cina dan ibunya seorang Tionghoa Indonesia. Pada usia tiga tahun, ayahnya meninggal dunia. Keluarganya bermigrasi ke Indonesia ketika ia berumur 9 tahun. Orangtuanya memiliki tujuh anak laki-laki (Tony, Yohanes, Petrus, Caleb, Solomon, ia sendiri, Joseph), lima di antaranya menjadi pendeta Kristen, dan seorang anak perempuan (Maria). Pada usia 17 tahun, ia menyatakan suatu tekad untuk mengabdi pada Kristus setelah mendengar sebuah khotbah oleh Andrew Gih di sebuah KKR di Surabaya.

Stephen Tong yang dalam bahasa Tionghoa: ; pinyin: Tang Chongrong, adalah salah seorang pendeta Kristen yang sangat dihormati baik di Indonesia maupun mancanegara, ia menggemakan tentang pentingnya memegang teologi Reformed yang berpusat pada Injil, ia mengadakan penginjilan dan seminar-seminar di seluruh dunia secara teratur setiap tahunnya.  Ia juga seorang pendiri Stephen Tong Evangelistic Ministries International (STEMI) dan menjadi anggota International Consultants of the Lausanne Committee of World Evangelization. Selain seorang pendeta, ia juga seorang komposer, konduktor, artis, dan arsitek.  Kempuannya dalam mengajar tentu sudah tidak diragukan lagi. Sebab, ia telah mengajar teologi dan filosofi  selama 25 tahun di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang dan saat ini mengajar di Sekolah Tinggi Teologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) di Jakarta yang ia dirikan. Ia telah menulis lebih dari 75 buku. Dan pada tahun 1990 ia mendirikan Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII), termasuk sebuah seminari, Institut Reformed, Jakarta Oratorio Society, departemen literatur, dan pusat penerjemahan teologi, serta pusat aktivitas-aktivitas evangelistik, seminar, dan konseling. Pada tahun 1996 ia  mendirikan Reformed Institute for Christianity and 21st Century di Washington D.C., Amerika Serikat.


Ia dikenal sebagai pengkhotbah yang keras dalam mengkritik gerakan Karismatik, New Age Movement, Postmodernisme, Seni Kontemporer, psikologi, budaya Barat, budaya Timur, filosofi, dan Teologi Kemakmuran. Sejak kecil ia memiliki sensitivitas yang sangat tinggi terhadap segala bentuk seni, termasuk musik, lukisan, arsitektur, dan seni pahat. Ia mengamati dan mempelajari seni-seni tersebut sejak kecilnya secara otodidak. Ia telah menciptakan musik sejak usia 16 tahun dan memimpin oratorio sejak umur 17. Sejak saat itu ia telah memimpin oratorio dan musik gerejawi baik di Seminari Alkitab Asia Tenggara maupun gereja-gereja yang ia layani. Tuhan memakai seluruh bakat yang dimilikinya untuk memperlengkapi gereja dan pelayanan yang dipercayakan kepadanya.  Itu sebagai pendeta, ia memiliki pengetahuan luas di bidang seni, musik, filsafat, sejarah, dan arsitektur. Ia telah menulis banyak lagu gereja, menulis banyak buku rohani dan merancang beberapa bangunan gereja. Ia mengadakan penginjilan dan seminar-seminar secara rutin di berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Pontianak, Yogyakarta, Medan; dan di kota-kota mancanegara seperti di Cambridge (Massachusetts Institute of Technology), Hong Kong (China Graduate School of Theology), Taiwan (China Evangelical Seminary), Singapura (Trinity Theological College), Westminster Theological Seminary, Regent College, Columbia University, University of California at Berkeley, Stanford University, University of Maryland, dan Cornell University. Ia menyampaikan khotbah dalam bahasa Indonesia, Mandarin, dialek Fujian, dan Inggris.

Stephen Tong memperoleh gelar Bachelor Degree in Theology (B. Th) dari Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) di Malang, Indonesia.  Pada tahun 1985, Stephen Tong dianugerahi gelar doktor kehormatan dalam kepemimpinan dalam penginjilan Kristen dari La Madrid International Academy of Leadership di Manila, Filipina. Pada bulan Mei 2008, ia menerima gelar kehormatan Doctor of Divinity dari Westminster Theological Seminary.

Jiwa penginjilan Pdt. Stephen Tong sangat terasa dan kental. Hal itu dapat kita resapi saat menyanyikan lagu gubahannya yang berjudul: “Ke Mana Saja,” lagu tersebut ia tulis saat sedang melayani di Serawak, Malaysia, pada tahun 1977.  Baginya jiwa di kota dan di dalam rimba semuanya berharga di mata Tuhan. Dan pimpinan Tuhan tidak pernah bersalah bagi tiap-tiap hamba-Nya yang mau taat.  Menurut kesaksian kakak kandungnya Salomon Tong, bahwa dari sejak kecil ia sudah suka meniru pendeta berkhotbah. Saat berusia lima tahun, setiap harinya berdiri di atas meja, berpakaian rapi, bergaya bagaikan seorang pendeta sedang berkhotbah. Saudara-saudaranya diajak duduk di lantai untuk mendengarkan ia khotbah. Saat itu kami baru pulang mendengarkan khotbah penginjilan dari Pendeta Tjoa Sin Tek. Stephen kecil suka bertingkah, bahkan berdasi sapu tangan sewaktu khotbah. Rambutnya pun diberi pomade, disisir rapi mengkilat model pesawat terbang. Cita-citanya menjadi seorang pendeta akhirnya terwujud dan sampai hari ini dia dipakai oleh Tuhan.

Stephen Tong menikahi pujaan hatinya bernama Sulfie Lalujawati, yang juga dikenal Alice Liem. Mereka tinggal di Jakarta, Indonesia. Mereka memiliki satu anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Anak laki-laki tersebut benama David Tong adalah seorang pendeta dan penginjil MRII di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat. Dan Putri mereka Eunice Tong memiliki dua anak perempuan dengan suaminya Holden Makmur, dan bekerja sebagai direktur musik untuk Aula Simfonia Jakarta. Putri termuda mereka Rebecca adalah seorang direktur konduktor dan musik untuk Aula Simfonia Jakarta.

Oleh: Nikodemus Rindin/dbs

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top