PERSIAPKAN DIRI, SAMBUTLAH DIA

Penulis : Pdt Netsen | Tue, 5 December 2017 - 13:28 | Dilihat : 34
gambar-sapaan-17.jpg

Tanpa terasa Desember telah tiba. Sebagian orang Kristen mulai sibuk untuk menyambut natal dengan mempersiapkan rumah dan gedung gereja dengan hiasan pernak pernik natal. Tak hanya itu ada yang mempersiapkan diri dengan fashion yang serba baru. Ada yang mulai mempersiapkan kado untuk diberikan kepada keluarga atau sahabat. Tak jarang, panti asuhan, panti jompo, penjara dan yang lainnya tempat untuk mereka berbagi kasih. Apa benar…? Di sisi lain ada sebagian orang Kristen yang tidak tahu mau sibuk apa untuk persiapan menyambut natal. Bagi sebagian orang ini, karena mereka harus tinggal dipengungsian karena benaca alam, ada yang memang tidak memiliki rumah yang sedemikian layak untuk mereka hiasi, selanjutnya jangankan mau mempersipakan fashion yang serba baru karena untuk membeli makan saja mereka harus bekerja keras dan bergumul entah apa yang harus dimakan hari ini atau esoknya.

Kedatangan Sang Penguasa Surga, Raja di atas Segala Raja, siapakah yang datang dan menyambutnya? Para imam dan Ahli taurat yang tahu isi nubuatan Kitab Suci? Tidak. Para petinggi kerajaan yang memiliki kekuasaan dan kemewahan? Tidak. Para pengusaha yang memiliki jutaan atau miliaran uang serta penginapan? Tidak. Semuanya tidak memiliki persiapan untuk menyambut datangnya Raja Damai. Dia datang di kandang domba, lahir dibaringkan dalam palungan domba dan dibungkus dengan lampin, dimana semuanya itu sudah tidak layak digunakan oleh domba. Dia rela datang dalam kehinaan. Juruselamat tidak membatalkan kedatanganNya meski tak seorangpun manusia yang menyambut lahir-Nya.

Sambulah DIA! Kata sambutlah memiliki kata dasar sambut.  Sambut merupakan reaksi terhadap sesuatu atau seseorang yang menghampiri kita. Reaksi ini berupa penerimaan.  Sedangkan sambutlah dalam konteks Natal merupakan ajakan yang seharusnya tidak boleh diabaikan.  Siapa yang kita sambut sehingga tidak boleh kita abaikan ajakan ini? Yaitu  Juruselamat, Kristus, Tuhan.  Sambutlah Dia dengan suatu sikap hati seperti para gembala dan orang Majus. Para gembala memiliki kerinduan yang dalam sekali untuk menantikan Dia.  Orang Majus datang dari tempat yang jauh namun langkah mereka tetap maju. Orang yang layak menyambut Dia pertama-tama haruslah Ia memiliki kerinduan yang dalam akan kedatangan-Nya, bukan rindu hal yang lain.  Tapi rindu akan Firman-Nya. Rindu akan Kebenaran-Nya. Rindu untuk hidup dalam ketaatan pada titah-Nya.

Selanjutnya sikap yang harus ada setelah memiliki kerinduan itu adalah mau menyambut-Nya dengan hati yang tunduk dan mau diarahkan oleh Tuhan sendiri. Para gembala memperlihatkan hal itu. Mereka tidak saja memiliki kerinduan akan kedatangan-Nya, tetapi juga mau diarahkan oleh Dia. Ketika Malaikat datang kepada para gembala memberitakan tentang lahirnya Juruselamat dan mereka menuruti. Mereka mengambil sikap untuk pergi melihat bayi Yesus. Mereka mau diarahkan oleh Tuhan sehingga akhirnya mereka bertemu muka dengan Dia, Kristus Tuhan. 

Adakah kita memiliki sikap yang mau diarahkan oleh Tuhan?  Atau jangan-jangan kita memiliki sikap yang mau mengarahkan Tuhan? Kalau kita mau jujur, seringkali dalam hidup ini kita tidak mau diarahkan oleh Tuhan melainkan mau mengarahkan Tuhan.  Ini berbahaya.  Orang yang demikian tidak akan bisa menyambut Juruselamat itu.  Sikap seperti ini tidak dimiliki oleh para gembala.  Mereka mempunyai hati yang mau diarahkan oleh Tuhan, sehingga mereka boleh menyambut Juruselamat. Kita tidak bisa mengatur Tuhan. Tuhanlah yang mengatur kita.

Dalam mempersiapkan diri menyambut natal, mari mempersiapkan diri dengan lebih baik. Yang akan melayani boleh mempersiapkan diri untuk melayani dengan sungguh. Sehingga bukan sekedar euforia ingin tampil lalu bisa memperlihatkan diri kepada banyak orang. Tetapi mari memiliki sikap yang yang taat mau melayani mempersiapkan diri melalui latihan-demi latihan. Tetapi perlu kita ingat, Jangan berpikir bahwa dengan persiapan matang yang telah kita lakukan untuk menyambut natal, menjadi jaminan kita layak menyambut Dia. Namun orang yang sungguh-sungguh mau menyambutnya pesti mempersiapkan diri dengan semaksimalnya.  Jangan berpikir bahwa berpenampilan yang baik akan menjamin kita layak menyambut Dia.  Jika kita tidak memiliki kerinduan yang dalam dan hati yang mau diarahkan oleh Tuhan, maka kita tidak akan layak untuk menyambut Dia. Segala persiapan boleh baik, penampilan boleh baik, tetapi yang lebih penting adalah hati kita. Hati kita harus taat dalam menyambut Dia.  Bukan penampilan luar, tetapi hati kita yang Tuhan inginkan. Akhirnya, Persiapkanlah diri, Sambutlah Dia. Amin. Pdt. Netsen

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top