Sapaan Gembala

Memaknai Allah Yang Beserta Kita

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Sun, 31 December 2017 - 09:52 | Dilihat : 234
Tags : Allah Beserta Kita Makna

Masing-masing penulis kitab Injil Sinopsis memulai tulisannya dari titik yang berbeda, akan tetapi mengerucut pada titik intisari pemberitaan yang sama. Perbedaan mereka hanya berkenaan dengan kemasan sajiannya berkenaan dengan tujuan penulisan dan untuk kepentingan penerima berita Injil tersebut. Bila Matius memulai suratnya dengan mengupas silsilah Kristus dari pusat kebanggaan orang Yahudi, yaitu tentang ke-Yahudian mereka dan bahwa mereka adalah keturunan Abraham dan Daud, maka Markus memulai pemberitaannya dari titik pentingnya kehadiran Yohanes pembaptis sebagai pembuka jalan bagi datangnya Sang Juruselamat. Lain lagi dengan Lukas, meski ia memulai tulisannya dengan memberitahukan tentang kelahiran Yohanes pembaptis, namun ada suatu tambahan penekanan yang ia berikan, yakni tentang sepasang keluarga Iman, imam Zakharia dan Elisabet yang adalah seorang yang begitu setia menjalankan kebenaran, bahkan mereka hidup benar di hadapan Allah, namun ternyata pergumulan mereka amatlah besar, yaitu tidak memiliki anak., sampai di usia mereka yang sudah terbilang lanjut. Tetapi tidak ada seorang pun yang dapat menyangka dan memahami bahwa ternyata anak yang mereka sangat nantikan dan rindukan adalah seorang pembuka jalan bagi Kristus. Yang kemudian kita tahu bahwa dialah yang memberitakan bahwa kerajaan sorga sudah dekat, menyerukan tentang pertobatan dan meminta orang-orang melihat kepada Yesus Kristus bahwa Dialah penghapus dosa dunia. Dalam kisah yang fenomenal, maka Yohanes Pembaptis bersuara dengan sangat keras lalu menegur dosa raja Herodes yang telah mengambil istri Herodias saudaranya. Karena kemarahan Herodes yang tidak menerima teguran itu maka ia memenggal kepala Yohanes Pembaptis. Berbeda dengan lainnya juga, maka penulis kitab Yohanes memulai penulisannya dengan menancapkan secara langsung inti berita itu dibagian awal. Tanpa basa-basi, ia langsung berbicara tentang sang Firman yang bersama-sama dengan Allah. Lalu mewarkan bahwa Firman itu adalah Allah. Firman itu, telah datang ke dalam dunia, namun dunia tidak mengenal Dia. Tak hanya dunia, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu pun tidak menerima Dia.

Namun menarik bahwa Ia yang hadir ke dalam dunia ini, tidak dipernakan dari darah atau daging atau pun karena keinginan seorang laki-laki tetapi karena keinginan Allah. Mengapa demikian? Karena tak mungkin manusia yang berdosa diselamatkan oleh orang yang berdosa, yaitu Adam yang pertama. Tetapi kita yang berdosa hanya bisa diselamatkan hanya oleh orang yang sempurna dan tidak berdosa, yaitu Adam yang kedua – Kristus. Hanya Kristus yang berlayak dan mungkin menjadi wakil di hadapan Allah bagi manusia yang berdosa. Itu sebab Paulus dalam suratnya berkata, “Kristus Yesus telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah (Ef. 5:2). Di dalam kitab Filipi pasal 2, makin jelas dan tegas Paulus mengatakan bahwa Kristus yang hadir ke dalam dunia ini, Ia adalah Allah yang tidak mempertahankan kesetaraannya dengan Allah. Namun ia rela mengosongkan diri dan mengambil rupa sebagai manusia lalu datang ke dalam dunia dengan sikap merendahkan diri sampai pada titik kematian-Nya di kayu salib. Itu sebab para penulis Injil dan kitab PL dan PB, memberitakan nubuatan dan bersaksi secara terang benderang tentang penggenapan kahadiran kristus yang telah datang ke dalam dunia. Nada-nada sukacita pun dibubuhkan. Karena Kristus hadir dalam dunia maka Matius berkata, “Tanah Sebulon, Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, - bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar, dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang” (Matius 4:15,16). Malaikat pun mengumumkan berita gembira itu dalam lantunan pujian, “kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi diantara manusia yang berkenan kepada-Nya. Di sinilah kita melihat bahwa berita natal, bercerita tentang Kristus yang telah datang ke dalam dunia. Nubuatan yang telah lama diberitakan oleh para nabi dalam perjanjian lama kita digenapi dalam Kristus Yesus yang menjelma menjadi manusia. Namun demikian penting untuk selalu diingat bahwa Natal handaklah mendatangkan kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi serta menciptakan sejahtera di bumi. Mengapa sejahtera? Karena kedatangan-Nya ke dalam dunia adalah pengharapan dan sekaligus menjadi jaminan bagi kita untuk percaya kepada Allah yang beserta kita. Saat kita jatuh dalam dosa, Ia tidak membiarkan dan meninggalkan, apalagi melupakan. Melainkan mencari dengan suatu pertanyaan, “Adam dimanakah engkau?” Bagi saya pertanyaan ini begitu jelas dan pribadi. Adama dimanakah engkau? Tuhan tidak hanya ingin menyatakan bahwa posisi Adam telah bergeser namun Ia pun ingin menegaskan. “Adam meskipun engkau telah jatuh, tetapi saya disini mencarimu, mengasihimu, dan beserta dengan engkau!” Kalau kalimat dan makna pertanyaan ini kita tanggap dan renungan maka kita dibuatnya tersentak. Di saat manusia sibuk dengan dosa, manusia sibuk dengan penenuhan dan pemuasan keinginan jasmani maka Allah datang untuk memenuhi kebutuhan terpenting dalam diri kita. Yaitu kebutuhan tentang Allah dan hanya Dia saja. Itu sebab tepat sekali bila Alkitab berkata, Dia adalah Bapa yang kekal dan Raja damai.

Allah itu beserta kita. Penyertaannya tidak terbatas aatau ada limitnya, namun unlimited. Penyertaannya bukan hanya saat kita aman dan tentram namun dalam bahaya sekalipun sertanya penuh dan sempurna. Ia pun tidak hanya menyertai saat kita menapaki hari-hari dalam dunia ini. Namun Ia pun terus menyertai kita sampai akhir zaman dan bahkan sampai menuju dan ada di kekekalan. Tanpa serta Tuhah betapa rapuh dan tak berdayanya kita. Kita bukan hanya hina namun kita pasti binasa. Tetapi karena Ia beserta maka maut sekalipun bukanlah segalanya. Karena Tuhan, yang adalah Imanuel – Allah beserta kita, itulah yang menjadi kekuatan, pengharapan serta jaminan bagi kita ditiap musim kehidupan. Hari natal boleh kita rayakan, perayaan natal boleh penuh keagungan namun jangan lewatkan kesempatan natal ini untuk kita larut dalam perenungan dan pemaknaan yang mendalam bahwa Allah adalah Pribadi yang selalu beserta dengan kita. Terimalah Dia, dan berjalananlah bersama-Nya, maka kita akan mengalami sukacita dan damai yang sejati.

Oleh: Pdt. Nikodemus Rindin

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top