Romantisme Gelap Dalam Terang (Efesus 5: 8-10)

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 9 January 2018 - 09:08 | Dilihat : 308

Romantisme, itu bahasa kekinian bicara tentang mengenang kembali apa yang pernah dilalui.  Kalau itu kenangan yang manis, yang baik, yang mengharukan, emosi tercurah di sana, tentu tidak mengapa di kenang lagi.  Tapi bagaimana kalau itu bicara tentang gelap-terangnya kehidupan?  Tentu perlu dipertimbangkan.  Satu sisi mengenang sebagai sarana kesaksian bagaimana kondisi diri dahulu dan perbedaannya sekarang ini.  Tapi kalau gunanya untuk kebalikan, itu yang perlu dipertanyakan. Untuk apa?

Perlu dipertanyakan kalau romantisme untuk mengenang kembali “indahnya” hidup GELAP di masa lampau.  Sebab bagi sebagian orang, hidup di kegelapan lebih “mengasyikkan” dari pada hidup dalam terang.  Mengapa? Sebab di dalam terang akan kentara semua; nampak jelas, sementara di dalam gelap, semua serba redup, tertutupi dan mungkin saja aman.  Tapi sikap seperti itu ditolak keras oleh Paulus.  Seperti dalam suratnya kepada jemaat Efesus, paulus dengan jelas berkata: “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang (Efesus 5:8)”.

Di bagian suratnya itu Paulus tidak sekadar bicara sebuah identitas, sebuah perubahan kontras identitas, tapi juga menunjukkan konsekuensi atas identitas baru itu.  Tidak sekadar bicara soal perpindahan dari gelap menuju terang, tapi juga petunjuk tegas, bagaimana hidup dalam terang tidak lagi bisa bercampur dengan gelap. Kalau sekarang ada di dalam gelap, hal yang patut dilakukan menurut paulus adalah: hidupnya harus betul-betul di dalam terang. 

Pertanyaannya kemudian, Hidup dalang terang itu konkritnya seperti apa? Buah daripada terang sudah sangat jelas dan gamblang, yakni berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran (9).  Itu buah hidup terang.  Tiga hal itu juga yang kemudian bisa dijadikan batu uji.  Jika ada orang yang mengaku hidup dalam terang, tapi nyatanya hidupnya tidak membuahkan kebaikan? Maka pernyataannya hidup dalam terang patut diragukan.  Begitu juga dengan dua hal selanjutnya.  Jika ada orang mengaku hidup dalam terang, namun tidak melakukan keadilan dan kebenaran, maka sesungguhnya orang itu tidak sedang ada di dalam terang.  Sebab orang yang dalam terang tidak akan menutupi kebenaran yang mencerahkan itu dengan bertindak sebaliknya.  Kalau bertindak berlainan dari kebenaran, maka orang itu sesungguhnya sedang bersembunyi di dalam pengakuan diri bahwa dirinya adalah terang, padahal sebenarnya gelap. 

Oleh karena itu, di bagian ini Paulus seperti mengajak kepada pembaca suratnya untuk merefleksikan diri. Sudah terangkah kita?  Apakah betul kita anak-anak terang? Jika sudah terang maka, yang pertama dilakukan adalah sama-sama merefleksikan identitas diri yang katanya terang dengan standar sejati hidup dalam terang.  Dengan demikian bukan sekadar pengakuan; tapi sebuah uji diri.  Selanjutnya, jika diri betul sudah ada dalam terang, maka sudah pasti hidupnya mencari perkenanan Sang Terang, Tuhan sedniri, dan bukan orang lain.  Hidup dalam terang bukan untuk diterima orang; hidup terang bukan untuk dikagumi dan puji orang.  Tapi hidup dalam terang adalah mencari perkenan Tuhan. Bukan orang. Itu saja. Pdt. Slamet Wiyono

 

Lihat juga

Komentar

Top