Penyebab Kemajuan Injil

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Fri, 19 January 2018 - 14:16 | Dilihat : 51
gambar-sapaan-20.jpg

Dalam Filipi 1:12-26, memamparkan tentang suatu penyebab kemajuan Injil yang memang tidak dapat dimanipulasi oleh siapa pun dan dengan cara apa pun.  Karena memang dalam fenomena yang terapung ke permukaan saat ini, bahwa seakan kemajuan Injil terjadi karena suatu pelayanan yang dipentaskan secara besar-besaran di atas panggung atau pun juga di depan publik, berupa pelayan KKR & Kesembuhan Ilahi serta pelayanan pemulihan sehingga semua orang berlomba-lomba melakoninya.  Teologi sukses dan para pengajar hyper grace pun telah berhasil memikat gairah umat dalam hidup ber-Tuhan karena siapa ikut Dia dan percaya kepada Dia pasti sukses dan hidup lancar, bahkan yang punya hutang bisa terlunaskan dengan gampang.  Gema berita mereka adalah siapa yang berbuat dosa tidak mengapa karena Allah adalah Allah yang pemurah, di tangan-Nya masih banyak stock pengampunan meskipun seseorang berulang-ulang kali melakukan perbuatan dosa. Padahal dengan mengejarkan hal yang demikian, mereka sebetulnya tanpa sadar berada dalam arus yang berlawanan dengan pengajaran Alkitab yang sesungguhnya.  Alkitab justru berkata, “siapa yang mau ikut Dia, harus menyangkal diri dan memikul salib.” Siapa yang berbuat dosa, memang Allah mengampuni dosa bila mereka mau datang dengan sungguh-sungguh karena suatu kesadaran  untuk bertobat tetapi perintah Yesus adalah, “jangan berbuat dosa lagi.” Semua pengajaran dan fenomena yang kacau balau, yang terlihat benar tetapi paslu adanya, pada akhirnya dilawan oleh para pengajar Alkitab yang sungguh-sungguh cinta firman Tuhan. 

Bagi saya, tulisan Paulus menyentak para pelayan dan pengajar yang tidak bertanggungjawab itu.   Ia memunculkan suatu pernyataan yang sangat penting yaitu bahwa “apa yang terjadi padanya justru telah menyebabkan kemajuan injil.”  Apa sesungguhnya yang terjadi dengan Paulus?  Paulus sedang di tawan di dalam penjara di Roma.  Namun alasan pemenjaraannya sangat agung, yaitu karena Kristus – berita Injil.  Ketika ia ada di dalam penjara apakah dia marah dan gentar?  Ternyata tidak, dia ternyata sungguh bersyukur karena hal ini justru menimbulkan kemajuan injil sehingga bisa di dengar jelas bagi seluruh istana dan para jemaat bahkan karenanya ia justru bertambah berani memberitakan firman Tuhan itu. Bagi Paulus meski dirinya ditahan dan tak diberikan keleluasaan dalam memberitakan firman tetapi hatinya begitu kuat dan bergairah memberitakan injil Kristus itu.  Keadaan tidak dapat menghambat kekuatan hatinya sehingga meskipun di dalam penjara tetapi hatinya keluar dari penjara dan karenanya ia menulis surat kepada orang-orang yang pernah dilayani di Filipi.  Paulus sadar betul tugas dan panggilannya, ia bukan seorang tawanan Roma, tetapi sesungguhnya dia adalah seorang tawanan Injil yang hidup itu. Saya rasa mengapa berita Injil menjadi kering saat diberitakan? Mungkin saja karena kurangnya api yang membakar hati seseorang pemberita itu.  Padahal harusnya kita pun harus bersemangat dan punya gairah yang sama seperti Paulus agar pesan Injil menjadi api yang membakar setiap jiwa yang mendengarkan tentang nama-Nya.

Menanamkan hidup sebagai dedikasi bagi Kristus adalah sukacita bagi Paulus sehingga ia menyampaikan berita dengan cinta bukan karena marah, jengkel atau terpaksa.  Kasih menyebabkan Paulus berani berkorban dan berani bersaksi bahkan tetap berdiri di atas kebenaran firman Tuhan.  Prinsip Paulus adalah rindu agar Kristus dipermuliakan dengan tubuhnya, baik dengan hidup maupun dengan kematian.  Bila menjalani hidup maka ingin menjalani dengan kualitas keberimanan tetapi bila suatu saat harus berada pada kematian maka merasa itu adalah suatu keuntungan karena cinta Tuhan.  Dengan kata lain bagi Paulus, hidup dan mati bukan suatu masalah, tetapi penting baginya untuk memastikan kalau dia hidup, ia hidup untuk siapa? Dan kalau ia mati, maka mati untuk siapa?  Dalam Roma 14:8, Paulus menegaskan bahwa baik hidup maupun mati, kita harusnya mempersembahkan kepada Tuhan karena kita adalah milik Tuhan. Namun sebelum ajal itu datang apa yang harus kita kerjakan?  Mestinya kita menjalani hidup dengan sungguh-sungguh dan melakukan apa yang kita bisa kerjakan demi perkembangan kemajuan injil sehingga umat semakin maju dan bersukacita dalam iman.  Dengan demikian kemegahan akan Kristus semakin bertambah-tambah dan cinta kepada-Nya semakin dalam.  Jangan pernah berhitung atau cengeng untuk hanya memikirkan diri sendiri tetapi mari berlomba kerjakan apa yang menjadi panggilan kita dihadapan sang Ilahi.

Kita masuk ditahun yang baru ini bukan suatu kebetulan, namun tentu ada maksud Tuhan bagi tiap-tiap kita yang Ia percaya agar kita isi dengan semestinya.  Jangan pernah ribut hanya karena urusan harta, selera dan kenikmatan dunia, tetapi marahlah pada diri bila ternyata kita masih payah dalam mengisi waktu-waktu kita sehingga terbuang tanpa makna.  Berlombalah, bertandinglah, isilah hidup dalam iman bukan hanya aktivitas keberagamaan dengan tetap setia kepada Tuhan.  Lakukan dan kerjakanlah ketetapan dan kehendak-Nya agar kita puas menjalani hidup sebagai orang percaya. Pdt. Nikodemus Rindin

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top