Mengekspose Kegelapan (Efesus 5: 11)

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 30 January 2018 - 10:43 | Dilihat : 34

Hidup dalam terang, ah.. itu gampang saja. Selalu berada di bawah cahaya matahari, atau selalu dibawah penerangan cahaya lampu. Itu kan namanya hidup dalam terang? 

Ya.. itu memang hidup dalam terang kalau dipahami secara hurufiah.  Tapi pengertian ini tentu saja berbeda dengan apa yang Paulus maksudkan.  Berbeda dengan apa yang Paulus ingin katakan kepada jemaat efesus. 

Hidup dalam terang yang ditekankan Paulus bicara tentang apa sebuah bentuk kehidupan, bukan sekadar gaya hidup,  yang diubahkan, yang dicerahkan.  Sehingga tidak lagi ada di dalam gelap.  Sehingga seluruh hidupnya sudah terbuka, terlihat, bisa dilihat.  Tidak lagi ada yang bisa disembunyikan.  Ayat sebelumnya ditunjukkan dengan sangat gamblang oleh paulus bagaimnana konkrit hidup di dalam terang itu.  Yaitu kalau orang itu menghasuilkan buah kebaikan, keadilan dan kebenaran (5:9). Karena itu, Tiga hal itu juga bisa dijadikan batu uji. Jika ada orang yang mengaku hidup dalam terang, tapi nyatanya hidupnya tidak membuahkan kebaikan? Maka klaim hidup dalam terangnya patut diragukan. Maka sesungguhnya orang itu tidak sedang ada di dalam terang. Sebab orang yang dalam terang tidak akan menutupi kebenaran yang mencerahkan itu dengan bertindak sebaliknya.

Di bagian ini Paulus seperti menegaskan kembali kepada jemaat Efesus  tentang apa itu terang dan hidup dalam terang.  Menegaskan kembali, kalau sudah hidup di dalam terang maka hal yang wajib. Kudu dan harus ditinggalkan dan hilangkan sama sekali adalah tidak lagi ikut; atau tidak lagi mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan gelap lagi (11).  Mengapa demikian? Bukan saja tampak terlihat aneh dan bertolak belakang -- Sudah ada dalam terang  kok masih menyenangi kegelapan.  Karena sejatinya terang akan menyibakkan kegelapan.  Dan kegelapan tidak akan pernah dan boleh ada jika ada terang di sana --  tapi juga sejatinya perbuatan-perbuatan kegelapan itu  tidak berbuahkan apa-apa (11).  Kata dalam bahasa aslinya “akarpos”  lebih menunjuk pada sebuah tindakan yang tidak membawa hasil apapun – tentu saja bagi kehidupan terang.  Artinya tidak membawa dampak atau buah positif bagi pertumbuhan hidup dalam terang seseorang.  Yang ada mungkin justru sebaliknya. 

Sehingga Paulus mendorong kepada jemaat efesus, daripada kembali melakukan tindakan kegelapan yang tidak berdampak baik bagi kemajuan iman atau kerohanian, lebih baik menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan itu (11).  Lebih baik mengekspos, menegur, dan membuktikan  bahwa tindakan kegelapan itu sungguh-sungguh gelap, sehingga tidak mendapat bagian dalam terang. 

Aktivitas mengekspose kegelapan ini tidak mungkin dilakukan oleh orang yang belum dicerahkan oleh cahaya terang. Aktivitas yang tidak mungkin diterapkan oleh orang yang masih menyenangi kegelapan. Karena itu, aktivitas mengekspose tindakan kegelapan berdampak dua sisi; pertama bagi orang yang masih ada di dalam kegelapan untuk disadarkan dan ingatkan kembali tentang betapa gelapnya tindakan kegelapan mereka.  Selanjutnya aktivitas yang sama juga sekaligus menjadi awasan bagi diri; menjadi perhatian bagi diri untuk tidak malah terjebak di kegelapan.   Tindakan mengekspose kegelapan juga sekaligus membawa diri semakin peka terhadap kegelapan, sehingga gelap yang ada di area abu-abu pun segera dikenali. Alhasil semakin lama orang mengespose, semakin mudah mengenali apa yang diekspose. 

Semakin lama orang tinggal di dalam terang dan beraktivitas dengan terang, semakin terang menguasai dan menyatu di dalam diri.  Semakin hari, kiranya semakin alergi, dan imun terhadap segala kegelapan.  Slawi

Lihat juga

Komentar

Top