Mengenal Alkitab

Efesus 5:12-13

Thu, 8 February 2018 - 16:36 | Dilihat : 164
Tags : Malu Manusia Terang

Terang menyibak kegelapan. Itu naturnya terang. Lumrahnya terang ya memang harus menyingkirkan kegelapan di sekitarnya. Kalau tidak, justru itu letak keanehannya, ada terang kok kegelapan masih kelihatan.

Metafora terang dan gelap di pasal 5 surat efesus ini dipakai Paulus untuk menjelaskan, betapa penting membedakan dengan tegas keduanya. Paulus menolak sama sekali pencampuran keduanya. Bukan setengah-setengah atau abu-abu. Gelap ya gelap, terang ya terang. Jelas dan tegas!

Metafora ini juga Paulus maksudkan untuk menjelaskan bahwa manusia yang sudah ada dalam terang pun harusnya demikian. Manusia terang, bukan saja tidak boleh bersentuhan dengan kegelapan, bahkan secara aktif harus mengekspose kegelapan. Sehingga nampak jelas dan terang benderang. Kalau orang masih ingin ada di dalam kegelapan, pasti akan menyingkir dari terang. Sebaliknya, orang yang sudah ada dalam terang, dan setia di dalam terang pasti akan bertindak seperti layaknya terang.

Di ayat 12 dan 13 ini Paulus kembali mengulang sekaligus memberi penegasan lebih lanjut tentang hal Terang dan Gelap. Bahwa menyebut hal-hal yang tersembunyi, tempat yang gelap, itu pun jangan. Sebab hal-hal yang tersembunyi dan gelap itu sungguh memalukan. Ya.. Memalukan!

Malu, adalah salah satu instrumen penting dalam hidup orang. Kalau orang melakukan sesuatu yang konyol, yang kurang baik, yang tak sepantasnya, maka respons sewajarnya adalah rasa bersalah dan rasa malu. Tapi kalau orang melakukan sesuatu yang konyol tapi masih biasa-biasa saja, sama sekali tidak merasa sangat tidak enak hati karena berbuat sesuatu yang kurang baik, maka orang akan dengan enteng berkata. “dasar tak tahu malu!”. Maka tak heran kalau Paulus menekankan, bahwa sesuatu yang tersembunyi dan gelap (kebalikan manusia terang), adalah sesuatu yang memalukan. Sesuatu yang tak pantas dilakukan, dan harusnya membuat diri kita menjadi tidak enak. Maka kalau ada orang terang yang coba mendekati kegelapan atau tempat tersembunyi dan terang itu terkalahkan oleh kegelapan, maka itu sesuatu yang memalukan. Maka dari itu, kalau ada orang yang sudah bertobat lalu mengingat hal yang pernah dia lakukan di masa lalau, maka enggan untuk mengingat kembali atau menyebutnya kembali. Karena memang hal-hal itu semua sangatlah memalukan.

Sebaliknya telanjangilah kegelapan dan bukan malah mengingat-ingat kembali dengan menyebutnya. Kata telanjangi masih menggunakan kata sama dengan ayat yang ke 11, yakni “elegcho”, artinya: menerangi, menegur, membuktikan, meyakinkan, dan menghukum. Ya, sedikitnya ada 5 kata kerja ini untuk menjelaskan kata “menelanjangi”, seperti digunakan oleh Paulus. Di sini menunjukkan, aktivitas “menelanjangi” kegelapan sangat dekat dengan mengekspose kegelapan itu sendiri. Bagaimana kegelapan dan ketersembunyian harus diterangi, sehingga tidak ada lagi gelap di sana. Bukan itu saja, kalau ada orang, pun diri yang melakukan tindakan kegelapan, entah sengaja pun tidak harus ditegur, bahkan dibuktikan kegelapan tindakannya, bahkan kalau perlu diri sendiri didisiplinkan, dihukum, sehingga tak lagi mendekat, apalagi berbuat tindakan kegelapan. Tidaklah berlebihan sesungguhnya, sebab kata kegelapan, seperti dinukil Paulus, dalam bahasa aslinya itu “akarpos”, menunjuk pada sebuah tindakan yang tidak membawa hasil apapun, tidak membawa dampak atau buah positif bagi pertumbuhan hidup dalam terang seseorang. Lalu untuk apa orang kembali masuk ke sana?

Slawi

Lihat juga

Komentar


Group

Top