Jonathan Edwards

Penulis : Pdt Netsen | Thu, 15 February 2018 - 10:42 | Dilihat : 95

Membaca kisah perjalanan kehidupan Jonathan Edwards memang memberi pencerahan dan kekuatan bagi mereka yang mampu menangkap kisah tersebut dengan baik. Kisah perjalanan hidup keberimanan salah seorang tokoh pembaharuan atau yang juga dikenal dengan tokoh kebangunan rohani ini menarik untuk dipelajari karena kisah tersebut bukan bagaimana dia menceritakan tentang siapa dan bagaimana dirinya, tetapi bagaimana orang lain menuturkan tentang dia. Misalnya, D. Martyn Lloyd-Jones (1899-1981), seorang pendeta dan theolog yang sangat berpengaruh, melukiskan Jonathan Edwards. “Saya tergoda, mungkin bodoh, untuk menyamakan kaum Puritan dengan pegunungan Alpen, Luther, dan Calvin dengan pegunungan Himalaya, dan Jonathan Edwards dengan puncak Everest! Bagiku, ia selalu tampak sebagai sosok yang paling mirip dengan Rasul Paulus,” demikian deskripsi dari pena Llyod-Jones sendiri. Walaupun mungkin kita akan mengatakan atau menganggap Llyod terlalu berlebihan, tapi itulah gambaran seorang Edwards bagi seorang Llyod.

Seorang tokoh lain bernama Samuel Hopkins (1721-1803), seorang pendeta dan theolog yang belajar theologi di bawah bimbingan Jonathan Edwards, mengatakan, “Presiden Edwards, dimana Edwards pernah menjadi Presiden dari Princeton University, adalah salah satu dari orang-orang yang terbesar, terbaik, dan paling berguna pada masa ini. Ada alasan untuk berharap walaupun ia sudah tiada, ia akan tetap terus berbicara untuk masa-masa yang akan datang, untuk manfaat yang besar bagi Gereja Kristus, dan kesejahteraan abadi bagi banyak jiwa dan tulisan-tulisan beliau akan menghasilkan panen kebahagiaan yang lebih besar lagi bagi manusia dan kemuliaan bagi Tuhan pada hari Tuhan.” Banyak tulisan Edwards yang dicetak, dijual, disediakan secara online dan disimpan di perpustakaan sampai detik ini, menandakan bahwa kutipan di atas sudah menjadi kenyataan.

Karena itu, melalui kisah hidup tokoh, Edwards ini, dimana kehidupan dan pemikiran Edwards akan “berbicara” dan mencerahkan kita sebagai orang percaya yang hidup saat ini, untuk semakin melihat dan menikmati kemuliaan Tuhan.

Jonathan Edwards adalah seorang pendeta dan theolog yang pemikirannya sangat luas. Ia membahas banyak topik, dari hal yang spiritual seperti kemuliaan Tuhan, sampai pada kehidupan sehari-hari seperti olahraga. Namun, yang membuat saya sangat tertarik kepadanya adalah kehidupannya. Ia memiliki kehidupan yang menghidupi Alkitab. Ya, sekali lagi: Ia benar-benar berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghidupi firman Tuhan di dalam hidupnya yang singkat. Karena itu, maka tulisan tentang bagian-bagian kisah kehidupan Edwards akan ditulis secara berseri. Sehingga kita dapat melihat cuplikan dari perjalanan hidup Jonathan Edwards dan sesekali berhenti sejenak untuk merenungkan apa sih yang bisa kita petik dari masa-masa itu.

Point pertama yang bisa kita dapatkan dan renungkan adalah adanya sebuah perasaan yang baru dalam diri Edwards. Seorang Amerika yang dilahirkan pada tanggal 5 Oktober 1703 ini sudah memperoleh pendidikan Alkitab dan theologi Reformed sejak kecil. Hal tersebut memungkinkan karena sang ayah, Timothy Edwards, adalah seorang pendeta. Steven J. Lawson, dalam bukunya yang berjudul The Unwavering Resolve of Jonathan Edwards, menuliskan bahwa Timothy mempersiapkan Jonathan muda untuk pelayanan dengan mengajarkan dia Alkitab, Katekismus Singkat Westminster, dan theologi Reformed. Melalui ayahnya, ia juga melihat secara langsung kehidupan Kristen dan tanggung jawab serta upah dari pelayanan sebagai pendeta. Selain itu, peran sang ibu, Esther Stoddard, juga sangatlah penting. Hal ini tercermin dari tulisan Stephen J. Nichols dalam bukunya yang berjudul Jonathan Edwards: A Guide Tour of His Life and Thought. Nichols mengatakan, “Sebagai tambahan, Jonathan belajar Alkitab, katekismus, kekayaan warisan kaum Puritan, dan iman Reformed dari ayahnya dan ibunya.”

Edwards bukan hanya diperkenalkan, tetapi juga telah “dilatih” kekristenan sejak kecil? Latihan yang disiplin dan terus-menerus itu ternyata tidak membuat Edwards otomatis bertobat dan menerima Yesus sebagai Juruselamatnya. Edwards baru benar-benar bertobat pada waktu ia berumur tujuh belas tahun, saat menyelesaikan program magisternya di Yale University.

Pertobatannya kepada Yesus Kristus yang tiba-tiba ini terjadi pada waktu ia sedang merenungkan 1 Timotius 1:17, “Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.” Berikut adalah kata-kata Edwards sendiri mengenai pertobatannya, “Datang ke dalam jiwaku, dan seolah-olah disebarkan melalui itu, sebuah rasa kemuliaan Sang Ilahi; sebuah perasaan yang baru, yang sangat berbeda dari apa pun yang pernah kurasakan sebelumnya.” Bertahun-tahun kemudian, Edwards merenungkan kembali pertobatannya di masa muda dan memberikan gambaran lebih lanjut sebagai berikut, “Aku pada waktu itu mulai memiliki suatu jenis pengertian dan gambaran-gambaran baru tentang Kristus, dan karya penebusan, dan jalan keselamatan melalui-Nya yang sungguh mulia. Sebuah perasaan yang mendalam, perasaan yang manis tentang hal-hal ini, kadang-kadang, masuk ke dalam hatiku; dan jiwaku dibawa pergi pada gambaran-gambaran yang menyenangkan dan perenungan akan hal-hal tersebut. Dan pikiranku sangat dipenuhi untuk menghabiskan waktu dalam pembacaan dan perenungan tentang Kristus, tentang keindahan dan kemuliaan pribadi-Nya, dan jalan keselamatan oleh kasih karunia yang cuma-cuma di dalam diri-Nya yang begitu indah.”

Pernahkah kita menyadari arti pentingnya dalam mengajarkan anak-anak kebenarana Alkitab dari sejak dini. Baik dalam konteks sebagai keluarga Kristen maupun dalam konteks gereja dalam mengajar dan melayani anak sekolah Minggu. Edwards salah seorang yang beruntung memiliki ayah dan ibu yang hidup dalam takut akan Tuhan. Mengajarkan kebenaran Alkitab tidak harus dengan menjadi seorang pendeta. Mengajakan kebenaran Alkitab adalah tanggung jawab setiap orang percaya yang telah ditebus oleh Kristus, Tuhan. Ketika orang diajarkan kebenaran belum tentu seketika itu mereka akan hidup seperti yang diajarkan pada mereka. Tetapi dengan mengajarkan kebenaran maka pengajar telah menanamkan konsep dan nilai yang benar bagi mereka yang diajarkan. Bagian kita adalah mengajar, mendoakan dan hidup dalam ajaran yang benar itu, selanjutnya kiranya Allah yang memberikan pertumbuhan bagi mereka yang diajar. Selanjutnya, pernahkah kita merasakan perasaan seperti  yang Edwards rasakan, suatu “perasaan yang baru, yang berbeda, yang mendalam, yang menyenangkan, yang manis” tentang Kristus dan karya penebusan-Nya. Pernahkan kita sungguh-sungguh berterima kasih kepada Tuhan atas jalan keselamatan “oleh kasih karunia, melalui iman” yang sudah Ia hadiahkan kepada kita? Kiranya Tuhan menolong kita. Amin. Netsen/dbs

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top