HAMBA KRISTUS YESUS

Penulis : Pdt Julius Mokolomban | Tue, 27 February 2018 - 12:48 | Dilihat : 107

“Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah” (Roma 1:1).

 

Saulus adalah sosok pribadi yang sangat dikenal pada awal gereja mula-mula. Pribadi yang begitu kuat memelihara adat istiadat nenek moyang, hebat dalam pengetahuan hukum taurat bahkan tidak segan-segan menganiaya, membinasakan orang-orang yang tidak sesuai dengan pemahaman hukum taurat. Kehebatan dan kepintarannya, membuat Ia dihargai, dikagumi dan dihormati dimana-mana. Sebagai orang farisi, hidupnya sangat berpengaruh, kini mengaku sebagai hamba Kristus Yesus. Sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan apa yang ia yakini sebelumnya, namun itulah yang terjadi. Saulus sang penganiaya pengikut Kristus, kini berbalik menjadi Hamba Kristus yang luar biasa. Orang hebat, kini menjadi “budak, hamba, pelayan” artinya seseorang yang bekerja untuk keperluan orang lain, dengan kata lain ia bekerja untuk melaksanakan kehendak orang lain bukan lagi kehendak diri sendiri.

Paulus, orang yang berpendidikan tinggi, yang dididik oleh guru Gamaliel dalam hukum  nenek moyang (Kis.22:3). Ia menjalankan tugasnya sesuai dengan yang diyakininya, bahkan diberi “kuasa” oleh imam-imam kepala untuk memuluskan rencananya, tetapi kini dipanggil Allah menjadi rasul. “Jawab Ananias: "Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Dan ia datang kemari dengan kuasa penuh dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu. Tetapi firman Tuhan kepadanya: "Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. (Kis.9:13-15).

Sang penganiaya, pembuat kejahatan, sekarang “dikuduskan” artinya “dipisahkan” disendirikan untuk tujuan khusus. Saulus yang adalah Paulus, di dalam tulisannya kepada jemaat di Roma, mengakui, memproklamirkan bahwa ia adalah “hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah” (Roma 1:1). Dalam hal ini, Ia telah membuktikan dirinya sebagai pelayan yang diutus, memberitakan kabar baik bagi banyak orang. Sang penganiaya, kini dianiaya, sang pembuat kejahatan, kini melakukan yang benar. Saulus, diberi kuasa untuk membunuh dan membinasakan orang percaya, kini menjadi Paulus, yang diberi kuasa oleh yang Mahakuasa untuk menyampaikan kebenaran. Sungguh menakjubkan! Bagaimana dengan kita?

Kehidupan orang percaya masa kini, terkadang tampak hebat mengaku diri sebagai hamba Tuhan, namun kenyataan hidupnya, lebih sering ia bekerja untuk pemuasan diri, bekerja untuk memperbesar diri, giat melakukan tugas untuk memayungi diri, berani berbicara untuk kehebatan diri. Mengaku pelayan Tuhan, utusan Tuhan, tetapi menyombongkan diri, sungguh ironis. Terkadang Gereja merasa hebat pada dirinya, memiliki pengetahuan alkitab yang baik, memiliki pekerjaan pelayanan yang luas, terkenal dimana-mana, tetapi hatinya busuk, meremehkan dan tidak peduli dengan gereja yang lain.

Orang Kristen dipanggil untuk mengabarkan Injil dalam hidupnya, tetapi terkadang tampil menjadi pemecah bela dalam gereja. Kita dipanggil untuk memberitakan injil, namun terkadang menjadi penjahat yang sok berkuasa, hati yang licik, mencari keuntungan diri, mempromosikan diri serta memfinah orang lain. Merasa sudah hidup kudus, tetapi berbuat dosa terus menerus. Merasa sudah mengasihi tetapi masih menghakimi, merasa benar, tetapi sesungguhnya tidak benar. Jadi, kekristenan bukan apa yang kita rasakan, tetapi apa yang kita lakukan. Bukan apa yang kita pikirkan, tetapi apa yang Tuhan perintahkan untuk dilakukan. Ingatlah, hamba Kristus Yesus, pasti melakukan apa yang diperintahkanNya, dan  bukan sebaliknya. Tuhan memberkati! Pdt. Julius Mokolomban

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar

Top