Sapaan Gembala

Berjalan Dalam Kesendirian

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Thu, 1 March 2018 - 09:03 | Dilihat : 379
Tags : Berjalan Kesendirian Sendiri

Saat lorong gelap itu datang maka suasana indah menjadi berubah total. Awalnya sunyi dan menakutkan namun perlu waktu untuk menyingkapinya dan menyiasatinya untuk menjadi terbiasa. Orang disekitar mungkin berusaha untuk peduli dan menghibur namun mereka tak tahu pasti apa yang tersimpan di dalam hati sehingga tepat dalam solusi. Menyendiri dalam jalan sunyi memang tak menyenangkan apalagi dalam suasana duka yang mendalam. Adakah suatu jawaban yang pasti dan memberikan berita harapan? Cenderungnya adalah tak ada kata yang bisa mengisi hati lalu mengubahnya dengan tiba-tiba menjadi lebih baik lagi. Semua jawaban bisa saja hanya sekedar basa basi, hampa dan kosong adanya. Sehingga menarik ada suatu jeritan dari seorang pemazmur bahwa ia melayangkan matanya ke gunung-gunung menantikan akan datangnya suatu pertolongan. Tak ada yang bisa menolongnya, ketika ia berada dalam kesendirian dan ketidakberdayaan hidup. Saat kita everything dalam segala hal maka banyak orang yang menghibur dan mau berkawan dengan kita namun saat kita dirundung pergumulan dan air maka maka banyak orang yang akan menjauh dan menghindari kita. Entah karena maksud baik atau maksud tidak baik, tetapi pastinya ketidakadaanmu akan menjauhkan orang darimu. Mereka akan menempel bak benalu hanya untuk menginsap darah yang engkau miliki namun tak sedikit memang yang peduli karena hati nurani mereka yang memang jujur adanya. Tapi tak mengapa, apakah orang peduli atau tidak maka kehidupan kita pun harus terus berjalan dengan sehat dan melangkah maju ke depan. Tak ada yang salah dengan kesendirian, air mata dan kesepian hidup dan situasi hidup? Memang pastinya sulit ketika kita ada di dalamnya. Namun ada satu hal yang pemazmur ingin ingatkan kepada kita bahwa saat kita mencari suatu pertolongan kemudian kita tidak menemukan jalannya maka harus kita sadar bahwa tetap ada penolong yang tak akan pernah membiarkan kita sendirian, yaitu pertolongan yang datangnya dari Tuhan.

Tapi pernahkah engkau sadar bahwa ada satu pribadi yang betul-betul mengalami ketertinggalan dan keterasingan yaitu Yesus Kristus yang tergantung di salib itu. Ia berkata, “Ya Bapa, mengapa Engkau meninggalkan Aku.” Kalimat itu final! Dan keterasingan, kesendirian dan tanpa suatu pertolongan bahkan dari Bapa-Nya itu betul-betul di alami-Nya. Ini bukan suatu drama agar terlihat menyedihkan. Namun ini merupakan suatu kondisi yang amat serius! Ia dibiarkan sendiri saat goncangan itu datang mendatangi-Nya dan saat-saat Ia sendiri memerlukan pertolongan. Ia harus melihat kenyataan pahit bahwa diri-Nya tidak mengalami persekutuan dengan Bapa-Nya, dan ditinggalkan begitu saja. Bapa-Nya meninggalkan-Nya dalam kondisi yang ditelanjangi, disiksa dan tergantung sebagai seorang yang terkutuk di kayu salib. Muncul pertanyaan bagi kita, apakah Ia pantas menerimanya? Tentu saja tidak, yang pantas adalah kita. Mengapa Ia ditinggalkan? Agar kita tidak ditinggalkan oleh Allah. Mengapa Ia ditinggalkan karena Ia menanggung dosa kita di salib itu. Mengapa Ia ditinggalkan karena Bapa tidak sanggup melihat dosa dan sekaligus tidak sanggup melihat penderitaan yang dialami anak-Nya. Pertanyaan saya adalah, apakah dalam kondisi yang tidak menyenangkan kita benar-benar ditinggalkannya? Menurut saya tidak, karena dia berkata bahwa Ia menyertai kita sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20). Ia pun berkata, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau (Ibrani 13:15).” Suatu kalimat demi kalimat yang sangat mendalam dan sekaligus menghibur kita. Membawa kita untuk menatap diri dengan suatu kesadaran penuh bahwa ternyata dalam kondisi apa pun aku tidak pernah ditinggalkan-Nya. Ia sangat peduli dan setia bersama denganku disetiap langkah kehidupan. Hal ini membawa kita dalam suatu pemahaman bahwa saat orang lain pergi dan tak peduli bahkan meninggalkan dengan caki maki maka ia sangat peduli dengan diriku dan Ia tahu kebenaran yang sesungguhnya. Itu sebab saya sangat senang dengan apa yang dikatakan oleh pemazmur, “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu , ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?, waktu mendaki ke langit Tuhan ada di sana, ketika seseorang menaruh tempat tidurnya di liang kubur pun Tuhan ada di sana, ketika aku membuat kediamanku di ujung laut Tuhan ada di sana, bahkan ketika terang disekelilingku menjadi malam pun Tuhan hadir di sana, gelap pekat itu dibuat-Nya menjadi terang benderang (Mazmur 139).” Mengapa Ia selalu ada dan selalu hadir di setiap ruang kehidupan kita? Karena Dialah pencipta kita dan Dialah pemimpin hidup kita sehingga hidup kita menjadi hidup yang mengalami perjumpaan yang utuh dan penuh bersama-Nya setiap saat dan setiap kondisi hidup. Bahkan di jaganya hati kita agar setiap jalan yang ditempu diarungi dengan kehidupan yang bersih dan tak bercacat dihadapan-Nya. Karena Ia tak mau, jalan kita menjadi serong dan tidak menuju pada jalan yang kekal itu. Karena itu maka penting bagi kita untuk berjalan dalam jalan kebenaran walau pun tak ada yang tahu bahkan ketika kita hanya seorang diri di sana. Berjalanlah dalam jalan kebenaran meski orang lain tidak suka, karena memang itulah jalan yang harus dilalui oleh setiap orang percaya. Mungkin engkau akan merasa terasing dan sengaja diasingkan karena jalan itu. Tetapi itulah pertandingan kehidupan orang benar. Yang berani menantang arus jaman dengan segala konsekuensi dan resiko yang ada. Tetapi pastikan bahwa anda ada di sana karena kehendak Tuhan dan kemauan-Nya, bukan karena suatu kekonyolan.

Itu sebab kesendirian tak seharusnya menyeret kita dalam duka lara yang ujungnya membawa kita dalam kehidupan yang berdosa dan kesepian tak bertepi. Namun harus disadari bahwa di dalam kesendirian pun ada tangan Tuhan yang selalu serta. Dan menariknya adalah serta-Nya bagi kita untuk menuntun dan memimpin kita di jalan yang benar dan agar kita bisa menikmati jalan yang kekal, yaitu jalan surga itu. Banyak orang yang sendiri dalam menjalani hari-harinya namun kehilangan kesempatan untuk menikmati jalan kekal itu. Dan bahkan kehilangan persekutuan dengan Bapanya yang di surga, bukan karena ditinggalkan namun meninggalkan. Ini adalah suatu ironi dari kehidupan keberimanan manusia. Nabi Yunus meninggalkan Tuhan, namun Tuhan setia dan tidak meninggalkannya. Demikian juga dengan bangsa Israel, mereka meninggalkan Tuhan namun ajaibnya Tuhan tetap setia. Mestinya kita malu dan belajar dan harusnya semakin sendiri, kita semakin bergantung dan mempercayakan diri pada-Nya dan membiarkan Dia untuk merajut kita dalam ukiran-Nya yang mulia. Dia ditinggalkan bukan karena mau-Nya karena pinta-Nya adalah kebersamaan dengan Bapa seterusnya dan tak ada waktu keterpisahan. Namun kalau kita keterpisahan dengan Bapa adalah karena keinginan kita sendiri, karena kita seringkali tidak menyadari betapa pentingnya persekutuan itu, dalam kondisi dan situasi apa pun. Karena itu, renungkanlah kembali kasih Tuhan dan pertolongan-Nya, Ia selalu hadir dan bersama dengan kita, karena Dialah Allah yang Imanuel, yaitu Allah yang berserta dengan kita sampai kesudahan jaman. Pdt. Nikodemus Rindin

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top