Sapaan Gembala

Hidup Di Planet Yang Terkutuk

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Thu, 29 March 2018 - 16:18 | Dilihat : 286
Tags : Hidup

Taman Eden adalah taman yang sangat indah. Di taman itu manusia pertama, Adam dan Hawa hidup dan menetap. Sebelum dosa masuk, maka berbagai keindahan dan kenikmatan hidup ada di sana. Penyediaan dari Tuhan pun tak kurang-kurang, “Semua buah pohon dalam taman itu boleh dimakan, kecuali buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat.” Itu sebab seorang penulis bernama Dave Early, mengatakan bahwa “Saat diciptakan, bumi adalah taman tropis surgawi yang sangat indah dan limpah. Semua ciptaan - tumbuhan , binatang dan manusia hidup dalam keharmonisan yang sempurna di bawah pemerintahan Alllah.” Bumi adalah tempat yang sangat indah, dan satu-satunya Planet yang penuh dengan kekayaan dan kehidupan serta bumi adalah satu-satunya Planet yang memiliki banyak air di dalamnya sehingga kehidupan sangat mungkin ada di sana. Dalam khotbah, Pdt. Stephen Tong berkata bahwa, “Kenapa mahkluk hidup banyak di Planet bumi? Itu karena bumi menyimpan banyak air di dalamnya.” Dan bila kita sedikit mau melanjutkannya pada nada yang sedikit lebih rohani, maka kenapa Kristus datang ke dalam dunia? Karena dunialah yang membutuhkannya. Namun anehnya, dunia yang adalah ciptaan-Nya dan kepunyaan-Nya, justru dunia itulah yang menolaknya. Padahal Kristus adalah air hidup, melebihi segala sumber air yang ada di dalam dunia. Ia sudah ada sebelum Abaraham ada dan Dialah Alfa dan Omega.

Kembali lagi ke bagian pembahasan di atas bahwa, manusia yang telah diciptakan oleh Tangan Allah Tritunggal maka manusia disedikan kelimpahan yang amat sangat. Seluruh kenikmatan dunia dan kekayaannya pada waktu itu hanya dimiliki oleh dua orang saja, yaitu Adam dan Hawa. Dan mereka memilikinya bukan dengan kerja keras, semua hanya pemberian Allah saja dan sudah tersedia dengan limpah. Namun sayang, meski mereka sudah memiliki kekayaan yang sungguh luar biasa, ternyata hati mereka justru diperhadapkan dengan godaan dari satu buah yang sudah Tuhan larang. Ternyata mereka tidak puas dengan apa yang sudah ada di tangan, merasa kurang karena masih ada satu lagi yang belum mereka miliki. Akibatnya, mereka menerima godaan dan tawaran setan agar mengambil buah yang dilarang itu, karena ad aiming-iming dari setan kalau mereka memakannya maka meraka akan sama seperti Allah. Ketidaktaatan mereka justru mengakibatkan kehancuran dan kejatuhan hidup, sehingga mereka terbuang dari hadapan Allah dan hidup menderita. Sebab dosa mengakibatkan tanah dimana mereka tinggal menjadi tanah yang terkutuk dan harus diusahakan dengan peluh dan keringat yang luar biasa. Ketidaktaan Adam dan Hawa membuat planet bumi berada di bawah kutuk. Sejak saat itu pun bumi mengeluh dengan berbagai kesulitan dan kesakitan (Kejadian 3:17-19). Karenanya tahulah kita bahwa dosa mengasilkan kesakitan, kejahatan dan kematian.

Sejak hari Planet terkutuk itu, maka semua ciptaan mengerang dan menanti hari penebusan itu. Tidak ada yang bisa memberikan pengharapan dan sukacita pada manusia kecuali benih dari perempuan itu, karena Dialah yang ditentukan Allah untuk meremukan kepalanya (Kejadian 3:15). Kristus yang dijanjikan Allah adalah sumber pengharapan bagi Adam. Darah domba yang tertumpah untuk menutupi tubuh Adam dan Hawa adalah symbol suatu korban yang harus dipersembahan turun temurun agar Allah berkenan. Lalu Habel pun mempersembahkan domba sebagai korban persembahan kepada Allah. Abraham mempersembahan domba sebagai korban persembahan kepada Allah menggantikan anaknya. Bangsa Israel pun turun temurun melakukan korban domba, darah tertumpah sebagai symbol persembahan kepada Allah. Dan puncaknya kita tahu bahwa Kristus sendiri menjadi korban pendamaian antara manusia dengan Allah. Dialah domba Allah itu dan Dialah korban yang sejati, sekali untuk selamanya. Karena Kristus telah menebus kita, maka Paulus berkata, “Persembahkanlah hidupmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, itulah ibadahmu yang sejati.” Karena itu, tahulah kita kenapa kita harus hidup di dalam dunia ini. Meski dunia ini akan berlalu dan lenyap serta tidak kekal. Namun bukan berarti kita harus berpasrah diri dan tanpa pengharapan. Di dalam Kristus kita telah diperdamaikan dengan Allah dan telah memiliki jaminan keselamatan. Firman Tuhan menjadi kekuatan dan pegangan yang menolong kita untuk hidup benar dan mempermuliakan nama-Nya. Kutuk dosa itu telah ditanggung oleh Kristus Yesus Tuhan kita. Namun karena kita telah ada di dalam Kristus maka kita telah menjadi ciptaan yang baru sekaligus telah menjadi hamba-Nya karena kita telah dibeli-Nya dengan harga yang sangat mahal. Permintaan-Nya kepada kita adalah, Mari ikutlah Akau, sangkal dirimu dan pikul salibmu setiap hari.

Menjadi pertarungan dan perjuangan yang penting bagi kita, bagaimana kita berjuang melawan keinginan daging kita dan menuruti kehendak Allah Bapa. Dalam dunia yang akan binasa ini, kita harus menaruh harap bukan pada dunia, namun kepada Dia yang berkuasa baik di bumi maupun di surga. Tanpa berpegang pada-Nya maka kita akan kecewa dan kehilangan arah dalam hidup. Tak cuman itu, namun kita yang telah ditebus patut hidup seperti Kristus hidup. Ia mau mengerjakan kehendak Bapa dan melakukannya dengan rela sampai mati tersalib. Karena itu, hidup benar adalah menjadi semangat kita dan melakukan semua pelayanan yang Tuhan percayakan dengan rela menjadi warna hidup orang percaya.

Karena itu, meski bumi terkutuk namun karena Kristus kita lepas dari kutukan yang membinasakan itu sehingga kita dapat mengalami hidup dalam kemenangan bahkan kelimpahan bersama dengan-Nya. Kuasa dosa telah dikalahkan-Nya, itu sebab perintah-Nya kepada kita “Jangan berbuat dosa lagi” artinya marilah kita hidup benar dan berbuah-buah dengan maksimal, seturut dengan apa yang dipercaya dan yang kita bisa. Pikirkan dan lakukanlah hal yang mesti sebagai rasa syukur terhadap anugerah-Nya yang agung itu. Jangan melakukan hal yang kurang, agar kita tidak menyesal kemudian dan janganlah melakukan hal yang terlalu berlebihan agar kita tak menjadi menepuk dada. Tetapi lakukanlah dengan semangat bahwa kita sungguh mencintai-Nya dan rela melakukannya tanpa menghitung untung dan ruginya.

Bertandinglah, karena hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Hiduplah bagi Kristus dan bukan bagi dirimu sendiri. Kalau Kristus sudah menyerahkan hidup-Nya bagi saya, masakan saya tidak menyerahkan hidupku kepada Dia yang layak dipercaya. Bumi ini memang terkutuk karena dosa, namun saya telah mengalami persekutuan yang indah dengan Juruselamatku. Ia tidak hanya melepaskan kutuk itu, namun Ia membawaku pada kehidupan kekal dan perjumpaan yang Agung dengan Allah Bapa. Jurang yang terpisah kini menjadi dipulihkan. Aku bisa berjumpa dan menikmati persekutuan dengan-Nya setiap saat dan waktu. Persekutuan itulah yang mendorong banyak orang melakukan hal-hal yang besar bagi Allah dan mengharapkan hal-hal yang besar dari-Nya. Persekutuan itulah yang memungkinkan orang-orang yang telah kehilangan pengharapan kini menemukan suatu pengharapan yang besar sehingga rela melakukan suatu penyerahan yang total kepada-Nya. Persekutuan itulah yang membuat orang-orang yang sudah hampir berada diambang kematian tetap berani menempuh lembah baka, karena mereka yakin Tuhan yang setia tetap berserta. Ketika Tuhan menjadi Gembala, maka tak ada kekurangan namun Ia memenuhkan seseorang dengan pimpinan, keberanian, kekuatan dan kemampuan untuk terus melangkah. Itu sebab tak penting apakah engkau sakit atau sehat, tetapi sangat penting apakah Tuhan masih menjadi Gembalamu atau tidak! Tak penting engkau kaya atau berkekurangan, tetapi penting apakah engkau berjalanan dengan Gembalamu atau tidak! Karena itu, jalani hari-harimu dengan berpegang pada Gembala yang Agung itu, maka engkau akan berkata, “Tuhan adalah Gembalaku dan aku adalah domba Gembalaan-Nya.” Pdt. Nikodemus Rindin

Lihat juga

Komentar


Group

Top