Mengenal Alkitab

Efesus 5:15-17

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 5 April 2018 - 17:08 | Dilihat : 185

Menebus Waktu

Jika Kristus bercahaya, maka segala tindakan kegelapan akan ditelanjangi; segala kegelapan akan disingkirkan oleh sebab terangNya. Karena itu mereka yang sudah bangun dari gelap dan bangkit dari kematian, jangan kemudian malah bernostalgia dengannya; atau bunuh diri rohani dengan kembali hidup di dalam kegelapan.

Ya, itu yang seharusnya dilakukan oleh orang yang sudah ada dalam terang. Bukan sekadar ada di ranah diskusi atau ranah opini semata, tapi berpengaruh langsung dengan hidup praktis orang. Untuk itu tidak boleh tidak agar senantiasa memperhatikan dengan saksama bagaimana harus hidup (15). Memperhatikan hidup bukan soal melihat atau memandang bagaimana cara hidup, tapi dalam bahasa aslinya “blepo” kata ini memiliki banyak sekali makna, yang saya pikir tidak boleh dilepaskan begitu saja. Memperhatikan berarti juga mengamati, mencamkan, bersikap hati-hati, mengingat, awas, Waspada. Jadi, kata memperhatikan hidup di sini memiliki arti atau makna yang jauh lebih mendalam daripada sekadar melihat.

Kata memperhatikan dilawankan langsung dengan kata Bebal. Artinya kalau orang yang sudah hidup dalam terang tidak bersikap waspada dengan hidupnya; tidak bersikap hati-hati dan mawas diri dengan apa yang dilakukan, maka sama saja dengan orang yang bebal. Orang bebal adalah mereka yang tidak selalu saja berulang melakukan hal sama, dalam hal ini dosa. Orang bebal adalah orang yang tidak takut berbuat dosa. Hal itu sekaligus menunjukkan bahwa orang bebal tidak pernah memperhatikan; mewaspadai; berhati-hati dalam hidupnya. Dan kejatuhannya kembali dalam lubang dosa yang sama, menjadi bukti bahwa orang bebal memang tidak pernah belajar dari hidup yang dilaluinya. Tidak pernah belajar dari masa lalu. Atau mungkin cuek sama sekali dengan hidupnya, sehingga tidak peduli dengan apa yang terjadi dan sedang dia jalani. Karena itu kepada jemaat efesus Paulus berkata tegas, agar tidak menjadi bodoh (17), tentu saja merujuk kepada orang bebal yang bodoh dan memang masa bodoh dengan hidupnya.

Agar tidak menjadi bodoh Paulus menunjukkan kuncinya kepada jemaat Efesus, yakni agar senantiasa mempergunakan waktu yang ada. Lagi-lagi pilihan kata Paulus bukanlah sembarang kata. Yang dimaksud dengan “mempergunakan” di sini menunjuk pada maksud “menebus”.

Dulu, ketika masih ada di dalam gelap, orang begitu menyia-nyiakan waktunya; membiarkan terbuang begitu saja. Ada begitu banyak waktu yang terbuang dan hilang. Untuk itu, ketika sudah ada di dalam terang, maka Paulus mendorong orang untuk menebus apa yang sudah mereka buang itu dengan mempergunakan waktu sebaik-baiknya. Menebus waktu bukan berarti mengembalikan waktu yang sudah terbuang sia-sia itu, lalu menjalani kembali dengan lebih baik. Tidak. Tidak demikian. Karena secara kronologis tidaklah mungkin dilakukan. Waktu akan terus berjalan maju, dan tidak akan mungkin mundur. Tapi yang Paulus maksud dengan menebus waktu adalah, menjalani waktu yang ada, yang akan dilalui nanti, mengisinya dengan kegiatan dan tindakan yang jauh lebih baik lagi. Artinya, tidak lagi menyia-nyiakan waktu seperti yang pernah dilakukan ketika masih berada dalam kegelapan dulu.

Mengapa harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya? Sebab, kata Paulus, “hari-hari ini adalah jahat”. Kalau tidak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, bukan tidak mungkin orang terjebak dalam hari yang jahat itu. Bagian ini mengingatkan saya pada pernyataan Ronggowarsito, seorang toko Jawa Kuno, yang menyatakan: “Saiki Jaman Edan, Yen Ora Melu Edan, Ora Keduman”(Sekarang zamannya sudah gila; kalau tidak ikut gila, tidak akan kebagian). Pernyataan Ronggowarsito ini bukanlah kalimat perintah atau ajakan; tapi sebuah pernyataan satire yang menunjuk pada kondisi zaman yang dia lihat dan perhatikan. Saya rasa apa yang dikatakan Ronggowarsito ini senada dengan pernyataan Paulus bahwa “Hari-hari ini jahat”. Pertanyaannya, kalau zamannya sudah edan atau hari-hari ini jahat, apakah orang harus ikut jahat supaya dapat ambil bagian di dalamnya? TIDAK. Sama sekali tidak. Paulus mengarahkan justru orang melawannya, orang menantangnya dengan cara: 1. Tidak berkubang di dalamnya; 2. Melakukan tindakan yang justru berlawanan dengan jahatnya dunia. Yakni, dengan mengisi waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Orang yang memilih bertindak demikian Paulus sebut sebagai orang arif, berhikmat dan bijaksana (15).

Menebus waktu, bukan sekadar hanya dengan mengisi dengan baik, tapi mengisi waktu menuju satu tujuan yang terarah, yaitu, mengusahakan diri supaya mengerti kehendak Tuhan. Ada fokus dan arah yang jelas. Dan inilah poin utama dari menebus waktu yang Paulus maksudkan. Sebab, dengan mengerti kehendak Allah, maka otomatis orang berada di rel yang tepat. Orang yang mengerti kehendak Allah akan sangat menghargai waktu pemberian Tuhan. Mengisinya pun sejalan dengan apa yang Tuhan mau. Bukankah indah orang yang hidup dan bergumul di dalam terang? Sebab mereka adalah orang yang arif nan bijaksana, yang mengisi seluruh waktu anugerah Tuhan itu dengan menjalankan apa yang Tuhan mau dan kehendaki. Slawi

Lihat juga

Komentar


Group

Top