Sapaan Gembala

Tempat Perteduhan Dalam Hidup

Penulis : Pdt Nikodemus rindin | Tue, 8 May 2018 - 12:07 | Dilihat : 115

Ada suatu kesadaran tinggi yang dimiliki oleh Musa dalam puncak kehidupannya mengerucut pada suatu pengakuan yang besar, “ Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun” (Mazmur 90:1). Pernyataan ini bagi saya mengungkapkan suatu sikap spiritual Musa kepada Tuhan. Meski dia sendiri tidak masuk ke tanah Kanaan dan mendengarkan tentang pidato Yosua, bahwa keluarganya akan menyembah Allah meski pun yang lain mungkin tidak. Tetapi sikap seorang pemimpin memang sangat menentukan sikap para pengikutnya. Sama seperti sikap kepala rumah tangga sangat menentukan sikap semua orang yang ada di dalam rumah itu. Ketika Abaraham mengambil keputusan untuk mengikat janji kepada Tuhan, maka semua keluarganya yang laki-laki termasuk budak laki-laki yang ada di dalam rumah itu harus terikat pada janji itu sehingga semua harus di sunat. Apakah pentingnya seseorang mengambil keputusan yang sedemikian? Tentu sangat penting sekali, karena ini bukan hanya sikap moral atau sikap ritual saja namun ada sikap spiritual yang besar di dalamnya. Sikap ini menjadi suatu pengakuan yang bukan hanya terucap di bibir saja namun suatu pengakuan yang akan terikat dalam seluruh ekpresi kehidupan seseorang. Dengan mengaku bahwa Tuhan tempat perteduhan turun temurun itu berarti, orang akan mengakui bahwa Tuhan itu Maha, Ia melampui keterbatasan saya. Maka saya yang terbatas ini berteduh padanya dengan suatu harapan ada perlindungan dan pertolongan yang datang dari-Nya. Ia maha maka tak ada yang tak bisa I kerjakan, namun perlu bagiku untuk percaya dan menggantungkan diri pada-Nya.

Ia pencipta sekaligus pemilik hidupku sangat pantas dan layaklah bila aku yang berteduh pada-Nya. Kita sering kali terjebak pada basa basi rohani, katanya kita cinta Tuhan namun kita tak mau menyerahkan diri dan mempercayakan diri pada-Nya. Padahal unsur dari percaya yang benar adalah mempercayakan diri yang sungguh. Sehingga apa yang Musa katakan adalah suatu sikap yang murni, jujur dan benar bahwa ia mempercayai Tuhan maka ia memilih untuk berteduh pada Tuhan itu. Bagi Musa Tuhan bukan sebagai alat perteduhan namun Tuhan menjadi tempat perteduhan bagi satu keturunan dan ke keturunan yang lainnya. Artinya berteduh di dalam Tuhan bukan limited, atau eksidentil namun unlimited. Banyak orang hanya menjadikan Tuhan tempat perteduhan pada saat-saat tertentu, terutamaa saat-saat mengalami kesulitan dan persoalan dalam hidup. Tidak demikian ketika mereka sudah berada dalam kenyamanan dan kelancaran. Dengan segera nama Tuhan pun tak lagi mereka sebut, bahkan tak sedikit akhirnya menepuk dada lalu lupa bahwa semuanya adalah karena pertolongan-Nya. Jadi menjadi Kristen memang tidak sederhana, butuh keseriusan dan kekuatan iman menghadapi badai, pertarungan dalam berbagai goncangan ada.

Selain daripada bahwa Allah itu maha, maka Allah adalah sumbernya. Kita tahu bahwa segala sesuatu apa yang kita terima segala sesuatunya itu sumbernya dari Allah. Tak secuil pun yang kita terima adalah karena kekuatan kita, meski tampaknya semua terlihat karena kekutan kita. Tetapi kalau kita memahami perumpamaan poko anggur itu dengan baik maka kita akan tahu pesan pentingnya bahwa sebagai carang kita bergantung penuh pada pokok yang merupakan sumber itu. Tanpa sumber maka kita tak dapat mengalami kekuatan akar dan ketahanan untuk hidup. Sama seperti tumbuhan yang memerlukan siraman terus menerus agar tumbuh bersemi maka kita pun membutuhkan siraman dari sumber yang abadi terus menerus tanpa henti. Sebelum segala sesuatu itu ada maka Ia yang sang ada itu, telah ada dari selama-lamanya sampai selama lamanya. Dan bahkan kita yang ada ini akan berakhir dan kembali kepada debu. Kalau debu akan kembali kepada debu, maka kepada siapakah debu ini harus bergantung dan berpasrah diri? Maka tidak lain, debu ini harus bergantung kepada genggaman tangan Ilahi. Hanya ditangan sang Ilahi itulah kita berarti dan memiliki nilai yang melebihi nilai suatu debu itu. Karena kita bukan hanya debu biasa, namun kita adalah debu yang telah dihebuskan dengan nafas Allah serta diciptakan dalam gambar dan rupa-Nya. Kapakankah debu ini menjadi debu yang mulia? Saat debu ini mengalami persekutuan dengan pencipta-Nya. Persekutuan yang tidak akan musnah oleh waktu. Yang tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh kekuataan dunia ini. Di tangan-Nya kita aman dan tentram. Itu sebab berlindunglah, dan alamilah Dia dalam kehidupan kita. Jangan lewatkan kesempatan yang indah itu, dan jangan buang habis percuma waktu yang kita miliki hanya untuk mengerjakan sesuatu yang tak berarti. Kerjakan sesuatu yang bernilai besar dan demi kemuliaan nama-Nya. Melalui apa yang kita bisa. Lakukanlah hal yang baik dan jauhkanlah sesuatu yang jahat serta tak bermanfaat. Terlalu banyak hal yang bisa kita isi dan kerjakan. Tak perlu meniru orang lain, namun temukan apa yang kita bisa. Meski sendiri, lakukanlah. Bertandinglah dalam hidup ini, mari berlomba. Agar di sana kelak ketika kita jumpa dengan sang pencipta di seberang sana, maka Ia menyambut kita dengan bahagia karena apa yang Ia mau kita telah kerjakan dengan penuh tanggungjawab.

Itu sebab, saya mengerjakan tugas-tugas saya, meski tidak sepenuhnya sempurna namun berusaha untuk mengerjakan sebaik mungkin dan sebisa mungkin. Saya tahu bahwa bila saya mengerjakannya dengan baik yang pertama ilmu saya akan bertambah dan orang lain terberkati selanjutnya kiranya nama Tuhan semakin ditinggikan. Tak selamanya apa yang dikerjakan membuahkan pujian, namun tidak mengapa. Bila kurang maka saya masih bisa berbenah diri dan terus mengoreksi diri, dan bila sudah baik saya pun perlu terus menambah apa apa yang masih kurang. Terkadang kita bisa mengetahui kekurangan kita dari masukan orang lain atau mungkin isyarat-isyarat yang orang lain tunjukan. Namun bila kita rasa sudah benar, lanjutkan dan jangan pernah patah arang. Namun dibalik semuanya yang kita bisa, jangan lupa jadikanlah Tuhan tempat pelindungan kita karena Dialah sang sumbernya. Ketika kita jatuh ada tangan-Nya yang terulur bagi kita. Ketika kita lemah maka ada kekuatan-Nya yang memampukan kita untuk tegak berdiri. Ketika kita bimbang maka Ia akan datang dan berkata, “mengapa engkau takut, bimbang dan khawatir? Percaya saja!

Oleh: Nikodemus Rindin

Lihat juga

Komentar


Group

Top