Sapaan Gembala

Fathers Day

Penulis : Pdt Nikodemus rindin | Tue, 12 June 2018 - 13:39 | Dilihat : 179
Tags : Fathers Day Nikodemus

Tiap kali kita memperingati hari ayah, maka kita selalu disadarkan tentang pentingnya kehadiran seorang ayah bagi hidup kita selama kita ada di dunia ini. Ayah dan ibu menjadi wakil Tuhan untuk membangun fondasi hidup; merawat, mendidik, mendispilin dan mengarahkan hidup tiap kita untuk kita bisa berelasi dengan diri sendiri, sesama kita dan Tuhan kita. Ayah memiliki otoritas untuk memimpin keluarga dan mengarahkan kehidupan anak-anaknya untuk hidup takut akan Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. Dengan menjadi model, modal dan motor maka diharapkan sang anak bisa mengikuti tiap jejak dan melihat tiap jalan yang ditapaki oleh sang ayah dalam hidupnya. Berharap kemudian hari maka anak-anaknya pun berjalan, berjejak dan paut pada garis yang telah diukir oleh sang ayah. Tentu akan menjadi hal yang menyenangkan bila seorang anak bisa memiliki ayah yang dapat mewariskan warna kehidupan yang lurus dan benar. Ia memiliki iman yang baik, ia berbuat kebajikan kepada orang lain, ia mempunyai relasi yang indah dengan banyak orang, ia giat berkerja, syukur-syukur bila kemudian ada warisan harta yang bisa di kelola oleh penerusnya. Ia seorang yang cinta Tuhan dan mau berkorban untuk sebuah pelayanan. Rasanya kalau kita boleh ucapkan maka seribu daftar permintaan bisa kita ajukan, namun akhirnya kita pun tak bisa melakukannya karena tiap-tiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan pada dirinya.

Namun dalam kitab Ibarani 12:5-11, kita dibawa dalam pengertian bahwa kehadiran seorang ayah adalah untuk mendidik, sebab dia adalah wakil Tuhan untuk mendidik kita. Tanpa didikan tidak akan mungkin akan pengertian dan keteraturan hidup. Tetapi didikan itu dibutuhkan semua anak agar dapat menjalani kehidupannya dengan baik dan mulia. Anak diminta untuk tidak putus asa dan menolak apalagi melawan didikan yang diberikan oleh sang ayah. Karena di dalam didikan tersirat pesan bahwa engkau dikasihinya. Kasih menuntut dua hal yang diberikan, yaitu nasehat dan hajaran agar terjadi suatu perubahan dan pembentukan. Tetapi celakalah bila ayah mendidik dan menghajar anaknya dengan kemarahan yang tidak beralasan. Sebab mereka harus berdiri di hadapan Tuhan dan mempertanggungjawabkannya. Tetapi berbahagialah sang ayah yang telah mendidik dan menghajar anaknya dengan baik, karena di kemudian hari mereka akan panen dari benih yang telah mereka tabur. Ayah yang paling menderita adalah bukanlah ayah yang memberikan disiplin dan pengajaran kepada anaknya, meskipun ada rasa sakit, tetapi ayah yang menderita adalah ayah yang membiarkan anaknya hidup liar dan dikemudian hari hidup anaknya tidak karuan, lalu kita hanya bisa menyesal dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kenyataan demikian selalu membuat saya sedih, orang tua sudah merasa terlambat untuk sadar harusnya dulunya mereka bisa mengajar dan mendidik anaknya dengan baik, tetapi kini mereka tidak memiliki kemampuan apa-apa. Yang mereka bisa andalkan adalah air mata dan doa saja. Sungguh menyedihkan melihat kenyataan yang demikian terjadi dalam kehidupan.

Seseorang yang merasa perlu bebas dari didikan dan ganjaran, maka mereka bukanlah anak sungguhan tetapi hanya anak gampangan. Kalau ada orang yang tidak terima dengan didikan orang tuanya, terutama sang ayah, maka mereka harus menyadari bahwa kepada ayah telah diberikan otoritas untuk mendidik anaknya agar taat, sebab ayah adalah perwakilan dari Ayah kita yang ada di surge, yaitu Bapa segala roh. Kita “boleh” menolak ganjaran dan didikan sang ayah, tetapi kalau kita tidak mau didik oleh ayah kita maka jangan sampai tangan Tuhan yang turun sendiri untuk mendidik kita. Itu tentu hal yang paling menyakitkan. Sang ayah hanya mendidik kita dalam waktu yang sangat pendek, setelah dia tiada maka kita akan rindu dan merasa menyesal kenapa sepanjang ayahku hidup aku tidak bisa sedikit mendengarkan dan taat kepadanya untuk menghormati, menyukakan dan mengasihinya. Jangan sampai, kemudian kita terlambat dan menyesal dikemudian hari. Dan kita tahu bahwa ganjaran yang diberikan oleh orang tua pasti bukanlah yang menyenangkan tetapi di hari kemudian nanti kita akan tahu bahwa itu menjadi bekal yang sangat kita perlukan. Baik ayah dan anak harusnya melihat kebersamaan sebagai kesempatan untuk saling mengisi dan membangun relasi yang harmoni. Didikan yang diberikan dengan cinta, tak sekedar dengan kata “harus” semata tetapi mesti terselib kata “kebaikan.” Anak menerimanya dengan kebaikan, dan ayah melakukannya karena kebaikan. Apa kebaikan itu, yaitu supaya kita mempunyai hidup (12:9). Pertanyaannya adalah, rindukah anda melihat anakmu mempunyai hidup? Didiklah anakmu selagi bisa. Rindukah anda melihat hidupmu mengalami hidup? Maka terimalah didikan dan hajaran yang diberikan oleh ayahmu sepanjang hidupnya. Jangan terlalu banyak membantah dan marah, meski engkau tidak suka tetapi berdirilah sebagai seorang anak yang menerimanya karena engkau tahu bahwa itu demi kebaikan bahkan kehidupanmu. Saya pikir, tidak ada ayah yang memberikan ular pada anaknya yang meminta roti, sejahat-jahatnya ayahmu. Ia pasti ingin memberikan yang terbaik bagi hidupmu kini dan masa depanmu. Maka dari itu berbanggalah selama ayahmu memberikan didikan dan terimalah dengan penuh sukacita meski rasanya ada dukacita terselib di sana, karena kita tahu dukacita itu pun hanya sementara saja.

Pada waktu yang tepat, apa yang ditabur oleh sang ayah akan berbuah manis bahkan menumbuhkan pohon yang menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. Pada saat engkau menjadi ayah atau pun menjadi ibu, maka engkau akan mengerti suatu saat apa yang dikerjakan oleh seorang ayah ternyata benih yang bermakna dan penuh cinta. Saya dulu seringkali marah kepada sang ayah karena apa yang dilakukannya ketika memukul membuat tidak nyaman. Tidak seperti anak lain, yang kalau salah dibiarkan bahkan dibela oleh orang tuanya. Tetapi kini saya tahu persis hasilnya, orang tua yang mendidik dengan hajaran tetapi karena cinta justru dihormati dan dihargai anaknya, tetapi anak yang selalu di elus-elus dan dibela-bela kemudian anak menjadi anak yang bandel dan menyakitkan hati. Seorang ibu menangis tersedu-sedu dan berkata kepada saya, “Niko, kami senang melihat kamu menjadi anak yang membanggakan orang tua, anak yang baik-baik dan kini menjadi hamba Tuhan.” Sementara anak kami, meskipun pintar dan banyak fasilitas termasuk uang yang kami berikan ternyata hidupnya tidak karuan. Diminta sekolah, dia tidak mau sekolah dengan baik, diminta untuk melanjutkan kuliah, dia tidak mau kuliah dengan benar, dan diminta kerja maka dia hanya maunya keluyuran dan minum-minuman keras. Meskipun saya bukanlah anak yang baik-baik, tetapi saya bersyukur bahwa ayah saya mendidik saya dengan takut akan Tuhan. Tidak ada kepintaran yang luar biasa yang bisa ditularkan kepada saya, sebab dia tidak berpendidikan tinggi. Dan tidak ada uang yang bisa diberikan sebagai warisan. Tetapi cintanya kepada kami dan cintanya kepada Tuhan, itulah yang membuat saya siap melangkah dan menapaki hari dengan kekuatan dan keberanian. Karena hormatilah ayahmu dan ibumu, selamat hari ayah. Tuhan Yesus memberkati. Pdt. Nikodemus Rindin

Lihat juga

Komentar


Group

Top