Sapaan Gembala

Takut Tuhan Kunci Kehidupan

Penulis : Pdt Nikodemus rindin | Tue, 24 July 2018 - 14:48 | Dilihat : 373
Tags : Sapaan Gembala

Peringatan hari anak dalam skala nasional tahun ini jatuh pada tanggal 23 Juli 2018, dan kita tahu bahwa memperingati hari anak adalah sesuatu yang sangat penting dengan tujuan untuk menghormati hak-hak anak di seluruh nusantara. Peringatan hari anak pada mulanya dicetuskan oleh suatu lembaga dunia yang disebut UNICEF di bawah naungan organisasi penting dunia, yaitu Perserikatan Bangsa-bangsa. Dikancah Internasional hari anak dirayakan pada setiap tanggal 21 Juni, sedangkan hari anak universal dirayakan pada tanggal 20 November. Gereja Reformasi Indonesia tahun ini secara khusus merayakan hari anak pada tanggal 22 Juli 2018. Pada hari itu, anak-anak diajak untuk merenungkan suatu topik yang sangat penting, “Anak yang berkata tidak pada dosa.” Dan kita tahu bahwa anak adalah anugerah dan titipan Tuhan yang sangat mulia dan berharga. Mereka harus didik dalam takut akan Tuhan dan memiliki iman yang sungguh dan tangguh. Dosa adalah suatu hal yang perlu dibicarakan kepada anak-anak supaya mereka tahu apa itu dosa? Apa akibatnya dan bagaimana bisa melawan dosa?

Karena itu mendidik anak bukan hanya tugas dari Guru-guru sekolah minggu saja, bukan hanya tugas para pendidik Kristen di sekolah tetapi ini tugas kita bersama sebagai tubuh Kristus dan terutama orang tua yang dititipkan Tuhan seorang anak. Jangan pernah berharap anak kita akan menjadi anak yang berkata tidak kepada dosa kalau kepada mereka tidak pernah didik hidup takut akan Tuhan dan mengerti kebenaran yang sungguh-sungguh. Kebenaran firman Tuhanlah yang mampu membuat mereka takut berbuat dosa. Orang tua mempunyai kekuatan dan pikiran yang sangat terbatas untuk bisa mengawasi dan menunjukan hikmat kepada anak agar mereka berada didalam kebajikan yang Tuhan kehendaki. Karena itu, bawalah anak itu kepada Tuhan dan didiklah mereka dalam iman yang benar. Jangan hanya puas menjadi orang tua yang melihat anak pintar, mempunyai kedudukan, kekayaan dan kelimpaham tetapi mari puaslah ketika anak hidup takut Tuhan dan bersandarkan iman penuh padanya. Karena takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan. Dan orang yang tidak takut Tuhan menjadi orang yang bodoh serta menghina didikan (Amsal 1:7). Seberapa banyak orang tua kemudian penuh derai air mata karena anaknya tidak mendengarkan didikannya? Dan mengapa anak bisa berlaku demikian; jalannya menyimpang dan tak memberikan respek sedikitpun kepada ajaran? Jawabnya adalah karena di dalam hatinya tidak ada takut Tuhan. Kalau seseorang tidak ada rasa takut kepada Tuhan, bagaimana mungkin ada rasa takut kepada ayah dan ibunya, bagaimana ada rasa takut kepada dosa. Tidak ada yang dia takuti! Sebab tidak ada dasar yang membuat dia bisa takut. Karena itu letakan dasarnya, yaitu firman Tuhan.

Kita tidak akan bisa berharap banyak kalau anak kita tidak didik dalam kebenaran firman Tuhan. Anak yang takut akan Tuhanlah yang mampu melawan dosa dan berkata tidak padanya. Kekuatan pribadi tidak sanggup, apalagi kekuatan yang dibangun dalam kecerdasan dan kepintaran manusia saja. Semua akan roboh bila bukan tangan Tuhan ada di dalamnya. Kita Yakobus berkata, “orang yang berbahagia adalah mereka yang bertahan dalam pencobaan dan ujian yang dialaminya.” Pertanyaanya adalah kenapa dia bisa bertahan? Apakah dia kuat, mampu dan bijaksana? Tidak! Dia bisa kuat karena firman Tuhan hidup dalam dirinya? Firman itulah yang menguatkannya dan memerdekakannya. Kalau seseorang mengetahui kebenaran maka kebenaran itulah yang memerdekannya (Yohanes 8:32). Dan bukan hanya itu saja, bila anak itu telah diberikan pengertian dan didikan tentang kebenaran maka pada masa tuanya pun kebenaran itu akan mempimpin hidupnya sehingga dia tidak akan menyimpang dari pada jalan kebenaran itu (Amsal 22:6). Dan tentu perlu keteladan orang tua di dalamnya. Karena tidak mungkin kita mengajarkan prinsip hidup lalu orang tua tidak mengerjakan terlebih dahulu di dalam dirinya. Saya pikir adalah kemustahilan kita berharap anak kita benar namun kita tidak menunjukkan kehidupan yang benar. Karena itu orang tua harus berani berkata tidak pada dosa, dan tidak boleh memberikan celah sedikitpun bagi dosa masuk. Kalau pun seseorang kemudian jatuh dalam dosa, maka dia harus marah pada dirinya dan bertekad dengan sungguh-sungguh untuk berkata tidak dan berani menolak dosa. Sama seperti Yusuf yang berani berkata, “Tidak!” kepada istri Potifar. Dia berkata bagaimana aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa kepada Allah yang hidup itu. Keberanian berkata tidak memang tak sekedar kata dan wacana tetapi harus menjadi tekad bulat dan seseorang harus selau bersiap melawannya. Kiranya bagian ini menolak kita dan anak-anak kita untuk hidup benar dihadapannya dan berani berkata tidak pada dosa. Pikirkan, renungkan, kiranya langkah kehidupan selalu dalam terang Tuhan. Pdt. Nikodemus Rindin

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top