Sapaan Gembala

Berkat Dalam Pergumulan

Penulis : Pdt Nikodemus rindin | Wed, 12 September 2018 - 11:58 | Dilihat : 96
Tags : Berkat Nikodemus Rindin Pergumulan

Kitab Ayub adalah kitab yang sangat penting dan memberikan banyak pelajaran yang berharga. Bahkan pelajaran yang dimunculkan justru melawan semua kebenaran yang tidak seimbang dalam pemahaman orang Kristen kebanyakan. Karena banyak orang Kristen yang berpikir bahwa ikut Tuhan jalan hidup selalu mulus; tidak ada godaan, pencobaan atau pun ujian, tanpa masalah, dan bagi mereka semakin orang hidup baik dan benar serta beriman kuat maka semua kesulitan hidup akan pergi dengan segera. Gunung yang tinggi akan segera bisa dipindahkan dengan doa dan iman yang besar. Padahal iman yang sejati mengatakan bahwa. “seseorang mestinya tetap percaya dan beriman meski gunung itu tidak pindah.” Akhirnya kesimpang siuran dalam hidup keberimanan pun terjadi, mana yang benar? Dan tak sedikit yang memahami bahwa segala realitas yang dialami seseorang hanyalah faktor hukum tabur tuai. Kalau kita baik maka kebaikan dari Tuhan akan datang. Sebaliknya kalau kita jahat maka siap-siaplah menerima hukuman dari Tuhan. Namun faktanya sering berkata lain, yakni orang benar tertimpa tulah setiap hari, sementara orang jahat jalannya sangat mulus dan bahkan ia seringkali sukses melakukan kejahatannya.

Teman-teman Ayub sangat percaya diri menghakimi Ayub dengan segala retorika yang diglontorkan dalam perdebatan ketika melihat kondisi Ayub yang menyedihkan. Bagi mereka apa yang terjadi pada Ayub, tidak lain dan tidak bukan yaitu karena perbuatan fasik Ayub yang tidak benar dihadapan Allah sehingga dia mengalami suatu tulah yang hebat. Dan kondisi yang dialami Ayub sangat pantas karena memang demikian terjadi pada orang yang berbuat dosa kepada Tuhan. Kawan-kawannya meminta Ayub untuk segera mengakui perbuatannya dan segera minta ampun kepada Tuhan. Namun berkali-kali Ayub memeriksa dirinya bahwa kondisi yang dialaminya bukan ia rasa bukan karena perbuatan dosanya, sebab dia telah berusaha melakukan yang benar di mata Allah dan sesamanya. Ia telah menjadi penyelamat bagi yang sengsara karena orang yang minta tolomng ditolongnya, ia membuat hati para janda bersukaria, ia menjadi mata bagi yang buta, menjadi kaki bagi orang lumpuh dan bapa bagi yang miskin, dan menyelidiki perkara-perkara orang yang tidak dikenal. Bahkan ia sendiri merasa telah berada di jalan kebenaran dan keadilan (Ayub 29:12-16).

Di dalam kesulitan pergumulan yang dialami oleh Ayub adalah bahwa ia memahami kebenaran yang jarang dimengerti oleh banyak orang saat dalam pergumulan, yaitu ia tetap bisa berkata bahwa, "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:21). Sebab baginya tidak mungkin Allah berbuat sesuatu yang tidak patut. Meski ia tidak mengerti jalan Tuhan, tetapi ia mengerti bahwa Tuhan tidak mungkin berbuat sesuatu yang tidak patut atau tidak benar. Tidak hanya karena kita tidak mampu memahaminya lalu Tuhan menjadi tidak benar. Tetapi kita harus belajar menaklukan diri pada Tuhan sehingga kita bisa memahami-Nya dan jalan-Nya.

Dalam hal ini berkat yang besar yang dimiliki Ayub adalah pengertian Dia tentang Tuhan. Ia berjumpa dan mengenal Tuhan di sisi yang berbeda. Bukan hanya Tuhan yang selalu berbuat baik, tetapi juga Tuhan yang mungkin mengijinkan suatu yang tidak baik di alami seseorang. Dia bisa mengenal Tuhan yang tidak berubah dalam kondisi apa pun yang mungkin berubah. Dan manusia seringkali berubah pengertiannya tentang Tuhan hanya karena kondisi berubah. Waktu seseorang misalknya sehat, kaya dan lancar maka seseorang akan berkata Tuhan itu baik dan luar biasa! Tetapi waktu seseorang mengalami kesulitan hidup, bergumulan dan tantangan yang berat dan pengalaman hidup yang pahit maka dengan segera manusia berkata, “Tuhan itu jahat.” Baik dan jahat Tuhan itu seringkali dimaknai tentang kondisi yang dialami. Sehingga sulit memahami Tuhan yang baik di dalam kondisi yang tidak baik yang kita alami. Namun tidak demikian dengan Ayub; ia mengenal Tuhannya yang baik itu dalam berbagai kondisi yang mungkin terjadi. Karena landasan pengertian ini maka dia mungkin memuji Tuhan. Sebab baginya, Tuhan yang memberi sama baiknya dengan Tuhan yang mengambil, maka “terpujilah nama Tuhan!”

Banyak orang Kristen yang tidak mengalami berkat dalam pergumulan karena kesalahan mereka dalam berpikir dan konsep keberimanan yang ditanamkan. Hasilnya adalah orang yang memahami Tuhan dengan cara yang tidak utuh dan seimbang. Kita cenderung memahami Tuhan dengan cara berpikir manusia yang umum dan konsep keberagamaan yang salah. Padahal menaklukan diri dalam ketetapan kehendak Tuhan dalam berbagai warna kehidupan yang mungkin terjadi itulah yang sangat penting. Tak ada salah dengan sehat menjadi sakit, kaya menjadi miskin tetapi yang menjadi salah adalah saat kita tidak mampu melihat ketetapan dan kehendak Tuhan yang besar di dalamnya. Mungkin saja melaluinya Ia ingin mengukir kita lebih lagi untuk menjadi saksi dan berkat bagi sesama. Bukankah kita seringkali berdoa kepada Tuhan agar kita menjadi alat yang mulia di tangan-Nya? Namun sayangnya kita hanya berucap dalam basa basi kepada-Nya, sesungguhnya kita bukan mau jadi alat tetapi mau memperalatnya demi kepentingan kita. Kalau kita mau memperalatnya maka tidak heran jika kita sering kali kehilangan berbagai berkat dalam segala kemungkinan yang seharusnya kita memilikinya. Tetapi kalau benar kita mau menjadi alat maka hampir semua alat harus rela dipakai oleh sang Tuan demi tujuannya meskipun kadang sakit dan tidak mengenakan. Misalkan ketika cangkul menjadi alat di tangan petani mungkin saja cangkul itu akan menjadi tidak enak karena seringkali harus dipakai pemiliknya mencangkul tanah yang liat, tanah berbatuan dan semua hal yang tidak disukai. Namun karena cangkul taat dan mentaati keinginan sang petani untuk mencangkul maka dari hasil cangkulan demi cangkulan yang menyakitkan itu maka menghasilkan tanaman yang baik untuk kemudian bisa dinikmati oleh banyak orang. Hasilnya pemiliknya pun bersukacita karena memang tujuan cangkul ada hanya untuk alat kemuliaan bagi petani. Dan kita ada hanya untuk alat kemuliaan bagi Tuhan. Pdt. Nikodemus Rindin

Lihat juga

Komentar


Group

Top