Sapaan Gembala

Iman Seperti Anak Kecil

Penulis : Pdt Nikodemus rindin | Thu, 10 January 2019 - 10:18 | Dilihat : 126
Tags : Anak Kecil Iman Nikodemus Rindin

Iman kekanak-kanakan tidak pernah diumbar oleh Alkitab karena iman kekanak-kanakan justru menunjukan sikap orang Kristen yang tidak militan dalam hidup. Namun iman seperti seorang anak kecil itulah yang dipuji-Nya. Iman seperti sikap iman anak kecil justru berbanding terbalik dengan iman para saleh yang berjalanan dalam spiritualitas mistis atau spiritualitas tanpa landasan berpikir, tanpa landasan kebenaran bahkan tanpa pimpinan Sang Kebenaran itu sendiri. Matius 18:3, menekankan pada iman “seperti anak kecil” sebagai persyaratan untuk memasuki kerajaan Allah. Iman sejati bukan hanya urusan “yang penting saya percaya”, namun perlu memahami apa dan siapa yang dipercaya serta bagaimana cara dan sikap kita mempercayainya?

Beriman tidak diidentik dengan menjadi Kristen, disembuhkan dalam nama Yesus, sukses karena menjadi seorang pendeta dalam gereja bahkan menjadi konglomerat yang penuh bakat serta tabungan bank atau telah menamakan banyak investasi dalam suatu usaha atau proyek tertentu. Iman adalah sesuatu yang tidak bergantung pada yang lain, kecuali bergantung pada Sang Sumber iman, yaitu Kristus Yesus itu sendiri.

Para Reformator besar dari Jenewa, sebut saja John Calvin, berkata bahwa, “ Iman bukan bersandar pada ketidaktahuan, melainkan kepada pengetahuan. Dan ini adalah pengetahuan bukan hanya tentang Allah, melainkan tentang kehendak Allah. Dan pengetahuan itu terdapat di dalam kebenaran Firman Tuhan. Firman Tuhanlah yang memimpin seseorang kepada iman yang teguh, benar dan sungguh di hadapan Tuhan. Di luar Alkitab maka iman bukanlah iman yang sesungguhnya. Calvin pun menegaskan bahwa iman bukanlah sesuatu yang terdiri dari dasar “ketidaktahuan yang salah” atau “ketidaktahuan yang dibarengi kerendahan hati” atau “ketundukan perasaan-perasaan kita.” Bagi Calvin, iman terdiri dari pengetahuan – satu pengetahuan atau pengenalan pribadi akan Allah, Kristus, Roh Kudus dan Firman-Nya.

Jadi iman tidak boleh terpisah dari pengetahuan akan kebenaran firman Tuhan. Iman tidak boleh terpisah dari pengetahuan yang murni serta kesalehan. Iman yang berdasarkan pada kebenaran membuat seseorang berbuah lebat dan hidup benar. Adalah salah bila seseorang beranggapan bahwa kami tidak perlu kredo, kami tidak perlu doktrin, kami hanya perlu hal yang praktis, fenomenal dan bombastis. Bagi mereka dunia fantasi lebih relevan dan menarik ketimbang dunia realistis. Tidak heran perasaan dikedepankan ketimbang rasionalistis dalam berpikir. Iman anak kecil bukan iman yang tidak berpikir, bukan pokoknya percaya, bukan yang tidak boleh mempertanyakan sesuatu yang dipercaya, yang penting meng-aminkan saja apa yang dikatakan dari mimbar sana. Tetapi iman bergantung penuh pada kebenaran yang sejati. Iman Kristen perlu doktrin yang ketat dan agung. Matius 22:37 dan Roma 12:2, menyatakan itu bahwa iman tidak berseberangan dengan sentralitas pikiran atau akal budi. Bahkan di dalam Ulangan dikatakan bahwa kebenaran itu harus disampaikan berulang-ulang pada anak-anak, waktu mereka duduk, berbaring dan berjalan. Kenakan itu pada jari, dahi dan kalungkan itu pada lehermu. Ini menunukkan bahwa begitu penting dan berharganya kebenaran yang menghidupkan iman seseorang sehingga seseorang hidup di pimpin olehnya.

Iman bukan sesuatu yang irasional tetapi sesuatu yang sangat rasional. Sekedar tahu tidaklah cukup karena setan pun tahu tentang Allah (Yal. 18:19), namun hidup yang tunduk pada apa yang diketahui itulah iman yang hidup. Iman kita bukan bersifat histori namun bersifat relasi secara pribadi. Iblis punya “iman histori” tetapi tidak punya “iman dalam relasi pribadi.” Iman tidak akan melepaskan seseorang dalam suatu realsi yang intim. Dia berdiri pada jalan yang seharusnya dan jalan kebenaran yang menuntun seseorang dalam kehidupan.

Iman pun bukan hanya bersifat intelektual dan rasional tetapi juga bersifat fidusial, yang artinya percaya dan bersandar penuh. Banyak orang Kristen yang tahu dengan rasio dan intelektualnya tetapi tidak mempercayai diri pada-Nya. Padahal Kristen yang sejati adalah Kristen yang bukan hanya memiliki Knowing Theology tetapi juga Doing Theology. Knowing Theology itu berbicara tentang apa yang kita tahu tentang Dia dan Firman-Nya, sementara Doing Theology adalah berbicara tentang apa yang kita percaya dan bagaimana kita menaruh diri dalam percaya kepada Dia. Karena itu iman bukanlah iman tanpa engkau tahu siapa yang engkau imani. Iman bukanlah iman bilang engkau tidak sungguh-sungguh menghidupi dan berpegang pada yang engkau imani. Iman sejati membuat engkau berpikir benar, hidup benar dan melakukan apa yang benar dalam kehidupan hari lepas hari.

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top