Sapaan Gembala

Semangat Memasuki Tahun Baru

Penulis : Pdt Netsen | Thu, 17 January 2019 - 16:23 | Dilihat : 31
Tags : Netsen Semangat Tahun Baru

Pergantian tahun selalu membawa gairah tersendiri bagi setiap orang yang menyambutnya. Kecenderungan banyak orang akan merasakan kegembiraan karena boleh melewati tahun sebelumnya. Tetapi jangan lupa, ada orang-orang yang menyambut tahun barunya dengan suasana hati yang sedih, misalnya saudara-saudara kita yang telah mengalami gempa dan tsunami. Mereka bukan saja ada yang kehilangan harta benda, rumah, pekerjaan dan bahkah mungkin juga kehilangan orang yang mereka kasihi atau yang mengasihi mereka. Sehingga pergantian tahun bisa jadi momen sukacita yang mereka rasakan tapi momen dimana mereka meratap derita yang telah mereka alami. Tetapi itulah warna warni hidup yang tidak dapat seorangpun duga dan rancang sesuai harapan diri.

Pergantian tahun menyadar dan mengingatkan kepada kita betapa waktu terus bergulir. Tidak seorang pun manusia mampu menghentikan pergantian waktu sehingga tidak terjadinya pergantian tahun. Apa yang “baru” pada tahun baru, sehingga kedatangannya disambut oleh banyak orrang dengan kemeriahan, misalnya kembang api, kumpul keluarga, kumpul bersama sahabat dll? Mengapa kebaruan dari tahun baru membuatnya disambut gembira? Mungkin, manusia memang suka akan semua hal yang baru. Seseorang akan senang jika mempunyai barang baru, apalagi barang tersebut adalah yang sudah dia harapkan cukup lama. Apakah tahun baru sama dengan barang baru?

Mari kita renungkan terlebih dahulu, mengapa mendapatkan barang baru membuat kita senang? Apa yang terkandung di dalam natur kebaruan sehingga bisa menimbulkan rasa suka di dalam hati kita? Bukankah barang baru menyenangkan kita karena kebaruan menjanjikan sesuatu kepada kita, yakni dia memberikan harapan bahwa barang yang dimaksud akan mendatangkan kebahagiaan kepada kita? Rasa kebaruan ikut pudar bersama dengan harapan yang tidak terealiasikan. Ketika suatu barang mengecewakan, dia tidak berasa baru lagi kendati usianya, melainkan usang, rongsokan.

Merayakan tahun baru menyingkapkan harapan yang tersimpan dalam di dalam kesadaran banyak orang, bahwa tahun dengan angka yang ditambah satu tersebut akan membawakan kebahagiaan bagi mereka. Apakah yang kita sambut dengan sukacita di tahun baru? Bukankah di tahun baru. Bumi hanya kembali ke posisi nol sebelum ia berangkat mengitari matahari 365 hari yang lalu. Umumnya, tahun tak berasa baru lagi ketika karyawan masuk kantor atau siswa masuk sekolah pada hari pertama. Sebenarnya, satu-satunya kebaruan adalah keusangan dan kerusakan. Bumi dan barang makin hari makin usang dan tubuh dan usia manusia pun semakin menua, makin menuju kepada kerusakan. Namun, bukan keusangan yang dirayakan pada pukul 00.00 hari pertama tahun baru. Jadi, apa yang dirayakan?

Sebagai orang percaya tentu kegairahan dalam menjalani tahun yang Tuhan anugerahkan seharusnya tetap bergairah dan bersemangat. Hal ini bukan karena pergantian kalender, seperti tanggal, bulan dan tahun, melainkan karena hakikat hidup yang sudah dibaharui oleh Kristus lewat kasih-Nya yang telah rela lahir ke dalam dunia menjadi manusi untuk menebus manusia lama kita lewat kematian-Nya di kayu salib. Hidup baru itu yang seharusnya disyukuri dengan tiada berhenti lewat sikap hidup yang dijalani dalam kronos yang terus bergulir. Karena itu mari, jangan terjebak dan salah dalam sukacita dan kegembiraan menyambut tahun baru. Selamat menjalani hidup ditahun 2019 dengan tetap berpegang pada kasih dan ketetapan Tuhan. Amin

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top