Sapaan Gembala

Kesalehan Yang Murni

Penulis : Pdt Nikodemus rindin | Thu, 7 February 2019 - 15:28 | Dilihat : 120
Tags : Kesalehan Murni Nikodemus Rindin Saleh

Bila kita berbicara tentang kesalehan maka seringkali tiap-tiap orang langsung terjebak pada berbagai ketentuan-ketentuan dan berbagai aturan bahkan aktivitas keagamaan. Karena itu tidak heran rumusan kedekatan dengan Tuhan selalu dipahami seberapa jumlah kegiatan keagamaan yang kita ikuti atau seberapa mampunya kita menjaga diri agar tidak jatuh dalam pelanggaran-pelanggaran hukum Tuhan. Itu sebab kesalehan selalu didefenisikan sebagai kemampun untuk mentaati segala ritualitas keagamaan dengan sempurna plus tanpa melakukan pelanggaran yang telah ada dalam ketentuan agama. Satu sisi memang benar, tetapi sisi lain bukan berarti bahwa orang itu benar-benar saleh. Karena aspek yang terutama dan pertama adalah aspek hubungan antara pribadi dengan DIA. Sebab kesalehan yang murni bukan diukur dari kemampuan kita untuk memberikan sesuatu kepada-Nya, tetapi bagaimana kita terus menerus belajar dan berkomitmen memberikan diri kita kepada-Nya secara utuh dan penuh. Karena kita sadar bahwa hidup kita telah beroleh anugerah, jadi sepatutnyalah kita merespon anugerah dengan penuh syukur dan sukacita lalu belajar taat, sangkal diri, pikul salib dan ikut Yesus seperti yang dikehendaki-Nya. Hal itu mencakup taat berkomitmen dalam menjalankan segala aktivitas agama dan semua aktivitas hari-hari yang dijalani. Jadi pergerakan kesalehan dimulai dari titik suatu kesadaran penuh akan anugerah Tuhan. Kalau pun kemudian melakukan segala aktivitas rohani bukan untuk diselamatkan tetapi bagian dari buah anugerah keselamatan yang telah diterima.

Di dalam Injil Markus 2:23-28, kita menemukan sikap kesalehan orang-orang Farisi yang begitu terikat dengan ketentuan-ketentuan hukum Taurat sampai-sampai mereka gagal untuk taat kepada Ia yang adalah Tuan atas Taurat itu sendiri. Orang Farisi begitu ketat menjaga kehormatan hari Sabat tetapi mereka lupa menundukan diri pada Tuhan pemilik hari Sabat itu. Agama sebaik apa pun, seketat apa pun dalam peraturan-peraturan didalamnya, bila di sana tidak ada kasih kepada Pencipta, tidak ada kasih kepada sesama maka agama semacam itu adalah agama yang kosong. Itu sebab di dalam Agama Kristen pada kitab sucinya tertulis hukum kasih, yaitu mengasihi Tuhan dan sesama manusia seperti diri sendiri, sebagai ringkasan hukum yang teragung. Tanpa kasih, maka kesalehan bukanlah kesalehan yang murni dan agung. Tanpa kasih maka kesalehan hanyalah suatu kegiatan yang berakhir pada pemuasan diri sendiri. Ia tidak akan pernah mencari titik puncaknya. Yang harusnya kesalehan berhubungan dengan relasi manusia dengan pencipta maka karena tidak mencapai puncak, maka ia hanya mampu berkutat pada diri, diri dan diri. Sehingga tidak heran, kenapa orang beragama? Agar diri di puaskan. Kenapa orang melayani bukan karena cinta Tuhan tetapi sebagai bentuk aktualisasi diri. Kenapa seseorang menjadi pejabat, yakni untuk memenuhi ambisi diri. Padahal yang seharusnya yang terjadi kenapa saya jadi ini dan itu yaitu karena saya mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. Bila kita melakukan segala sesuatu bukan karena kasih kepada Allah dan manusia maka kita telah mengukir sesembah yang lain, yaitu patung. Patung yang kita ukir bukan lagi benda dari kayu, batu atau yang lainya tetapi kita mengukir diri kita sebagai patung yang ingin kita sendiri sembah, hormati dan layani.

Kalau betul kita mengatakan bahwa kita adalah orang saleh maka kita akan beribadah kepada Allah dengan melayani dan menolong sesama. Jikalau seseorang terhalang memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan karena dilarang oleh agamanya maka agama tersebut bukanlah agama yang benar. Segala media dan ketentuan harus menjadi media yang menolong sesama, bukan untuk memperbudak dan menghalangi manusia untuk berbuat yang benar. Kesalehan yang murni dan agung hanya akan terjadi bila dipergunakan untuk menolong orang lain yang membutuhkan. Sama seperti Roti sajian akan menjadi kudus bila ia hadir untuk menolong manusia yang membutuhkan makanan. Hari sabat akan menjadi kudus bila dipakai untuk menolong tiap-tiap orang yang membutuhkan. Ia bukan hanya untuk ditaati agar kita beribadah kusuk dan tertib tetapi ia hadir untuk memberiahukan kepada kita bahwa cara terbaik dalam beribadah adalah menolong sesama yang ada diseiktar kita. Jadi ibadah memiliki dua arah yang penting, yaitu hubungan kita kepada Allah dan relasi yang hidup antar kita dan sesama. Mereka yang mampu menerapkannya, maka merekalah yang benar-benar saleh. Karena itu, beribadahlah kepada Tuhan dengan sikap yang benar, dan perhatikanlah saudara disekitar kita yang memerlukan pertolongan. Sebab iman hanya hanya terpaku pada peraturan-peraturan tanpa dihidupkan dalam perbuatan adalah iman yang mati.

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top