Sapaan Gembala

Penolakan Insan Melayani Rencana Tuhan

Penulis : GI Gelen | Tue, 19 February 2019 - 11:55 | Dilihat : 71
Tags : Gelen Insan Melayani Rencana Tuhan

Penolakan secara umum mengandung makna yang negatif, karena itu manusia secara natur ingin selalu diterima. Ditambah lagi kenyataan bahwa manusia adalah makhluk sosial, maka berbagai hal dilakukan manusia agar tidak mengalami penolakan dan berharap selalu diterima oleh semua orang.

Ada dua ekstrim dalam menyikapi realitas penolakan dari insan (manusia). Sikap ekstrim yang pertama adalah sikap yang terlalu takut terhadap penolakan, akibatnya orang tersebut akan selalu berusaha menyenangkan orang lain dan bersikap sebaik mungkin demi penerimaan orang lain. Bahkan ada orang yang melakukan hal di luar kewajaran dan terlalu dipaksakan hanya demi tujuan diterima oleh suatu komunitas. Misalnya, ada orang dewasa yang meniru gaya hidup rekan bisnisnya yang glamor dan super boros hanya demi tetap diterima di kelompok jetset yang elit dan mewah. Ada pula anak remaja yang rela hidup di jalanan dan meninggalkan rumah orangtuanya hanya demi diterima dalam kelompok yang dianggapnya keren dan anti mainstream, yang mewakili sisi pemberontakan jiwa anak remaja, yaitu ingin melakukan segalanya sesuka hatinya dengan caranya sendiri. Bebas tanpa aturan. Hasilnya adalah orang tersebut mendapat penerimaan dari kelompok walaupun hasil yang diterimanya serta dampak yang ditimbulkannya tidak sesuai harapannya yang semula.

Ekstrim kedua adalah sikap yang tidak peduli sama sekali kepada kemungkinan penolakan orang lain. Sikap ekstrim ini didasari oleh egocentrism. Tidak ada kepekaan pada orang lain. Yang penting keinginan dan tujuan bisa tercapai, masa bodoh dengan orang lain. Menekankan hak asasi pribadi dengan kurang mempertimbangkan hak asasi orang lain. Dengan dalih tidak ingin munafik dan berani menjadi diri sendiri, tidak sedikit orang yang mengalami penolakan karena memang sikap dan tindakannya tidak berpadanan dengan firman Tuhan maupun nilai-nilai baik (kearifan lokal) yang dipegang dan dipraktikkan oleh masyarakat di sekitarnya. Sikap ekstrim ini menyebabkan ada orang yang mengalami penolakan dari orang lain karena kesalahannya sendiri, namun orang tersebut mendapatkan hasil yang diinginkannya.

Orang Kristen sejati tidak memfokuskan diri pada penerimaan dari orang lain, juga tidak berfokus untuk menghindari penolakan dari orang lain. Yang seharusnya dilakukan orang Kristen adalah melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Penolakan atapun penerimaan dari orang lain bukanlah tujuan, melainkan reaksi wajar dalam proses melaksanakan kehendak Tuhan. Sebaik apapun dalam melaksanakan kehendak Tuhan, penolakan dari orang lain tidaklah terhindarkan. Alkitab mencatat bahwa Yusuf ditolak oleh saudara-saudaranya, bahkan nyaris dihilangkan nyawanya. Tapi penolakan insan tetap melayani rencana Tuhan, yakni menjadikan Yusuf penguasa di Mesir. Musa ditolak rekan sebangsanya saat berusaha melerai dua orang Ibrani yang sedang berkelahi. Mereka berucap, “Siapa yang mengangkat engkau menjadi hakim atas kami?” Di kemudian hari Musa benar-benar menjadi pemimpin Israel. Yesus yang tidak berdosa pun mengalami penolakan manusia. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya sendiri, tetapi milik kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi penolakan manusia bisa ‘diperalat’ Tuhan untuk menggenapi rencana penebusan-Nya. Penolakan insan melayani rencana Tuhan.

Apakah Anda pernah ditolak? Ah, itu sudah biasa. Tidak perlu menolak penolakan. Peka pada kearifan lokal yang tidak bertentangan dengan prinsip Alkitabiah akan cukup membantu agar orang Kristen tidak ditolak oleh karena sikap dan tindakannya yang tidak bijaksana. Tetap kerjakan kebenaran dan kehendak Tuhan dengan tekun, temukan maksud Tuhan di balik penolakan. Relakan Tuhan mengerjakan rencana-Nya atas kita, termasuk melalui jalan penolakan dari sesama. Kiranya ‘sapaan gembala’ ini diterima oleh para pembaca, jika ditolak pun tak mengapa, itu sudah biasa.

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top