Mengenal Alkitab

Rahasia Kehidupan Keluarga Bahagia

Penulis : Pdt Nikodemus rindin | Fri, 29 March 2019 - 10:14 | Dilihat : 192
Tags : Bahagia Keluarga Nikodemus Rindin Rahasia Keluarga

Paulus menuliskan di dalam Efesus 5:31-33 tentang suatu kehidupan yang patut di jalankan dalam aturan berumah tangga. Mengapa perlu? Sebab banyak orang yang berumah tangga tidak memahami suatu aturan teknis yang mesti dimainkan. Laki-laki dituntut untuk meninggalkan ayah dan ibunya untuk bersatu dengan istrinya sehingga keduanya terikat dalam persekutuan rumah tangga. Membangun rumah tangga butuh peran kuat dari seorang laki-laki yang mengepalainya. Ia harus berdiri dikaki sendiri sebagai pemimpin dan tak boleh lagi bersifat kekanak-kanakan lalu merengek dan bergantung pada kedua orang tuanya. Berapa pun hebat kekayaan orang tua dan banyaknya harta mereka, maka sang laki-laki harus bisa memimpin keluarganya sendiri. Memimpin anak dan istrinya dalam kehendak Tuhan. Tidak boleh sekedar menikah dan sekedar ada keluarga. Tanggungjawab yang diemban oleh seorang pria begitu penting dan penuh. Itu sebab ketika laki-laki mau menikah maka ia harus siap berjuang, siap membanting tulang dan siap menjadi teladan bagi keluarganya sepenuhnya.

Mengapa kini idealisme seperti di atas sudah memudar? Sebab kebanyakan dari kita sudah tidak lagi memperhatikan ketentuan yang ditulis dalam firman Tuhan. Paulus berkata bahwa rahasia ini besar. Mengapa besar? Karena di sana terkadung rahasia hubungan Kristus dengan Jemaatnya. Apa yang dimaksudkan hubungan Kristus dengan Jemaat? Di sana Paulus ingin menyadarkan kita para pria agar tahu penuh bahwa kebergantungan hidup keluarga bukan pada orang tua, bukan pada harta dan warisan yang ada tetapi murni bergantung pada Dia yang menciptakan kita dan menjadikan kita. Bila pria sudah tidak lagi bergantung pada Tuhan maka ia pasti kehilangan arah dan tujuan dalam keluarganya. Ia akan terjebak dalam sirkulasi kehidupan dunia ini. Ia akan hidup dalam rutinistas dan tanpa hidup dalam spiritualitas. Sama seperti gereja, bila ia sudah tidak lagi bergantung pada Tuhan maka Firman yang disampaikan, pujian yang dinaikan dan pelayanan yang dijalankan hanya sekedar rutinias yang tidak mencapai titik puncaknya yaitu spiritualitas. Relasi keintiman dengan Tuhan yang hidup itu harus menjadi utama dan segalanya dalam keluarga. Tak ada yang boleh mengganggu hubungan mereka dengan Tuhannya dan membawa mereka keluar dari sana.

Kalau cinta Tuhan ada di dalam hati maka kebergantungan hidup pada-Nya pasti tak sulit untuk dijalani. Apalagi cinta pada pasangan, terutama pada istri menjadi tak sulit untuk dihidupi. Mengapa banyak pria pada akhirnya tak lagi mencintai istri? Karena takut dan cintanya pada Tuhan sudah tidak ada dalam hatinya. Lalu ia kemudian keluar mencari kesenangan yang memuaskan diri, entah dengan merokok, berjudi, selingkuh dan sibuk mencari uang tanpa mempeduliakan nasib anak dan istrinya. Harta, tahta dan wanita biasanya bisa menjadi jebakan untuk dinginnya hubungan di dalam keluarga. Kemarahan, pertikaian dan kekerasan bisa ikut untuk menambahinya. Hanya satu cara untuk mengubahnya menjadi api cinta membara yaitu dengan mengisinya dengan cinta surga. Kasih kepada diri harus menjadi motivasi mengasihi istri sebab ketika seorang sudah menikah maka sebetulnya ketika dia mengasihi istrinya maka dia sedang mengasihi dirinya. Sama seperti istri ketika dia sedang menghormati suaminya maka dia sedang menghormati dirinya sendiri. Ketika kasih dan penghormatan hilang dari sana maka tawa bisa berubah menjadi air mata, bahagia bisa menjadi duka. Karena itu mengasihi adalah suatu kebutuhan dalam keluarga dan penghormatan adalah kekuatan dalam hubungan bagi kedua insan. Jalani dan hidup, maka engkau akan berbahagia.

Lihat juga

Komentar


Group

Top