Tokoh

Kenneth Lee Pike

Penulis : Pdt Netsen | Fri, 12 April 2019 - 11:21 | Dilihat : 36
Tags : Berhati Misi Kenneth Kenneth Lee Pike Lee Pike Netsen

Kenneth Lee Pike

Seorang Linguis Berhati Misi

Kenneth Lee Pike lahir pada tanggal 9 Juni 1919 di East Woodstock, Connecticut sebagai anak ketujuh dari delapan bersaudara. Ayahnya memang berprofesi sebagai dokter, namun hidup keluarga mereka bukan tanpa kekurangan. Kehidupan orangtua Pike tidaklah senyaman bayangan orang kebanyakan. Kedua orangtuanya hampir tidak bisa menopang delapan anak mereka. Namun kedua orangtua mereka adalah orang yang hidup dalam takut akan Tuhan. Sehingga Pike bersaudara tumbuh dalam sebuah keluarga Kristen yang sangat tekun. Kedua orang tuanya sangat memegang komitmen kristiani mereka. Hal ini ditandai dengan kebiasaan untuk berdoa dan memuji Tuhan di rumah yang disesaki oleh sepuluh penghuni tersebut. Binaan dari orang tuanya yang sedemikian inilah yang secara perlahan, namun pasti, mengarahkan Pike untuk setia dalam imannya kepada Kristus.

Jikalau orang melihat sosok Pike di masa kecilnya maka siapa yang menyangka bahwa seorang yang tidak menarik dalam tampilan secara fisik, kurus, tinggi, seorang yang canggung, gugupan dan sakit-sakitan, yang kemudian memberi dampak yang besar bagi dunia. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Woodstock Academy, anak dari pasangan Ernest Reginald Pike dan May Granniss Pike melanjutkan studinya ke Gordon College of Mission and Theology di Boston, Massachussetts. Di bawah pengajaran Prof. Merril Tenney ia mempelajari bahasa Yunani Perjanjian Baru. Pike memiliki panggilan yang kuat. Keinginan kuatnya di dunia misi diwujudkannya dengan melamar ke salah satu organisasi misi, China Inland Mission (CIM). Dorongan untuk melamar ke CIM ini tidak lepas dari pengalamannya setelah membaca buku biografi Hudson Taylor, pendiri CIM, yang ia temukan di salah satu rak buku ayahnya. Kesempatan bertemu anak perempuan dan menantu Hudson Taylor semakin meyakinkan dirinya bahwa Allah ingin ia menjadi misionaris ke Tiongkok.Pada 25 Desember 1932, Pike mengirimkan lamarannya. Mulanya ia diterima sebagai salah satu kandidat. Namun, kemudian ia harus berhadapan dengan kenyataan yang menyakitkan. CIM menolaknya.

Alasan penolakan tersebut kemudian disadari sendiri oleh Pike. Ia melihat empat alasan yang menyebabkannya. Ia berpikir bahwa dorongannya untuk pergi ke Tiongkok adalah dari Tuhan, bukan dari dirinya sendiri. Alasan kedua, ia tidak memerhatikan kelemahan psikis yang ia warisi dari ayahnya. Selain itu, masa mudanya saat itu juga membuatnya tidak memperhitungkan faktor-faktor sosial, seperti sifat gugup yang dapat menghalangi pelayanannya. Hal keempat ialah kesulitannya untuk membedakan bunyi yang dibedakan hanya dari ada tidaknya hembusan napas, yang sudah tentu akan menghalanginya untuk berkomunikasi dengan masyarakat Tiongkok.

Apakah kegagal Pike bergabung dengan CIM membuat dia kecewa dan mengabaikan studinya? Tentu tidak. Pike tetap melanjutkan studinya di Gordon College dan berhasil lulus dengan predikat terhormat. Setelah kelulusannya itu, pada tahun 1937 Pike masih menempuh studi yang lebih mendalam lagi di tempat yang sama, yaitu di di University of Michigan selama setahun untuk mempelajari bidang linguistik. Dan ini semua atas dorongan Townsend. Di sini ia dibimbing oleh Edward Sapir yang telah lebih dahulu melakukan kontak dengan suku-suku Indian. Sapir menunjukkan bagaimana ia menganalisis nada-nada dalam bahasa suku Navaho dengan meneliti kata-kata, membedakannya berdasarkan pola titinada yang muncul bersamaan dalam konteks yang sama. Hal ini jelas sangat membantu Pike di kemudian hari.

Semangat dan panggilan misi dalam hati Pike belum padam, walau sudah pernah di tolak oleh CIM. Setelah setahun bekerja bersama Citizen`s Workers Administration (CWA), ia mulai menulis kepada pengurus organisasi misi lain, mencari tahu apakah ada pelatihan bagi linguis dan penerjemah Alkitab yang mereka selenggarakan. Dari semua dewan pimpinan organisasi misi yang ia kirimi lamaran, hanya Pioneer Mission Agency kemudian menjadi Wycliffe Bible Translation (WBT) yang membalas suratnya. Meski demikian, keadaan Pike sempat memberi kesan meragukan, sampai Cam Townsend melihat dan meyakini potensi besar dalam diri Pike.

Pada tahun 1935 Pike mengikuti sesi kedua Camp Wycliffe. Dan pada tahun yang sama, untuk pertama kalinya ia mengunjungi perkampungan Mixtec di Meksiko. Dan sejak itu, pelayanannya dalam dunia misi lewat ilmu linguistik pun dimulai. Bahkan dari penelitiannya terhadap bahasa Mixtec inilah lahir bukunya, "Tone Languages: The Nature of Tonemic Systems".

Mempelajari linguistic, apalagi bahasa bernada, memang tidaklah mudah. Sangat rumit, sehingga tidak heran kalau banyak orang yang frustasi dan menyerah. Namun tidak demikian bagi Pike. Ia sangat mencintai kerumitan tersebut dan baginya itu sangat menantang, ia dapat mengatasi dan menaklukan kesulitan, mengapa? Karena ada kesungguhan, ketekunan yang kemudian membuat Pike menjadi seorang yang cerdas. Pike menyebukan bahwa bahasa dapat dilihat secara dinamis ("wave") dan sebagai antarhubungan dari satuan-satuan dalam sebuah sistem ("field"). Menurutnya "Bahasa bukan sekadar rangkaian suara, klausa, aturan, dan makna yang tidak beraturan; kesemuanya itu merupakan kesatuan sistem yang koheren, yang terintegrasi satu dengan lainnya, bersama-sama dengan perilaku, konteks, wacana universal, dan perspektif peneliti-peneliti,"

Pengetahuan dan kecerdasan Pike dalam bidang linguistik jelas sangat menolong penerjemahan Alkitab. Salah satu buah pelayanannya terwujud pada tahun 1947, ketika draf pertama dari Perjanjian Baru bahasa Mixtec selesai. Selain itu masih banyak karya yang Pike hasilkan, seperti menjadi tutor, ia dipercaya untuk memberi kuliah di bidang sastra. Bicara penghargaan tentu banyak yang Pike telah dapatkan. Jiwa dan kecintaan dan kemahirannya pada bidang linguistic bukan instan ia dapatkan. Perlu proses waktu yang panjang. Itu sudah ia bangun sejak masa mudanya. Saat mengalami patah kaki pada 1936, ia memanfaatkan waktu perawatannya untuk menulis buku mengenai fonetik. Demikian pula ketika ia harus kembali ke rumah sakit pada Desember 2000, secara ekstensif ia tetap berkorespondensi, sampai akhirnya Tuhan memanggilnya pulang pada 31 Desember di tahun yang sama. Sehingga tidak heran jiwa linguistiknya tertancap dalam hatinya hingga akhir hidupnya.

Bagaimana Pike melihat seluruh perjalanan kehidupannya, sebagai seorang percaya apa yang ia katakan "Ketika saya mematuhi kebenaran, saya tidak mematuhi suatu prinsip yang abstrak; saya mematuhi perintah Allah," Imannya sebagai seorang Kristen tergambar indah dalam untaian puisi-puisinya. Sesungguhnya hidup yang mematuhi kebenaran Allah pasti akan memberikan dampak dan pengaruh yang benar dan berguna bagi sesama. Jangan pernah frustasi dan kecewa dengan kekurang yang ada pada diri kita, teruslah berjuang dalam iman dan biarlah Tuhan yang akan mengukir hidup ini seturut kehendak dan rencana-Nya. Amin (netsen dbs)

Lihat juga

Komentar


Group

Top