Sapaan Gembala

Tenang Di Tengah Badai

Penulis : Pdt Nikodemus rindin | Fri, 12 April 2019 - 11:24 | Dilihat : 188
Tags : Badai Nikodemus Rindin Tanang Di Tengah Badai

Realitas dalam hidup bisa bergeser, berubah, bergejolak, mengamuk dan bergoncang setiap saat. Menjadi Kristen tidak berarti bahwa everything is ok. Banyak sekali pengajaran yang membawa kita untuk keluar dari realitas kehidupan Kristen yang sebenarnya. Ada yang berkata kalau jadi Kristen, kamu sakit kemudian terima Yesus jadi sembuh. Miskin jadi kaya. Yang berhutang, hutangnya dilunasi. Banyak orang Kristen, termasuk Pendeta yang tidak bertanggungjawab hanya menyukai ayat-ayat Alkitab yang rasa cocok dengan seleranya, tanpa melihat keseluruhan bagian dari isi Alkitab sehingga terjadi kesalahan dan kesimpangsiuran bahkan penyelewengan ayat yang dibicarakan. Ada yang sesuka hati mengutip ayat hanya untuk selogan saja tanpa berani menaruh diri pada ayat yang dia katakan. Sehingga seringkali antara ayat yang diucapkan dan kehidupan yang dia jalani tidak cocok bahkan bertabrakan tidak karuan. Harusnya menjadi Kristen itu elegan bila engkau tahu kenapa engkau percaya kepada Tuhan yang hidup itu.

Kita lihat saja apa yang dibicarakan oleh Matius dalam Matius 8:23-27. Di sana ada orang-orang yang beriman, yang kita sebut sebagai murid-murid Tuhan yang setiap hari hidup bersama-Nya dan mendengarkan pengajaran-Nya. Toh realitas menunjukan bahwa mereka tidak lepas yang nama badai dan persoalan hidup. Tetapi yang menarik adalah yang membedakan mereka dengan orang yang tidak percaya adalah mereka tahu bersikap dan menyandarkan hidup pada Dia. Ketika segala daya upaya manusia, dan ketidakmampuan manusia untuk bertidak mengatasi badai maka mereka tidak serta merta menyerah dan kalah. Mereka masih memiliki sandaran untuk berpegang, yaitu Yesus yang bersama dengan mereka. Ketika badai menghantam kehidupan mereka maka mereka memang panik tetapi kepanikan mereka ada naluriah manusia yang memang rasa diambang kebinasaan. Tetapi menarik perkataan mereka, “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ada hal-hal yang memang manusia seringkali dalam titik genting baru berteriak kepada Tuhan. Masalah biasa seringkali dianggap tidak perlu melibatkan Tuhan di dalamnya. Manusia seringkali menganggap bahwa hidup tanpa masalah berarti “tanpa perlu teriak dan ingat Tuhan.” Tuhan hanya diingat bila masalah berat dan serius sekali, yaitu titik menjelang ajal atau titik menuju kematian. Sehingga tidak heran waktu sehat, kaya raya, hidup lancar dan memiliki jabatan tinggi, jalan hidup selalu limpah manusia melupakan Tuhan. Tetapi waktu kehidupan terpuruk, jalan buntu dan tidak ada kemungkinan lain maka manusia mulai menundukan diri pada Tuhan dan berkata, “Tuhan, aku nothing, Engkau everything dan aku memerlukan belaskasihanmu.” Dan itulah yang terjadi pada anak bungsu yang menghamburkan uangnya, melupakan ayahnya dan menikmati hidup semaunya karena dia rasa dialah segalanya. Tetapi waktu uangnya habis, maka hidupnya seperti seorang pengemis yang tidak berdaya, hanya memerlukan belaskasihan majikan dan ayahnya sehingga dia rela tidak dianggap sebagai anak lagi dan menjadi budak.

Perjalanan iman kita sebetulnya membentuk kita untuk memahami bukan sekedar siapa diri kita saja tetapi juga menuntut pemahaman yang benar dalam hidup ber-Tuhan. Kita dibawa untuk mengerti dia dan mengenal Dia dengan baik. Segala sesuatu terlalu mudah untuk Tuhan kerjakan, Dia berkata diam dan tenanglah maka semua bisa diam dan tenang. Hanya kitalah yang tidak mudah memahami cara kerja Tuhan. Itu sebab harus dimengerti baik-baik bahwa Tuhan tidak pernah bermasalah untuk membereskan segala persoalan hidup yang kita hadapi, dan kita seringkali bermasalah untuk mengerti kerja Tuhan yang di luar kemampuan kita untuk menjangkau dan memahaminya. Tidak heran kemudian murid-murid mulai berkata bahwa, “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya.” Mereka tidak pernah mengerti bahwa Yesus Kristus adalah penguasa alam semesta. Itu sebab menurut saya mengerti dan percaya Tuhan lebih penting dari segala urusan-urusan kehidupan kita yang lain. Karena disanalah letak fondasi iman Kristen yang sejati.

Lihat juga

Komentar


Group

Top